Bukan Hanya Pelecehan Seksual, Radikalisasi di Sekolah Patut Dikhawatirkan

Bukan Hanya Pelecehan Seksual, Radikalisasi di Sekolah Patut Dikhawatirkan

- in Suara Kita
226
0
Bukan Hanya Pelecehan Seksual, Radikalisasi di Sekolah Patut Dikhawatirkan

Pada tahun 2021, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa ada sekitat 207 anak yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di satuan p.endidikan. Sebagian besar pelakunya adalah tenaga pengajar. Rincian korban tersebut terdiri dari siswa PAUD/TK hingga sekolah menengah atas. Artinya fenomena ini merata hampir di semua jenjang Pendidikan.

Kekerasan dan pelecehan seksual memang kerap mengkhawatirkan karena bisa menimbulkan trauma fisik dan mental anak. Namun, bukan sekedar pelecehan seksual. Orang tua juga harus peduli adanya pelecehan ideologi dan penanaman radikalisasi terhadap anak di lingkungan sekolah. Inilah salah satu dosa berikutnya dalam dunia Pendidikan yang disebut dengan intoleransi.  

Isu tentang perkembangan sikap intoleransi dan radikalisme di dunia pendidikan memang bukanlah isu baru. Sekolah dianggap lahan yang subur untuk menanamkan atau mendoktrin anak didiknya secara perlahan namun pasti. Isu tersebut tumbuh bukan tanpa alasan yang mendasarinya, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), menyebutkan sebanyak 48,9% siswa mendukung adanya tindakan intoleransi yang menjurus kepada tingakan radikal.

Setara Institute tahun 2016 juga mencatat Survei tingkat toleransi pada siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung Raya dengan responden 760 siswa mempresentasikan: 61 persen bersikap toleran, 35,7 persen intoleran pasif, 2,4 persen intoleran aktif/radikal, dan 0,3 persen berpotensi menjadi teroris.

Maarif Institute tahun 2017 yang bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN, dan UNDP melakukan penelitian tetang Potensi Bahaya Radikalisme dan Daya Tahan OSIS yang dilakukan di 6 Kabupaten di 5 Provinsi. Temuan penelitian menunjukkan potensi yang sangat mengkhawatirkan terkait potensi radikalisme di sekolah disebabkan oleh tiga faktor: alumi, guru dan kebijakan sekolah.

Bahaya radikalisasi dan penanaman intoleransi di sekolah bukan hanya mitos. Banyak sekali kejadian dan fakta yang menunjukkan betapa serbuan paham radikal dan intoleran mulai menyusup di dunia Pendidikan. Inilah alasan kita sebagai orang tua perlu mengenali lingkungan sekolah seperti tenaga pengajar dan juga materi seperti apa yang diajarkan di sekolah yang akan kita pilihkan untuk sang anak. Sikap selektif para orang tua bukan sekedar hanya kepedulian pada aspek kekerasan dan pelecehan seksual saja, tetapi sejatinya kekerasan ideologis dan pelecehan wawasan anak harus diwaspadai.

Faktor lembaga, tenaga pendidik hingga kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah tersebut harus menjadi perhatian. Proses radikalisasi salah satunya melirik ranah ekstra kulikuler di sekolah yang menjadi area yang kurang terawasi. Pada beberapa kasus, kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah tidak terlalu imun dari pengaruh kelompok radikal dari kelompok luar.

Sebagaimana Maarif Institute merilis sebuah hasil penelitian yang dilakukan di enam kabupaten pada tahun 2017. Terdapat empat puluh sekolah yang menjadi sampel dengan metode pengumpulan dokumen, wawancara , observasi lapangan dan juga Focus Group Discussion, yang menyatakan bahwa kelompok radikal biasanya memanfaatkan jam pulang sekolah siswa untuk penyebaran paham radikalisme. Karena di luar jam sekolah, pihak sekolah belum mampu memonitor kegiatan di luar jam sekolah.

Selain itu, hasil penelitian Maarif Institute juga mengungkapkan adanya peran guru dalam penyebaran radikalisme lewat kegiatan belajar mengajar (KBM). Media informasi kini semakin mudah untuk di terima secara daring. Itulah pentingnya orang tua mengawasi dan menyaring informasi yang di dapatkan oleh anak-anak kita.

Bagaimana Orang Tua Mengontrol Anak

Pentingnya peran orang tua untuk melindungi anaknya dari jangkauan virus intoleransi salah satunya dengan dialog. Tujuannya orang tua lebih memahami persoalan anak dengan berimbang dan mampu memberikan solusi maupun arahan bukan di satu pandangan saja. Namun perlu diingat ketika memberikan arahan, orang tua juga tidak boleh memojokkan, merendahkan, maupun menyalahkan suatu kelompok tertentu maupun menyalahkan pandangan anaknya.

Dengan berdialog, orang tua sekaligus akan membentuk sikap kritis anak terhadap informasi online maupun offline yang anak terima. Ia akan sadar bahwa suatu berita tidak bisa dipahami dengan satu pemahaman atau satu sisi saja. selain itu mereka akan sadar dengan mencari tahu kebenaran dari isi berita, sumber dari mana, isi beritanya seperti apa, dan apakan menunjukkan bukti yang akurat dan kredibel?

Dalam dialog yang dilakukan oleh orang  tua kepada anaknya dapat melakukan beberapa hal. Pertama, orang tua harus mampu mendengarkan pendapat anak secara seksama, memahami poin-poin yang dia sampaikan sehingga orang tua mampu bersikap.

Kedua, setelah mendengar pendapat anak, orang tua harus mampu merespon sikap anak, dan mengarahkannya untuk mampu mendukung kerukunan dan toleransi. Memberikan pujian ketika anak mengerti dengan apa yang disampaikan orang tua juga perlu untuk membuatnya merasa bangga akan pemikirannya yang benar.

Namun apabila anak menujukkan opini yang condong pada sikap dan pandangan intoleran dan permusuhan, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan dan lebih memberikan alasan-alasan yang mudah dipahami bahwa permusuhan itu merupakan sesuatu yang salah dan bahkan Tuhan tidak menyukai umatnya bermusuhan karena perbedaan merupakan anugrah dari Tuhan.

Ketiga, orang tua harus mampu mengarahkan anak untuk mampu memahami konteks serta latar belakan tindakan intoleransi yang dimaksudkan oleh si anak. Di sini orang tua dan anak bisa melakukan diskusi akan motif pelaku dan bisa bersama-sama mencari tahu alasannya, apakah benar karena alasan agama ataukah ada faktor pendukung lainnya. Dengan demikian anak bisa memahami suatu isu tidak boleh dimakan mentah-mentah informasinya. Karena banyak berita yang dipelintir dan dimanipulasi oleh banyak kalangan.

Inilah cara orang tua menyelamatkan pemikiran anak serta bangsa supaya jauh dari intoleransi dan ideologi di luar Pancasila. Orang tua juga wajib membekali anaknya dengan wawasan kebangsaan tentang jasa para pahlawan serta kehidupan umat beragama yang sejatinya bukan hanya tentang peperangan, namun juga tentang toleransi dan kasih sayang yang juga diajarkan kepada umatnya.

Facebook Comments