Bulan Silaturahmi Sebagai Pemupuk Solidaritas

Bulan Silaturahmi Sebagai Pemupuk Solidaritas

- in Suara Kita
176
0
Bulan Silaturahmi Sebagai Pemupuk Solidaritas

Syawal merupakan bulan silaturahmi bagi penduduk Nusantara. Pasalnya, silaturahmi pasca Idul Fitri bukan saja dilakukan umat muslim pada tanggal 1 Syawal saja. Mudik, sowan, halal bihalal, dan beragam jenis silaturahmi kepada keluarga atau orang-orang terkasih menjadi budaya selama sebulan penuh.

Budaya luhur ini tidak dimiliki oleh setiap negara. Kebanyakan negara muslim memperingati Hari Besar Idul Fitri hanya dengan melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri belaka. Sehingga, sangat beruntunglah kita yang berada di bumi nusantara ini bisa merasakan budaya mulia, yang penuh dengan nilai positif bagi dari segi agama maupun sosial.

Urgensitas budaya silaturahmi sebulan penuh di Bulan Syawal semakin terasa manakala di tengah perbedaan suku, ras, agama, dan keyakinan sering kali ada gesekan antara satu orang/kelompok dengan yang lain. Saat ini, gesekan yang ada di Bumi Nusantara bukan saja karena disebabkan adanya perbedaan suku dan ras, namun lebih karena adanya provokasi. Bahkan, antara satu pemeluk agama dengan yang lainnya saling menjalin toleransi. Namun demikian, dengan adanya provokasi segelintir orang/kelompok menjadikannya salah paham dan berakibat pada ketidakharmonisan hubungan.

Dalam pada itulah, syawal merupakan momentum paling tepat untuk memupuk solidaritas antara satu orang/kelompok/golongan dengan yang lain. Karena dalam bersilaturahmi ada banyak manfaat yang mampu merekatkan ikatan persaudaraan yang sempat retak.

Saat bersilaturrahmi Bulan Syawal, antara satu orang/kelompok dengan yang lainnya saling mempersiapkan hati untuk saling memaafkan. Dengan saling memaafkan, maka pertikaian pun akan terhindarkan. Bahkan, manfaat memaafkan juga dapat dirasakan hingga akhirat. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Jika hari kiamat tiba, terdengarlah suara panggilan, Manakah orang-orang yang dahulu (di dunia) memaafkan kesalahan sesama manusia? Datanglah kalian kepada Tuhan-Mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR. Ad-Dahak).

Dalam bersilaturrahmi juga menyebabkan satu orang/kelompok dengan yang lain saling bersenda gurau dan perbincangan serius. Kegiatan ini secara psikologis mampu mengurai permasalahan-permasalahan emosional yang ada antara satu orang/pihak dengan yang lainnya. Klarifikasi atas informasi juga secara tidak langsung dapat tersampaikan. Dengan bersenda-gurau saat silaturrahmi, sering kali satu orang/kelompok menjadi mengerti akan kepribadian serta isi hati orang yang ada di hadapannya. Dan kadang kali isi hati tersebut akan berbeda dengan berita hoax yang disulut oleh para provokator. Cara seperti ini sejatinya juga menjadi ihtiyar seorang hamba untuk mengamalkan perintah Tuhan sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur’an sebagaimana berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujarat: 6).

Dalam bersilaturrahmi juga menyebabkan ikatan persaudaraan yang telah putus menjadi sambung kembali. Bahkan, silaturrahmi pada dasarnya dimaksudkan untuk menyambung tali persaudaraan yang telah putus. Dan langkah ini perlu ada perjuangan karena bisa jadi upaya hanya dilakukan oleh salah satu pihak. Namun demikian, dengan adanya upaya salah satu pihak yang tak pernah kendur, menyebabkan pihak yang lain perlahan-lahan juga melonggarkan hati sehingga bisa tersambung kembali.

Sehingga, dengan adanya momentum silaturrahmi akbar di Bulan Syawal diharapkan memiliki keberkahan tersendiri bagi Bumi Nusantara. Perbedaan yang ada di dalamnya dapat selalu terjalin erat dengan baik sehingga akan menjadi kekayaan yang mahal harganya. Semua berlandaskan pada ikatan persaudaraan yang penuh dengan nilai toleransi dalam perbedaan. Perpecahan, tindak radikal, dan perbuatan negatif lain pun diharapkan tidak terjadi di tanah air tercinta kita ini.Wallahu a’lam.

Facebook Comments