Bukan Sekedar Kemenangan, Tetapi Kenegarawanan

Bukan Sekedar Kemenangan, Tetapi Kenegarawanan

- in Suara Kita
256
1
Bukan Sekedar Kemenangan, Tetapi Kenegarawanan

Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, akhirnya pengumuman akhir atau rekapitulasi akhir dari Pemilu 2019 akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019 esok. Namun, mendekati hari pengumuman tersebut, kegaduhan tak kunjung mereda. Di samping terkait narasi-narasi provokatif dari sebagian kelompok yang mengajak masyarakat menolak hasil pemilu, muncul pula peringatan terkait ancaman dari pihak-pihak lain yang memanfaatkan momentum tersebut, terutama kelompok teroris.

Pada Jumat (17/5), Densus 88 Anti-teror bahkan telah melakukan penangkapan terhadap terduga teroris di Bogor. Dari keterangan Polri, terduga teroris tersebut berencana meledakkan bom di depan gedung KPU Jakarta Pusat saat pengumuman Pemilu 2019 tanggal 22 Mei 2019. Dari penggeledahan di rumah seorang terduga teroris jaringan ISIS di Bogor tersebut, polisi bahkan menemukan dan telah menyita enam bom pipa siap ledak, serta satu bom panci yang tengah dirakit (tempo.co, 19/5/2019).

Polri pun mengimbau masyarakat tak turun ke jalan pada 22 Mei 2019. Isu terkait akan adanya aksi massa pada 22 Mei dari salah satu pendukung capres-cawapres diduga bisa dimanfaatkan kelompok terori untuk mencari eksistensi, dengan menunggangi aksi tersebut dan melakukan teror. Kita berharap semua pihak bisa bijak menahan diri dan pihak keamanan bisa tetap menjaga situasi tetap kondusif, sehingga proses pengumuman resmi dari KPU bisa berjalan dengan aman dan damai.

Selanjutnya, kita berharap kegaduhan beberapa bulan terakhir segera berakhir. Hari pencoblosan yang telah usai dan pengumuman resmi yang sudah dikeluarkan, diharapkan bisa segera menyudahi polarisasi di masyarakat, terutama terkait pilpres 2019. Kita berharap kegaduhan di kalangan elite mereda dan masyarakat bisa kembali kembali hidup rukun dan bersaudara. Kita berharap hasil resmi dari KPU esok bisa diterima semua pihak. Segala bentuk ketidakpuasan karena dugaan kecurangan atau segala bentuk pelanggaran dalam pemilu, kita harap disalurkan lewat prosedur hukum yang ada, tanpa perlu melakukan aksi-aksi melanggar hukum yang meresahkan masyarakat.

Menang dan kalah

Jelang pengumuman resmi KPU 22 Mei 2019 esok, menjadi begitu penting bagi kita semua untuk bersikap bijak dalam menyikapi hasil tersebut. Kita telah melihat bagaimana persaingan sengit dalam Pilpres tak hanya terjadi di masa kampanye. Ketika proses pemilihan usai dan hitung cepat (quick count) ditunjukkan, persaingan muncul dengan saling mengkalim dan mendeklarasikan kemenangan. Kedua pihak mengaku menang. Tak ada yang sudi mengaku kalah.

Baca juga : Islam, Kekuasaan dan Tantangan Konflik Internal

Memang, dalam sebuah persaingan, pihak mana pun tentu lebih mengharapkan kemenangan ketimbang kekalahan. Terlebih, dalam sebuah kompetisi politik di level Pilpres, di mana setiap kontestan atau kandidat sama-sama telah mengerahkan segala daya dan upaya, baik tenaga, pikiran, dan terutama materi yang tak sedikit, untuk menarik hati masyarakat dan meraih sebanyak mungkin suara. Di tengah segala hal yang sudah dikerahkan tersebut, kemenangan seolah menjadi satu-satunya jawaban yang akan membayar tuntas semua itu.

Tapi, bukankah akan tetap ada yang kalah? Di samping presiden dan wakil presiden terpilih, akan ada pasangan capres-cawapres yang kalah, yang memperoleh suara lebih sedikit dari saingannya. Namun, tak semua orang bisa berbesar hati menerima kekalahan. Terlebih, jika ada salah satu pihak yang merasa dicurangi atau terjadi kesalahan-kesalahan dalam penyelenggaran Pemilu yang merugikan pihaknya, sehingga hasil kekalahan menjadi semakin sulit diterima.

Mencari negarawan

Di sinilah, sikap kedewasaan dan kenegarawanan seorang calon presiden diuji. Jelang hari pengumuman atau penetapan esok, penting bagi kedua kubu, pendukungnya, dan bahkan kita semua sebagai sebuah bangsa, untuk merenungi hal-hal yang lebih penting dari sekadar kemenangan atau kekalahan.

Kita mesti sadar, semua ini, pesta demokrasi ini, Pilpres ini, adalah suatu mekanisme demokratis memilih pemimpin bagi bangsa ini. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan lebih penting. Pilpres tak hanya soal kemenangan dan kekalahan, namun lebih jauh adalah tentang sejauh mana kontestasi demokrasi ini diperjuangan para kontestan pemilu dengan nilai-nilai kejujuran, etika, dan sportivitas. Nilai-nilai tersebut hanya akan tumbuh jika ada kesadaran, bahwa meski bersaing secara politik, nilai-nilai persaudaraan dan semangat persatuan mesti tetap yang paling utama.

Kedua kubu yang bersaing dalam Pilpres mesti memaknai Pilpres ini menembus sampai hal-hal tersebut. Sebab, pemaknaan yang melampaui menang atau kalah inilah yang bisa melahirkan sikap kenegarawanan dalam menerima hasil apa pun dalam kontestasi politik ini. Baik menang maupun pun kalah, semua bisa dimaknai secara positif, sebagai bagian dari proses perjuangan membangun bangsa ini. Jika kesadaran ini ditunjukkan oleh kedua kubu, kita berharap bisa menjadi teladan yang menular ke seluruh elite politik, pendukung, maupun seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali bersatu dalam kerukunan dan persaudaraan.

Di samping itu, bangsa ini masih memiliki berbagai problem utama seperti kesenjangan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, dan juga ancaman radikalisme-terorisme. Persoalan-persolan bangsa tersebut tentu butuh kesungguhan dan sinergi semua elemen bangsa ini untuk mengatasinya. Keributan terus-menerus jelas bukan kondisi yang mendukung upaya tersebut. Ketika pemimpin terpilih ditetapkan, ia mesti merangkul semua pihak, baik yang mendukungnya maupun yang tidak. Masyarakat luas, yang awalnya terpolarisasi karena pilpres, mesti kembali bersatu dalam semangat persaudaraan dan persatuan, demi Indonesia ke depan yang lebih maju, makmur, damai, dan sejahtera.

Facebook Comments