Bukan Sekedar Menjual Isu Islamofobia, Tapi Ikhtiar Menyembuhkan Akarnya

Bukan Sekedar Menjual Isu Islamofobia, Tapi Ikhtiar Menyembuhkan Akarnya

- in Suara Kita
1349
0
Bukan Sekedar Menjual Isu Islamofobia, Tapi Ikhtiar Menyembuhkan Akarnya

Bagi sebagian muslim, islamofobia memang pengalaman pahit yang harus dijalani di tengah mayoritas yang dominan. Muslim di negara Barat yang konservatif, misalnya, sangat merasakan dampak dari pemikiran dan sikap islamofobia. Islamofobia adalah buah atau dampak dari citra Islam yang dikotori oleh kelompok tertentu.

Tentu saja, islamofobia adalah fenomena yang menjangkiti negara-negara Barat yang memandang Islam dari sudut tindakan oknum muslim yang radikal. Islamofobia juga muncul sebagai warisan intelektual Barat yang tidak obyektif dalam melihat Islam. Warisan intelektual orientalis itu menutupi pengetahuan yang sejati tentang Islam yang sebenarnya.

Namun, bagi sebagian kelompok islamofobia dijadikan isu yang tidak produktif, apalagi di tengah muslim yang mayoritas. Seolah-olah apapun dianggap bagian dari Islamofobia. Sejatinya, kalau mau ditanggulangi Islamofobia harus disembuhkan dari akarnya, bukan teriak jualan islamofobia untuk menarik simpati.

Kenapa Islamofobia muncul? Apa kebencian dan stigma tak berdasar yang alamiah muncul begitu saja? Langkah yang penting dilakukan bukan melawan tetapi menyembuhkan islamofobia yang jelas memiliki akar sebab. Dari pada kemana-mana menjual isu islamofobia penting bagi umat Islam lebih konsisten menyembuhkan penyakit itu.

Islamofobia sejatinya bersumber paling tidak dari tiga hal. Pertama, sebagai warisan intelektual dan politik masa lalu akibat benturan Islam dan Barat. Kontruksi Islam dibangun secara negatif oleh para intelektual barat dalam rangka hegemoni kultural untuk kepentingan kolonial.

Kedua, akibat warisan sejarah tersebut pada akhirnya Islam menjadi barang asing di generasi Barat masa kini. Kekurangpahaman masyarakat terhadap Islam menyebabkan pandangan sinis terhadap Islam. Kurangnya orang memahami Islam menjadi pendorong lahirnya islamofobia yang hanya didapatkan dari sumber-sembur tendensius gambaran Islam masa lalu.

Ketiga, islamofobia juga didorong oleh perilaku oknum umat Islam yang radikal yang memaknai Islams ecara sempit dan dangkal serta diperalat untuk kepentingan politik. Lahirnya terorisme yang mengatasnamakan Islam mendorong kembali citra Islam yang buruk di Barat. Luka teror yang dilakukan oleh segelintir kelompok aliran keras telah menjadi fitnah besar bagi Islam.

Sesungguhnya yang membuka dan menyebabkan islamofobia semakin parah karena ulah kelompok keras yang menjual agama demi kepentingan kekuasaan dan politik kekerasan.  Akhirnya, seluruh umat Islam secara umum terkena dampak perlakuan rasisme dan diskriminasi yang bernada islamofobia akibat ulah kelompok teroris.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Saya ingin memberikan contoh bagaimana kaum muslimin yang cerdas di yang berada di tengah komunitas Barat berusaha menyembuhkan islamofobia.

Beberapa komunitas muslim di Barat yang sadar terhadap diskriminasi dan kebencian terhadap Islam akibat kejadian 9/11 melawan islamofobia dengan mengkampanyekan citra Islam yang sebenarnya. Mereka aktif dalam menyebarkan ajaran islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Mereka berusaha mengubah persepsi masyarakat tentang muslim dan Islam.

Kampanye Islam yang rahmat adalah obat penyembuh islamofobia. Salah satu contoh menarik adalah bagaimana Mo Salah pemain populer Liverpool mengenalkan Islam yang santun. Salah menjadi penyebab orang Inggris ingin mengetahui tentang Islam yang sebenarnya.

Hasil penelitian yang diberi tajuk “Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah on Islamophobic Behaviors and Attitudes (2019)”, menghasilkan kesimpulan yang menarik. Disebutkan bahwa kejahatan rasial terkait Islamfobia di Marseyside, country di Inggris yang meliputi kota Liverpool, menurun 16 persen setelah Mo Salah bergabung dengan klub Liverpool FC.

Hal yang sama adalah dilakukan oleh sinamatografer Muslim Inggris Rizwan Wadan yang juga pernah menggaarap film Star Wars dan The Favourite dengan merilis film pertamanya yang bertujuan melawan Islamofobia dan kesalahpahaman tentang Islam. Film ini menjadi wadah bagi Muslim untuk menceritakan kisah mereka. Dia menegaskan : “Stigma dan penyebab terbesar perpecahan antara dunia Muslim dan non-Muslim adalah komunitas kami ternodai oleh terorisme. Saya berpikir untuk mengatasi masalah ini, saya harus meluruskan dulu tentang terorisme,” kata Wadan dikutip dari laman aboutislam.net, Selasa (13/7/2021). Wadan ingin membuat masyarakat mengerti bahwa Islam dan Muslim tidak berdiri untuk ekstremisme dan terorisme. Faktanya, tidak ada agama yang mendukung ekstremisme dan terorisme.

Sampai di sini pelajaran penting untuk menyembuhkan Islamofobia adalah dengan menarik kembali hati masyarkat. Memberikan pemahaman yang kuat dan sejati tentang Islam yang telah dirusak oleh kelompok ekstremis dan kepentingan politik Barat. Umat Islam berjuang untuk mengembalikan citra Islam yang sebenarnya.

Jelas, cara menyembuhkan islamofobia bukan dengan menjual kehebohan islamofobia sebagai dagangan politik. Virus islamofobia harus disembuhkan dengan kampanye bersama umat Islam tentang Islam yang sebenarnya yang telah lama dibajak oleh kelompok ektremis.

Jika politisi, tokoh, atau siapapun menarasikan islamofobia tanpa memahami akarnya itu sama halnya menjual isu islamofobia untuk kepentingan politik. Jika mereka tidak berikhtiar menyembuhkan dengan narasi yang santun untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya sejatinya adalah bagian dari semakin menumpuk penyebab islamofobia.

Facebook Comments