Bulan Muharram: Haramnya Kebencian dan Perpecahan!

Bulan Muharram: Haramnya Kebencian dan Perpecahan!

- in Suara Kita
182
0
Bulan Muharram: Haramnya Kebencian dan Perpecahan!

Kita akan kembali memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram 1444 H. Sebagaimana, bulan Muharram ini dikategorikan sebagai al-asyhurul (bulan-bulan yang dimuliakan). Di antaranya juga bulan Dzhulqo’dah, Dzhulhija dan bulan Rajab. Dari keempat bulan ini, disebut sebagai bulan haram. Di mana, umat Islam haram hukumnya untuk berperang, bertindak zhalim dan berbuat kemungkaran.

Maka, di dalam konteks kehidupan kita hari ini, bulan Muharram harus kita refleksikan sebagai (bulan haram). Yaitu haramnya menyebar kebencian, permusuhan dan perpecahan. Baik di sosial media atau-pun di dunia nyata. Dalam arti pemahaman, bulan Muharram ini adalah (awalan baik) bagi kita untuk (hijrah) meninggalkan kebencian, permusuhan dan praktik kemungkaran.

Sebagaimana, dijelaskan di dalam (Qs. At-Taubah:36) Bahwasanya “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan agama yang lurus), maka janganlah kamu (menzhalimi dirimu) dalam bulan yang empat itu”.

Dari ayat di atas. Kita tentunya akan mendapatkan dua pesan. Pertama, bulan Muharram yang masuk dalam kategori (bulan mulia) maka haram hukumnya untuk bertindak zhalim. Kedua, ini sebagai substansi penting, bahwa segala larangan bertindak zhalim dan kemungkaran yang bisa merusak tatanan itu adalah (ajaran agama yang lurus) atau yang disebut sebagai ketetapan agama yang rahmatan lil alamin itu.

Maka, dari sinilah pentingnya bagi kita. Untuk memulai (hijrah) di bulan Muharram. Untuk meninggalkan segala kebencian, permusuhan, perpecahan dan bisa merusak persatuan di negeri ini. Sebagaimana, bulan Muharram adalah bulan haram menyebar kebencian dan perpecahan.

Sebagaimana, penjelasan ayat di atas, juga dimutlakkan oleh (Qs. Ali Imran:103). Bahwasanya “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (Agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara”. Sehingga, di sinilah titik terang yang harus kita sadari.

Maka, dari sinilah kita harus merefleksikan bulan mulai ini sebagai bulan yang bisa menjadikan kita untuk hijrah. Setelah bulan-bulan yang lalu kita dipenuhi dengan rasa kebencian, permusuhan, doyan memecah-belah dan penuh kezhaliman. Maka, di bulan Muharram ini kita harus seraya melepaskan hal demikian. Demi menjaga keagungan dan kemuliaan bulan Muharram tersebut. Serta, kita perlu menggantikan dengan segala perbuatan baik yang membawa maslahat.

Sebagaimana, dijelaskan oleh Imam al-Baqhawi yang termaktub dalam Ma’lumat Tanzil fi Tafsiril Qur’an menjelaskan perihal larangan-larangan di bulan Muharram itu. Mengacu ke dalam sikap yang harus mengedepankan kebaikan, kemaslahatan dan kemanfaatan. Hal itu sebagai (pahala agung). Begitu juga sebaliknya, jika penuh kezhaliman, kebencian, permusuhan dan merusak tatanan, maka akan mendapatkan dosa yang setimpal dari apa yang diperbuat.

Maka, dari sinilah. Kita harus mempersiapkan diri. Menyambut tahun baru Islam ini. Sebagai tahun (perubahan) bagi kita. Untuk hijrah meninggalkan segala keburukan layaknya kebencian, permusuhan dan perpecahan. Baik di sosial media dan dunia nyata. Tentu, meninggalkan keburukan, kebencian, permusuhan dan kezhaliman tidak hanya di bulan itu saja. Akan tetapi, bulan Muharram ini sebagai (awalan yang baik) bagi kita untuk terus membangun kesadaran diri, untuk menjauhi kebencian, permusuhan dan perpecahan.

Facebook Comments