Bocah yang Tak Pernah Dewasa: Balada Politik Identitas di Indonesia

Bocah yang Tak Pernah Dewasa: Balada Politik Identitas di Indonesia

- in Suara Kita
189
0

Sapantuk wahyuning Allah

Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit

Bakat mikat reh mangukut

Kukutaning jiwangga

Yen mangkono kena sinebut wong sepuh

Liring sepuh sepi hawa

Awas roroning atunggil

—Serat Wedhatama

Dalam berbagai peristiwa sejarah tampaknya agama tak pernah hadir secara murni tanpa membuahkan persoalan. Memang, secara hermeneutis, tafsir atas agama tak akan pernah bersifat tunggal, senantiasa terdapat berbagai konteks atau kepentingan yang mendasari atau membelokkannnya dalam prosesnya kemudian.

Hal seperti ini sebenarnya adalah sebuah kewajaran mengingat ideologi-ideologi yang sekular pun juga mengalami pembelokan atau bahkan pengkhianatan atas titik awalnya berpijak. Tengoklah Karl Marx dengan perkembangan marxisme di kemudian hari yang akhirnya menjadi sebuah ideologi dalam arti negatifnya: sebuah pandangan yang haram untuk dipertanyakan yang dalam praktiknya mesti harus membumihanguskan pandangan-pandangan lainnya.

Dalam kajian akademik seorang yang berkecenderungan menempatkan agama sebagai ideologi lazimnya akan disebut sebagai “islamis,” “radikal” ataupun “ekstrimis.” Secara filosofis, seorang yang disebut sebagai “bocah” pada dasarnya adalah seorang yang berposisi sebagai ideolog yang sudah pasti akan memiliki karakteristik radikal atau ekstrim sebagaimana yang telah saya sebutkan.

Politik identitas yang bernuansa agama, yang sejak 2014 hingga 2019 mewarnai panggung perpolitikan Indonesia, pada dasarnya adalah sebuah kekuatan yang meletakkan agama—dan juga nasionalisme—sebagai sebuah ideologi dalam arti negatifnya di atas. Bukankah murahnya judment “kafir” pada pandangan yang berbeda (yang kerap dilontarkan kaum islamis) ataupun “teroris” pada golongan yang ingin mengkontekstualisasikan agama dengan konteks-konteks lokal (yang kerap dilontarkan para nasionalis pandir) adalah sebuah bukti bahwa baik Islam maupun nasionalisme di sini sudah berupa ideologi dengan segala kekonyolan di dalamnya?

Pada momen-momen politik, seperti pilpres dst., lazimnya kekonyolan-kekonyolan ideologis itu akan muncul untuk mengimbangi dagelan-dagelan yang berserak di TV maupun di media-media sosial. Pencideraan pada akal sehat akan sedemikian lumrahnya menjadi kebiasaan yang murah untuk ditonton.

Hal seperti ini tentu saja adalah wajar mengingat watak ideologi yang secara negatif memang melecehkan akal sehat. Dengan demikian, politik identitas pada dasarnya adalah karnaval kegoblokan yang bersumber dari penempatan agama maupun romantisisme pada tanah air yang salah. Agama dan romantisisme pada tanah air, dengan mengingat berbagai konteks yang mengitari yang mustahil untuk dibilas dan dilibas, semestinya sekedar menjadi inspirasi dan bukannya aspirasi yang sudah barang tentu tak suci. Toh, pada kenyataannya di zaman ini sudah tak ada orang yang benar-benar “islami” ataupun “nasionalis” sebagaimana tuntutan klasiknya.

Namun, sejarah agama di Nusantara tak semata menghadirkan agama (dan juga romantisisme pada tanah air) secara konyol. Kisah Siti Jenar yang mencari titik singgung dengan Ki Ageng Kebo Kenanga, yang secara genealogis merupakan penerus Majapahit, dan eksentrikisme Kalijaga yang sudah menjadi rahasia umum, adalah bukti bahwa agama dan romantisisme pada tanah air tak mesti hadir secara konyol (Sufisme Gambang, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id, Wulung yang Agung, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Dengan demikian, ukuran “bocah” pada dasarnya tak melulu berkaitan dengan usia. Dapat pula penyematan istilah “bocah” itu juga berkaitan dengan sikap seseorang pada agama maupun romantisisme pada tanah air. Politik identitas yang sampai kebablasan, yang selama ini akrab dalam jagat perpolitikan di Indonesia, membuktikan bahwa politik di Indonesia, setidaknya dari 2014 hingga pasca 2019, masihlah belum dewasa.

Facebook Comments