BJ Habibie: Intelektual Sejati Penuh Cinta dan Toleransi

BJ Habibie: Intelektual Sejati Penuh Cinta dan Toleransi

- in Suara Kita
650
0
BJ Habibie: Intelektual Sejati Penuh Cinta dan Toleransi

Hari ini, bangsa Indonesia kehilangan salah satu  putra terbaiknya, Presiden ke-3 Republik Indonesian, Bacharuddin Jusuf Habibie. Sosok yang sangat inspiratif, cerdas, dan menjadi idola anak bangsa. Beliau adalah kombinasi manusia yang lengkap: nasionalis, agamis, dan akademis. Perpaduan ketiga komponen ini menyebabkan ia diterima oleh hampir semua lapisan masyarakat dan kepergiannya merupakan kehilangan yang mendalam bagi semua.

Ketika disebut nama Habibie, setiap orang biasanya akan teringat dengan pesawat terbang. Sebab, di tangan beliaulah, Indonesia bisa menciptakan dan memproduksi pesawat terbang sendiri. Berkat kejeniusan plus ketekunan, Habibie menjelma menjadi rujukan para ilmuwan muda. Memang bukan rahasia umum lagi, kepakaran beliau sudah diakui oleh dunia internasional. Karya dan hak paten-nya dalam bidang penerbangan diakui, diapresiasi, dan mendapat penghargaan dunia.

Sebagai intelektual sejatinya, nilai-nilai keimanan dan ketakwaan sebagai basis dalam kehidupan berbangsa sangat beliau tekankan. Baginya, ilmu dan kepintaran saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi spiritualitas. Kombinasi ilmu dan iman adalah pra-syarat terciptanya kehidupan yang ideal.

Dalam beberapa kesempatan, pria kelahiran Pareper ini, selalu menyatakan: Jadilah anak muda yang produktif, sehingga menjadi pribadi profesional dengan tidak melupakan dua hal, yaitu iman dan takwa.” Baginya iman, tidak membuat seseorang menjadi kaku, tidak disiplin, tertutup, dan jauh dari keadaban. Justru sebaliknya, iman dan takwa adalah basis yang membuat seseorang lebih maju dan lebih berkeadaban.

Baca Juga : Jadilah Intelektual yang Agamis Tanpa Mengkafirkan Sesama

Tidak berhenti di sini, nilai-nilai nasionalis sosok yang sederhana ini, terlihat ketika ada tawaran kewarganegaraan dari Jerman. Tetapi dengan keras, beliau menolak itu. Negara mana yang tidak kepincut dengan beliau, pintar, sederhana, visioner, mudah bergaul –waktu di Jerman punya jabatan prestisius, akan tetapi ketika ada tawaran agar menjadi warga negara lain, beliau langsung menolak. Dengan hati yang kuat. Beliau pulang ke tanah air dan memutuskan berbakti kepada ibu pertiwi.

Cinta dan Kecerdasan

Kombinasi yang lengkap antara nasionalis, agamis, dan akademis bisa kuat dan sempurna sebab diikat oleh cinta. Dengan cinta, semua kepakarannya dalam bidang dirgantara selalu beliau peruntukan untuk Indonesia. Dengan cinta, agama yang beliau peluk, selalu melihat orang lain dengan kaca mata kasih sayang. Itulah sebabnya, hampir semua level usia, bisa masuk dengan Habibie. Tua, muda; laki, perempuan; pejabat atau rakyat biasa; semuanya bisa bergaul dengan beliau. Dengan cinta pula, Indonesia sebagai tempat beliau lahir, selalu ada keinginan untuk memajukannya.

“Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Tanpa kecerdasan cinta itu tidak cukup.” Pernyataan ini sangat populer di kalangan masyarakat, terkhusus bagi kalangan millenial. Dalam kehidupan beliau, ada dua kunci hidup, yakni cinta dan kecerdasan.

Di tengah kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara ini, dua kata kunci tersebut bak oase di tengah pada pasir. Kita harus mengedepankan kedua hal itu dalam menghadapi apapun, terlebih-lebih dalam beragama dan bernegara.

Dalam konteks beragama, bukan rahasia umum lagi, bahwa ada virus yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita, yakni virus radikalisme dan segala turunannya. Sikap saling menyalahkan, mengafir-sesatkan, mencaci-maki, membanjiri dinding-dinding kehidupan kita.

Media sosial bukan menjadi media mempererat rasa sosial masyarakat, malah menjadi media polarisasi, adu kekuatan, dan tempat bersemainya ujaran kebencian.

Apa yang salah dalam kehidupan beragama kita? Jawabannya adalah hilangnya cinta dan kecerdasan. Kita tidak terbiasa kritis dalam kehidupan beragama. Sekalipun kritis, tetapi itu tidak dibarengi dengan rasa cinta, akibatnya jadi hampa, bahkan dianggap pihak lain sebagai upaya menjelek-jelekkan. Mengungkapkan kebenaran tanpa melalui jalan cinta akan ditolak pihak lain.

Habibie sudah mewanti-wanti, kita anak bangsa, harus menggabungkan kedua hal di atas. Penggabungan itu akan menjadikan kita menjadi manusia-manusia yang terbuka, progresif, toleran, dan bisa akomodatif terhadap siapa dan apapun.

Di tengah deras gelombang takfirisme, yang menegasikan pihak lain yang berbeda dengannya, cita dan kecerdasan bisa mejadi senjata ampuh untuk melawan dan melindungi generasi kita dari segala virus yang anti terhadap kebhinekaan dan perdamaian.

Cinta adalah kata yang abadi, ia tidak akan termakan oleh ruang dan waktu. Ia selau bisa diterima dan menerima siapapun dan apapun. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari sosok Habibie. Kedua kunci hidup ini tidak sekadar beliau ucapkan, melainkan selalu beliau praktikkan.

Kini sang guru bangsa ini sudah pergi menghadap kekasihnya. Adalah tugas anak bangsa untuk mengikuti jejak-jejaknya. Selamat jalan Pak Habibie. Engkau telah meninggalkan harta yang paling berharga bagi kami, yaitu dua kunci kehidupan. Engkau telah mengajari kami bagaimana hidup dan mati yang baik dan diimpikan semua orang. Selamat jalan bapak bangsa. Semoga kami bisa mengikuti jejak-jejek cinta dan kecerdasanmu.

Facebook Comments