Bulan Silaturahmi sebagai Vaksin dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Bulan Silaturahmi sebagai Vaksin dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

- in Suara Kita
131
0
Bulan Silaturahmi sebagai Vaksin dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Harum semerbak Idul Fitri masih bisa kita rasakan saat ini. Sebuah bulan kemenangan bagi kita untuk menjemput silaturahmi. Saling bertemu, saling memaafkan, berkumpul bersama keluarga, makan bersama, senda-tawa bersama dan di situlah jati diri kita yang sebenarnya. Hidup dalam sebuah kebersamaan tanpa sekat apa-pun.

Bahkan, pernahkah kita berpikir untuk meminta maaf di saat lebaran? Misalnya, dalam keseharian kita ada problem dengan tetangga. Lalu kita memberanikan diri untuk meminta maaf dan merajut silaturahmi di hari Fitri ini. Maka, keberanian itu seharusnya menjadi awalan yang baik. Sebagai (mental berani) di setiap saat untuk bisa sepanjang waktu kita bisa ringan meminta maaf kepada orang lain ketika kita ada salah.

Vaksin Terbaik Melawan Virus Intoleransi dan Radikalisme adalah Silaturahmi

Jika kita bertanya, apa jalan paling ampuh bagi kita untuk melawan virus intoleransi dan radikalisme? Tentu jawabannya adalah silaturahmi. Mengapa silaturahmi? Kita mungkin perlu melihat dari sisi dan ciri penyebaran virus tersebut. Di mana, virus intoleransi dan radikalisme akan mewabah dan terus menjangkiti setiap orang dengan karakter memprovokasi kita agar berpecah-belah dan saling bermusuhan satu-sama lain.

Maka, jalan silaturahmi ini tentunya sebagai kekuatan kita bersama. Di mana, silaturahmi akan semakin membuat anti-body yang sifatnya melumpuhkan hal-hal yang berkaitan dengan alur penyebaran tersebut. Sebab, silaturahmi dalam segala aktivitas seperti saling tegur sapa, bermaaf-maafan dan membuka ruang sosial yang bersaudara serta bersama.

Di situ akan semakin mempersulit virus intoleransi dan radikalisme mewabah. Karena, kenyataan sosial kita itu memiliki kekuatan yang sangat besar untuk melawan tipu-dayanya untuk memprovokasi kita. Agar berpecah-belah, saling bermusuhan dan saling membenci satu-sama lain. Maka, di sinilah dimensi silaturahmi sebagai kekuatan terpenting atau vaksin dari virus intoleransi dan radikalisme itu.

Menjadikan Bulan Toleransi sebagai Madrasah Kita untuk Anti Intoleransi dan Radikalisme

Bertemu, bermaaf-mafan dan terbentuknya silaturahmi yang begitu kokoh. Itu sejatinya bukan sebagai perilaku yang hanya dilakukan atau diamalkan tiap tahun saja. Misalnya, kita hanya menunggu hari raya Idul Fitri untuk membangun silaturahmi. Sedangkan hari-hari biasanya kita dipenuhi dengan dis-harmonis dan konflik sosial yang berujung perpecahan.

Bisa dibayangkan. Kita dalam hari-hari biasa memiliki kesalahan dan saling bermusuhan. Lalu, kita merasa saling gengsi, merasa saling benar dan merasa enggan untuk tidak meminta maaf terlebih dahulu. Lalu, kita hanya menunggu momentum Idul Fitri untuk saling meminta maaf. Sedangkan waktu yang sangat panjang masih dalam kondisi permusuhan. Maka, di sinilah saya rasa sebagai kekeliruan yang sangat besar untuk kita perbaiki saat ini.

Karena, Idul Fitri diidentikkan sebagai bulan silaturahmi karena memiliki dasar pembelajaran. Karena, ini seharusnya menjadi satu pelajaran penting bagi kita untuk melewati hari-hari setelahnya. Dengan sebuah sikap yang sama dengan sikap di mana momentum Idul Fitri itu ada. Mengajarkan kita untuk bisa bermental (mudah memaafkan dan mudah meminta maaf).            

Sebab, ketika kita memiliki kebiasaan membangun silaturahmi, di situ kita akan semakin anti dan bahkan kebal terhadap virus intoleransi dan radikalisme tersebut. Jadi. Vaksin dari virus intoleransi dan radikalisme itu sebetulnya sangat mudah, namun ego kitalah yang memberatkan. Yaitu ajang terbentuknya silaturahmi adalah vaksin terbaik dan ter-rekomendet bagi kita untuk memberantas virus intoleransi dan radikalisme. Jadi, mari kita hidup sehat dan bersih dari kedua virus tersebut.

Facebook Comments