Berkurban: Meyembeli Sifat Kebinatangan untuk Perdamaian

Berkurban: Meyembeli Sifat Kebinatangan untuk Perdamaian

- in Suara Kita
132
1

Kurban merupakan bagian dari perayaan Idul Adha dengan cara menyembelih hewan. Secara hirtoris penyembelihan ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang ketaatannya diuji oleh Allah. Lewat mimpi, Allah memerintah Ibrahim agar menyembeli putra kesayangannya, Ismail, sebagai persembahan kepadanya-Nya. Perintah ini tanpa ragu-ragu dijalankan oleh Ibrahim. Akan tetapi, melihat keteguhan, keikhlasan, dan ketaatan Ibrahim, Allah lalu menggantikan Ismail dengan seekor domba.

Peristiwa bersejarah ini pun diabadikan Allah dan dijadikan sebagai ritual penting dalam ajaran Nabi Muhammad. Dalam al-Quran  disebutkan: Sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah… (QS. Al-Kausar: 1-2). Dalam hadis lain, Nabi bersabada: Barang siapa memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat salat kami (al-hadis).

Baca juga : Mengorbankan Egoisme, Meneguhkan Kepedulian Sosial

Kedua nash itu sudah cukup sebagai bukti, bahwa berkurban itu merupakan ritual yang sangat dianjurkan dalam Islam. Keurgenan ini dilihat dari dalil naqli, juga dari sejarah kurban sebagai bentuk kesalehan sosial sudah berabad-abad usianya. Lantas pertanyaan besarnya apakah kurban itu hanya sekadar penyembelihan hewan? Kemudian dagingnya dibagi-bagikan? Apakah hanya sebatas itu?

Dua Nafsu Kebinatangan

Berkurban tentu tidak berhenti hanya sebatas penyembelihan hewan. Penyembelihan hewan hanya sebatas sarana, tujuan akhirnya adalah menyembelih sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri kita. Al-Quran sudah mewanti-wanti, Allah tidak akan menerima daging-daging dan darah-darah hewan kurban mereka, akan tetapi yang Allah terima ketaqwaan dari kalian.

Dengan demikian, kurban yang sesungguhnya adalah menyembelih sifat kebinatangan yang selalu bersemayam dalam diri kita, anak, istri, dan juga famili kita. Penyembelihan hewan adalah simbolisasi penyembelihan jiwa hewani menuju jiwa kemanusian yang memberikan kedamaian hakiki dan sejehteraan umum dalam berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Al-Ghazali dalam kitabnya Kimiya’ al-Sa’adah (Kimia Kebahagian) menyebut, bahwa seseorang itu bisa mencapai puncak kebahagian ketika ia berhasil menundukkan dua nafsu kebinatangan, yaitu nafsu bahimiyah (jinak) dan nafsu subu’iyah (buas).

Nafsu bahimiyah merupakan nafsu jiwa binatang jinak yang mendorong manusia untuk mengambil apa saja yang menyenangkan dirinya. Nafsu syahwat, kesenangan sesaat, hedonistik, dan kenikmatan biologis merupakan bagian dari nafsu ini. Nafsu ini selalu menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta dan kekuasan yang digunakan untuk memperoleh kenimatan materialistik. Menurut al-Gazali, nafsu ini sama seperti sifat binatang jinak, sekalipun dipenuhi terus-menerus ia tidak akan pernah puas.

Nafsu subu’iyah adalah nafsu binatang buas. Laik binatang buas, nafsu ini ingin selalu memangsa siapun yang di dekatnya. Ia selalu berjaga-jaga agar terhindar dari segala bahaya. Bagi nafsu ini tidak ada aturan, yang ada hanya kemauan dan kesewenang-wenangannya. Tidak ada kawan, adanya adalah lawan yang mau diterkamnya sewaktu-waktu. Tawuran, sikap brutal, mau menang sendiri, tidak memperdulikan orang lain, intoleransi, aksi terorisme, hoax, dan ujaran kebencian berasal dari nafsu ini.

Menuju Perdamaian

Hakikat berkurban adalah menyembeli dua nafsu ini. Bila ditelusuri lebih lanjut, banyaknya hoax, ujaran kebencian, aksi terorisme, perusakan lingkungan, korupsi, dan segala jenis kejahatan lainnya bersumber dari dua nafsu ini. Nafsu ini selalu menyertai manusia, yang jika tidak dihentikan secara paksa, maka ia akan terus menerus mendikte manusia.

Quraish Sihab mengibaratkan kedua nafsu ini laiknya bayi yang menyusui kepada ibunya, jika tidak dihentikan bayi itu akan ketagihan dan menyusu terus-menerus tanpa henti. Paksaan untuk berhenti menyusu akan berakibat menangisnya si bayi, tetapi itu hanya sementara, untuk selanjutnya si bayi akan diam lalu tertidur.

Hal yang sama juga pada nafsu kedua nafsu ini, ia tidak akan berhenti jika tidak ada paksaan yang terus menerus dilakukan oleh manusia. Perlawanan harus dilakukan setiap saat. Awalnya memang berat, akan tetapi kalau sudah terbiasa kita yang akan menyetir nafsu kita sendiri, bukan sebaliknya, nafsu  yang menyetir kita.

Berkurban adalah salah satu paksaan terhadap diri manusia agar menyembeli nafsu kebinatangan itu. Paksaan ini disimbolkan dengan hewan. Hanya dengan menyembeli sumber kejahatan yang bisa melahirkan kebaikan; hanya dengan cara membuang kotoran yang bisa menimbulkan kesucian; hanya dengan menyingkirkan sikap radikal dan terror yang bisa membuahkan perdamaian. Berkurban adalah salah satu jalan yang tepat. Sembelilah sikap arogan, mau menang sendiri, intoleransi, dan virus radikalisme itu, niscaya kedamian dan keharmonisan  akan terwujud. Mari menyembeli kedua sifat kebinatangan kita, agar kedamaian segera terwujud. Semoga!

Facebook Comments