BNPT: Menyelamatkan Generasi Bangsa dari Virus Intoleransi

BNPT: Menyelamatkan Generasi Bangsa dari Virus Intoleransi

- in Suara Kita
353
0
BNPT: Menyelamatkan Generasi Bangsa dari Virus Intoleransi

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merayakan hari ulang tahun ke-12 pada tanggal 16 Juli 2022. Ulang tahun ini, mengangkat tema Gelorakan Sinergi Bangsa dalam Mencegah Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme Menuju Indonesia Harmon.

Tema ini dipilih sebagai wujud peningkatan kesadaran semua pihak bahwa terorisme adalah musuh bersama dan dalam menanggulanginya diperlukan sinergi multi pihak (pentahelix) oleh seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan Indonesia Harmoni. 

Lembaga yang didirikan Tahun 2010 ini telah melakukan implementasi UU no. 5 tahun 2018, PP 77 tahun 2019, dan Perpres no. 7 tahun 2021 tentang rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme (RAN PE).

Beberapa program yang telah berjalan diantaranya, Pelaksanaan RAN PE bersama sama dengan 48 kementerian/lembaga, pengembangan Kawasan Terpadu Nusantara ( KTN ), Warung NKRI, Pembentukan FKPT di 34 provinsi, serta koordinasi pelindungan WNI di luar negeri dari ancaman terorisme.

Mespadai Virus intoleran

Terorisme bukanlah merupakan hal yang baru di Indonesia. Sejarah mencatat sejak tahun 2000 hingga tahun 2010 Indonesia berulang kali mengahadapi kasus terorisme. Terorisme sejatinya merupakan sebuah ancaman dan dibutuhkan suatu aturan yang mengikat sebagai bukti konkret akan pergerakan pemerintah sebagai upaya dalam melawan terorisme.

Sebuah survei yang dilakukan oleh CSIS (2017) bahwa kaum muda adalah penikmat media sosial yang sangat tinggi (87 %) dari 5000 pelajar dan mahasiswa angkatan baru menggunakan media social dalam tiap harinya.

Sementara itu, The Wahid Foundation melaporkan kaum muda sangat intensif dengan media social seperti Instagram, twitter, facebook, dan linkedin sebanyak 77 %. Kaum muda belajar agama dari media social bukan dari ustadz-ustadzah yang berceramah secara langsung. (Wahid Foundation, 2017).

Penelitian mungkin semaking naik, terlebih terjadi pandemi telah mengjangkiti seluruh negara tak terkecuali Indonesia yang lebih dari dua tahun. Di balik itu, ada pula virus yang lebih mematikan nalar dan pemikiran anak bangsa, yakni virus intoleransi, radikalisme dan terorisme yang kerap ditanamkan sejak dini kepada anak-anak baik di lingkungan sekolah, pertemanan maupun keluarga.

Proses radikalisasi di usia dini sengaja dilakukan karena anak memiliki daya reseptif yang kuat dalam menerima berbagai hal baru. Begitu pula anak merupakan simpul penerus generasi yang menjadi sasaran empuk kelompok radikal dalam melakukan kaderisasi. Karena itulah, melindungi anak dari virus intoleransi, radikalisme dan terorisme sejatinya bagian dari menyelematkan masa depan bangsa.

Menyelamatkan Generasi Muda

Sebagai penggerak masa depan, kaum muda menjadi sangat penting. Kaum muda merupakan masa depan sebuah bangsa yang ingin maju. Kaum muda tidak bisa dituduh sebagai kelompok yang mengacaukan, tetapi mereka adalah kelompok masyarakat yang bergerak dan terus mencari.

Rasa ingin tahu dan mencari tersebut tetap harus menjadi perhatian agar generasi bangsa tidak terjerumus dalam virus intoleran yang merusak generasi bangsa. Untuk mewujudkan generasi yang bebas generasi bangsa, diperlukan gadengan tangan setiap generasi dan institusi.

Seperti dengan hadirnya BNPT  sebagai perangkul semua golongan. Hal ini terlihat dari program yang dijalankan, sperti RAN PE bersama sama dengan 48 kementerian/lembaga, pengembangan Kawasan Terpadu Nusantara ( KTN ), Warung NKRI, Pembentukan FKPT di 34 provinsi, serta koordinasi pelindungan WNI di luar negeri dari ancaman terorisme, merupakan bentuk sinergi semua kalangan dari kekuatan hukum, tokoh agama, dan melibatkan anak muda.

Facebook Comments