Birahi Kebencian dalam Sudut Pandang Agama Islam

Birahi Kebencian dalam Sudut Pandang Agama Islam

- in Suara Kita
100
0

Berhati-hati berbicara, menulis dan berkomentar tentang sesuatu yang mengandung unsur kebencian, sara, ras dan golongan merupakan keniscayaan umat beragama,  terutama dalam agama Islam. Terdapat banyak ayat-ayat al Qur’an maupun hadis yang secara tegas melarang menumpahkan birahi kebencian yang berbentuk penghinaan, penistaan, pencemaran nama baik, menghasut, memprovokasi dan penyebaran berita bohong.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (al Hujurat: 11).

Dalam alam demokrasi, ayat ini memberikan pelajaran kedewasaan dan  kematangan masyarakat dalam berdemokrasi. Bahwa kebebasan berpendapat adalah sah-sah saja senyampang tidak tidak melewati batas larangan syariat Islam. Artinya, kebebasan berbicara, berpendapat dan mengungkapkan isi hati bukan berarti sebebas-bebasnya dan tanpa batas. Agama Islam menegaskan batas-batas rambu-rambu kebebasan bersuara; tidak boleh menghina, memprovokasi, mencaci, memfitnah semua akhlak tercela yang lain.

Etika kehidupan berdemokrasi sangat penting diperhatikan supaya nilai-nilai demokrasi tumbuh dengan baik. Etika  dalam ruang publik, dalam agama Islam, sebenarnya telah digariskan secara tegas, seperti toleransi, saling menghargai dan saling menghormati hak masing-masing individu. Disinilah garis batas kebebasan yang diajarkan Islam. Ajaran Islam menghendaki untuk mengedepankan kepentingan bersama dari kepentingan pribadi atau golongan. Tidak arogan dengan memandang rendah individu atau kelompok lain. Sopan dalam kata-kata, perilaku dan tindakan.

Fitnah atau ujaran kebencian sangat dilarang dalam agama Islam karena dampaknya sangat buruk sekali. Akan berakibat munculnya tindakan diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan lebih parah lagi akan menciptakan konflik sosial. Hilangnya keharmonisan antar suku, agama, aliran kepercayaan, ras, warna kulit, etnis dan golongan. Dan, yang jelas ujaran kebencian yang kerap terjadi di media sosial berupa tulisan dan komentar akan dimintai pertanggungjawaban. Siksa pedih adalah balasannya.

“Pada hari ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Yaasin: 65).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini turun sebagai penegasan bahwa kelak di hari kiamat orang-orang kafir dan orang-orang munafik akan berkilah tidak mengakui perbuatan jahat yang mereka lakukan di dunia. Karena itu, Allah kemudian menutup atau mengunci mulut mereka, kemudian hanya anggota badan mereka yang berbicara sesuai dengan apa yang dilakukan sewaktu di dunia.

Ujaran kebencian termasuk salah satu perbuatan yang pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. Sebab ujaran kebencian (fitnah) merupakan dosa besar melebihi pembunuhan. Perilaku yang tergolong akhlak buruk ini berakibat sangat fatal terhadap relasi kehidupan masyarakatnya. Berawal dari ujaran kebencian terjadi pemutusan tali silaturahmi, permusuhan, dan penghilangan nyawa. Tidak hanya satu orang korbannya. Bisa lebih, karena memantik pertikaian antar agama, suku dan kelompok.

Karenanya, supaya tidak terjebak menjadi korban ujaran kebencian penting untuk selalu mengingat firman Tuhan, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. (al Rahman: 60). Pada ayat yang lain, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (al Hujurat: 6).

Melalui dua ayat ini, Tuhan mengajarkan kita supaya menjadi pribadi yang matang dalam relasi kehidupan. Tidak selalu ingin benar sendiri dan tidak memperturutkan birahi kebencian. Kita diajarkan etika dan kedewasaan dalam berbicara, bertindak dan berperilaku.

Dalam ruang publik, kebebasan beropini dan berpendapat dibatasi supaya jangan sampai menimbulkan kebencian, kegelisahan, apalagi konflik sosial. Ujaran kebencian harus dihindari jauh-jauh supaya tidak menciptakan kerentanan konflik. Media sosial semestinya dipergunakan untuk kegiatan yang positif dan dan bermanfaat. Jangan sampai media sosial menjadi ladang persemaian ujaran kebencian. Karena disamping dilarang oleh agama juga hanya merugikan pihak lain.

Facebook Comments