Berpuasa di Era 4.0: Jihad Melawan Nafsu dan Proxy War

Berpuasa di Era 4.0: Jihad Melawan Nafsu dan Proxy War

- in Suara Kita
152
0
Berpuasa di Era 4.0: Jihad Melawan Nafsu dan Proxy War

Di era digital, strategi proxy war untuk mengadu domba yang bermuatan ujaran kebencian, merupakan jurus ampuh yang dilancarkan untuk mengoyak perdamaian. Jika Ramadhan di era pra digital native kita hanya harus mengontrol ujaran lisan, maka Ramadhan kali ini kita sudah harus mulai mengontrol dua tangan yang menyentuh tuts di ponsel atau piranti digital lainnya. Puasa di era revolusi industry 4.0, tak hanya menahan kesabaran dalam ujaran, namun juga ‘puasa’ ketika bersosial media. Jangan sampai, puasa kita ‘rusak’ karena ujaran kebencian yang terlontar di dunia maya.

Pertanyaan repetitif yang seringkali terlontar pada bulan Ramadhan adalah, apakah puasa dapat menjadi momentum pembiasaan? Dalam perspektif behavioral, perilaku dapat dibentuk oleh kebiasaan. Suatu kebiasaan yang dilakukan secara berulang, dan mendapat respon yang menyenangkan, maka akan cenderung menghasilkan perilaku yang berulang.

Tak ayal, ada sejumlah kebiasaan yang disinyalir mampu mengubah karakter bahkan sifat seseorang. Kebiasaan membaca Al Quran  misalnya, dapat membangun karakter-karakter ruhani yang khusus dan spesial. Demkian pula puasa, jika dilakukan secara konsisten, maka akan menghasilkan shiyamul qalb.

Baca juga : Ramadhan, Jihad Melawan Hate Speech

Pribadi yang berpuasa akan mewujud dalam sikap yang hati-hati dalam melangkah. Sehingga, ia tidak akan tergesa untuk menarik kesimpulan, dan juga tidak membabi-buta meng-share informasi yang belum tentu status validnya. Kehati-hatian dalam memilih dan memanfaatkan informasi merupakan salah satu aspek dalam literasi media di era kekinian. Dengan sikap yang hati-hati, kita diharapkan

Sudah jamak kita ketahui bahwa jihad yang paling utama, bukanlah berperang, namun jihad melawan hawa nafsu. Kemenangan diri tegak ketika seseorang mampu mengalahkan hawa nafsu dan menjadi pribadi yang bertaqwa. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah puasa yang kita lakukan efektif sebagai sarana pembiasan jihad melawan hawa nafsu dan proxy war?

Dalam paradigma psikologi pelatihan, suatu perilaku akan dapat dimodifikasi (misal: yang tadinya kasar menjadi lembut) ketika ada faktor internal dan eksternal yang mendorong perubahan terjadi. Faktor internal yang dapat mendorong agar perubahan perilaku terjadi adalah motivasi diri. Motivasi dalam diri yang positif dan tersematkan niat untuk menjadi  pribadi yang lebih damai akan menggerakkan seseorang untuk menjadikan Ramadhan menjadi bulan perubahan. Selain itu, self control juga merupakan faktor penentu kuat yang akan mempengaruhi olah jiwa di bulan puasa.

Agar puasa dapat melatih upaya untuk kontrol diri, baik di dunia maya atau nyata, ada baiknya kita berazam dan menjaga puasa dengan baik-baiknya. Dengan meningkatkan empati, kita akan memiliki kontrol diri yang lebih baik. Harapannya, kita akan menghindari ujaran kebencian, dan tidak mudah terhasut oleh kabar yang menyesatkan.

 

Kemampuan kita menahan amarah, sebenarnya dipengaruhi oleh kemampuan seseorang menyaring informasi yang tepat. Sifat mudah marah, kebiasaan menyalahkan, dan sikap yang anti perdamaian, hakikatnya bersumber pada informasi yang salah, informasi yang tidak tepat, dan juga ketergesaan dalam bersikap. Di dunia maya, permasalahan salah paham sering terjadi. Sebabnya sepele, yaitu ketergesaan dalam menyerap dan menggunakan berita (palsu) tanpa pertimbangan.

Bulan Ramadhan, mestinya tidak kita lewatkan tanpa makna. Ramadhan mestinya menjadi salah satu kesempatan untuk berbenah. Ramadhan seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk kita lebih bisa mengontrol diri, baik di dunia maya atau nyata. Ramadhan, harusnya mampu membekaskan shiyamul qalb dalam diri kita. Jika sudah tergapai shiyamul qalb, maka kita akan lebih damai dalam menghadapi berbagai kabar dan situasi dengan lebih bijak. Mari, jadikan Ramadhan membentuk karakter khusus dalam diri yang semoga meluas pada keluarga, masyarakat, dan umat.

 

Wallahu’alam.

Facebook Comments