Bertoleransilah Terhadap Umat Agama Lain! Inilah Ayat-ayatnya

Bertoleransilah Terhadap Umat Agama Lain! Inilah Ayat-ayatnya

- in Suara Kita
740
6
Bertoleransilah Terhadap Umat Agama Lain! Inilah Ayat-ayatnya

Kita paham bahwa kemajemukan di negeriini merupakan suatu keniscayaan. Oleh karenanya, toleransi adalah sesuatu hal yang penting. Seperti menjelang Natal dan Tahun Baru ini yang kerap kali disesaki oleh narasi intoleran. Padahal sebagai saudara sebangsa dan setanah air kita wajib mengukuhkan kerukunan antar umat beragama.

Mengingat toleransi ini bertalian erat dengan kerukunan di tengah kemajemukan tersebut. Misalnya dalam hal perbedaan keyakinan agama. Toleransi dan kerukunan antarumat beragama adalah dua bentuk yang tak terpisahkan satu sama lain. Kerukunan berdampak pada toleransi. Sebaliknya toleransi menghasilkan kerukunan. Artinya, apabila toleransi antar umat beragama dapat terjalin dengan baik dan benar, otomatis akan menciptakan masyarakat yang rukun dan damai.

Dalam Islam, toleransi lazim disebut al-tasamuh. Dan toleransi ini merupakan sikap mutlak yang harus dimiliki oleh muslim sejati. Meski istilah ini tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Tetapi, dapat dijumpai pada sebuah hadis inni ursiltu bi al hanifiyyat al samhat. Nabi Muhammad SAW bersabda, beliau diutus Allah untuk membumikan toleransi. Apabila kita telaah seksama, pemahaman terkait toleransi ini tidaklah berdiri sendiri. Melainkan berkaitan erat dengan suatu realitas lain fenomena dalam kehidupan masyarakat. Artinya, hakikat dari toleransi ini tak ada artinya tanpa juga memahami realitas dalam kehidupan masyarakat, yakni keberagaman.

Toleransi dalam Islam seperti dijelaskan Al-Qur’an tidak hanya mengharapkan, tetapi juga menerima kenyataan perbedaan dan keragaman dalam masyarakat. Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT Q.S. Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Pada ayat tersebut menunjukkan adanya ketaatan manusia yang esensial dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang memisahkan antara golongan yang satu dengan lainnya. Sekelompok manusia dijadikan berbangsa-bangsa yang beragam untuk saling mengenal satu sama lain.

Sementara itu ayat-ayat yang berkaitan dengan toleransi beragama di antaranya tertuang pada Q.S. Al-Kafirun. Surat ini sangat familiar mengingat kandungannya mengajarkan kita untuk bertoleransi antar umat beragama. Dalam surat tersebut, umat Islam diperintahkan untuk menghormati penganut agama lain. Seperti dalam potongan akhir ayat surat tersebut atau ayat keenam yang artinya, “Untukmu agamamu dan untukku agama ku“.

Ayat toleransi antar umat beragama selanjutnya tersirat pada Q.S Al-Baqarah Ayat 256, yang artinya “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Selanjutnya juga toleransi antar umat beragama termaktub dalam Q.S. Yunus Ayat 99, yang artinya “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”

Kemudian sebagaimana disebutkan oleh Abdullah (2001) bahwa di dalam memaknai toleransi ini terdapat dua penafsiran terkait konsep tersebut. Pertama, penafsiran negatif yang menyatakan bahwa toleransi itu cukup mensyaratkan adanya sikap membiarkan dan tidak menyakiti orang atau kelompok lain baik yang berbeda maupun yang sama. Sementara itu, yang kedua adalah penafsiran positif yaitu menyatakan bahwa toleransi tidak hanya sekedar seperti pertama (penafsiran negatif) tetapi harus adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang lain atau kelompok lainnya.

Kaitannya dengan kemajemukan di tengah masyarakat, Al-Quran menggelari umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (umat pertengahan/moderat). Menurut Quraish Shihab, kata al-wasat sendiri pada awalnya berarti segala yang baik sesuai dengan objeknya. Sementara itu, sesuatu yang baik biasanya selalu berada diantara dua posisi ekstrim (Arifin, 2016).

Oleh karenanya mengingat begitu pentingnya toleransi di negeri bhinneka ini, sudah saatnya kita terus mengamalkannya dalam kehidupan berkebangsaan. Termasuk menjelang Natal dan Tahun Baru ini. Seorang muslim sejati wajib bersikap toleran terhadap keberagaman Indonesia. Ibarat sebuah pondasi toleransi harus kita bangun dengan kokoh di negeri ini, supaya bangunan kerukunan antar umat beragama selalu kokoh. Mari kita senantiasa mengukuhkan toleransi sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW.

Facebook Comments