Bukan Islamfobia, Infiltrasi Terorisme di Masjid Itu Nyata

Bukan Islamfobia, Infiltrasi Terorisme di Masjid Itu Nyata

- in Narasi
344
0
Membedah Arus Kebencian terhadap Syiah di Indonesia

Saat konferensi pers (20/6), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan penegasan akan bahaya terorisme di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Peringatan ini menyusul sejumlah agenda besar kelompok radikal yang menyasar tempat ibadah sebagai ladang potensial untuk infiltrasi terorisme. Hal ini juga menjadi tanggapan atas penelitian Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, antara tahun 2008-2009 yang menemukan 45% takmir setuju akan pendirian negara Islam, 32% setuju umat Islam wajib mendirikan khilafah, dan 14% setuju pemerintah yang tidak menerapkan syariat wajib diperangi.

Apabila melihat historitas infiltrasi terorisme di masjid, kita bisa menemukan puluhan kasus yang terjadi. Sebut saja kelompok terorisme ternama ISIS, yang kerap melakukan segala macam aktivitas di masjid. Juli 2017, ISIS menggelar pengajian terkait keorganisasian mereka di masjid Bekasi. Bahkan Pusat Kajian Radikalisme (PAKAR) menyebut jika ISIS melakukan sejumlah gerakan di masjid di 7 provinsi Indonesia, dan 16 masjid diantaranya digunakan untuk penguatan gerakan keorganisasian ISIS.

Beberapa masjid yang pernah heboh digunakan ISIS sebagai basis penyebaran terorisme adalah Masjid Al Fata di Jakarta Pusat, Masjid Ridha di Makassar, dan Masjid Baitul Makmur di Sukoharjo. Terlepas dari masjid-masjid tersebut, sebenarnya masih banyak lagi masjid yang luput disebutkan karena tidak terpantau oleh media.

Selain ISIS, kelompok lain yang menggunakan masjid sebagai basis penyebaran terorisme adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Maret 2015, terdapat 20 anggota HTI melakukan kajian di Masjid Ukhuwah Islamiyah. Tidak berhenti pada kajian, mereka juga melanjutkan pembicaraan serius terkait kerjasama dengan ISIS melalui grup Telegram. Dalam grup tersebut, mereka bertukar pikiran tentang perkembangan ISIS dan cara-cara terbaru dalam pembuatan bom.

Data-data tersebut menunjukkan secara pasti, bahwa masjid menjadi kekuatan besar sebagai pintu masuk dalam penyebaran terorisme. Sedangkan Hwang dan Schulze (2018) menyebut “kajian” sebagai metode strategis untuk memperluas paham terorisme. Melalui kajian, kelompok radikal dapat memberikan argumen-argumen yang kuat terhadap penegakan khilafah dan upaya mengubah ideologi negara disertai dengan dalil-dalil yang telah diselewengkan.

Metode ini terbukti ampuh dalam merekrut anggota baru untuk memperkuat kelompok radikal. Hwang dan Schulze (2018) menyebut, jika metode kajian setidaknya berhasil menggait 87 dari 106 militan muslim untuk bergabung dengan kelompok radikal. Tentunya, ini menjadi metode menjanjikan bagi kelompok radikal untuk merekrut anggota baru yang memperjuangkan narasi khilafah.

Maka sangat salah jika pernyataan dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang bahaya masjid sebagai infiltrasi terorisme dianggap sebagai bentuk Islamfobia. Bahaya penyebaran terorisme melalui masjid sangat nyata dan dibuktikan melalui serangkaian data pergerakan kelompok radikal yang menyasar masjid sebagai objek utama untuk memasukkan paham radikalisme. Oleh karena itu, pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dapat diartikan sebagai himbauan untuk kembali menseterilkan masjid dari paham-paham radikal.

Salah satu ilmu yang dapat digunakan untuk melawan kajian-kajian kelompok radikal adalah ilmu Tasawuf. Disiplin ilmu ini dapat menata ulang kerangka berpikir manusia menjadi lebih logis dan terarah. Sehingga dengan ilmu Tasawuf, manusia dapat menjunjung tinggi nilai-nilai moderatisme dan memuliakan sesama. Manusia akan menyadari kelekatan konsep sosial dalam kehidupan. Sehingga dirinya akan menyadari betapa pentingnya membangun relasi yang luas tanpa pandang bulu. Antara satu manusia dengan manusia lain saling membutuhkan.  

Ilmu tasawuf juga dapat digunakan untuk merekontruksi ulang jiwa manusia untuk menjauhi sifat dendam, kekerasan, kebencian, dan anti-perbedaan. Ilmu Tasawuf akan melatih manusia menjadi pribadi yang lebih terbuka, sehingga praktik radikalisme akan otomatis tertolak dengan ilmu tasawuf. Begitu juga saat dilakukan kajian di masjid, orang yang memiliki pemahaman ilmu Tasawuf akan selalu menolak ajakan-ajakan untuk menyakiti liyan.

Maka dapat dipahami jika seterilisasi masjid sangat penting dilakukan guna menutup ruang kelompok radikal yang menjadikan masjid sebagai basis gerakan. Ilmu Tasawuf dapat menutup ruang berpikir radikal, yang bermuara pada cara kekerasan untuk melaksanakan tujuannya. Dengan cara ini, masjid dapat kembali menjadi tempat suci yang mempertemukan keluhuran sikap seorang hamba dengan Tuhannya.

Facebook Comments