Cak Nur dan Pembaharuan Islam di Indonesia

Cak Nur dan Pembaharuan Islam di Indonesia

- in Pustaka
390
0
Cak Nur dan Pembaharuan Islam di Indonesia

Judul buku       : Nurcholis Madjid dan Politik Muslim

Penulis            : Abu Muslim

Penerbit            : IRCiSoD

Cetakan           : Desember, 2021        

Teba                 : 154 halaman

ISBN                : 978-623-6166-72-7

Perdebatan tentang Islam dan negara telah menjadi tema krusial sejak zaman Revolusi Kemerdekaan yang kemudian memantik perdebatan panjang di antara para Bapak Bangsa. Perdebatan panjang itu muncul dari beragamnya pandangan tentang hubungan Islam dan negara: ada yang berpandangan bahwa Islam di Indonesia harus diinstitusionalkan dengan mendukung pendirian negara Islam Indonesia sementara sebagiannya yang lain tidak menyepakati hal itu. Dengan kata lain, Islam dicukupkan menjadi agama yang mewarnai kehidupan kebangsaan sebagaimana agama-agama yang lain.

Dari zaman Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama hingga Orde Baru berkuasa, perdebatan antara tentang hubungan Islam dan negara masih terus berlanjut. Tidak sirna. Semangat untuk menginstituionalkan   masih terus mengemuka, sedangkan kelompok nasionalis, yang tidak mendukung Islam menjadi negara, tetap kukuh dengan argumen kebangsaannya dengan menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa (nation state), bukan negara agama seperti yang diinginkan kelompok Islam.

Salah satu motor dan penggerak Islam sebagai negara di era Orde Baru adalah DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Pendirinya adalah Muhammad Natsir. Kehadiran DDII   di dalam halaman politik Orde Baru ini merupakan respons atas kebijakan Soeharto yang dianggap lebih menguntungkan orang-orang Kristen.

Karena itu, jika kita menilik sejarah berdirianya DDII ini, maka setidaknya akan ditemukan dua maksud politis mereka di balik berdirinya DDII itu: Pertama, dimaksudkan untuk merespons ancaman pemurtadan. Kedua, juga untuk bersaing dengan misionaris Kristen di berbagai daerah. Sebab, bagi DDII, dominasi komunitas non-Islam yang terjadi kala itu telah dianggap sebagai penghambat dan ancaman atas eksistensi Islam.

Selain itu, motivasi mereka untuk segera membentuk negara Islam Indonesia karena bagi DDII, Islam adalah komunitas mayoritas. Karena itu, bagi mereka sudah sepatutnya bagi Islam untuk dijadikan dasar penyelenggaraan negara. Yang hal itu kemudian mendorong DDII menyusup ke dalam berbagai lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan ormas-ormas lainnya (halaman 18).

Di tengah situasi yang tak menentu terkait hubungan Islam dan negara yang seperti itu, Nurcholis Majid—Cak Nur—datang dengan semangat pembaharuan Islamnya. Ia datang sebagai penengah di antara perdebatan berkepanjangan itu. Ia muncul sebagai sosok baru dengan gagasan baru dengan argumen-argumen keislaman dan keindonesiaan yang  segar.

Disaat sejumlah kelompok gencar hendak menginstitusionalkan Islam dalam bentuk partai politik dan negara, yang oleh mereka dianggap sebagai bentuk ketaatan terhadap Islam Cak Nur menolak hal itu dengan memunculkan jargon “Islam yes, partai Islam no”. Sebab, bagi Cak Nur, Islam dalam bentuk partai politik atau bahkan dalam bentuk negara sama sekali bukanlah satu-satunya representasi keislaman.

Cak Nur, dengan prinsip tauhidnya menyerukan agar umat Islam berhenti menyucikan sesuatu yang tidak suci. Ia berpandangan bahwa hal yang penting untuk dilakukan umat Islam adalah konsisten terhadap prinsip tauhid yang dianutnya, serta melepaskan dari yang tidak sakral selain kepada Tuhan. Dengan kata lain, pemutlakan itu hanya kepada Tuhan (halaman 57), bukan kepada institusi-institusi politik yang rentan dengan kepentingan politik tertentu.

Karena itu, pada titik ini Cak Nur menginginkan ada pembaharuan Islam. Ia kemudian menawarkan gagasan sekularisasi Islam. Dalam pandang Greg Barton, gagasan sekularisasi yang ditawarkan oleh Cak Nur adalah sebuah pemutlakan transendensi hanya kepada Tuhan. Juga, sebagai sebuah proses menuju pembebasan pikiran dari kendala-kendala ideologis. Partai politik yang berbasiskan Islam, atau bahkan negara Islam itu sendiri yang selama ini dianggap sakral, menurut Cak Nur perlu untuk didesakralisasikan. Sehingga praktik dan pemikiran-pemikiran Islam bisa dievaluasi secara objektif.

Di dalam konstestasi politik muslim Indonesia, reinterpretasi Islam Cak Nur menjadi landasan untuk pembangunan nasional di masa Orde Baru sekaligus berpengaruh pada perkembangan dan dinamika pemikiran Islam setelahnya. Selain itu, menurut Abu Muslim, dalam gerakan penerus gagasannya, didapati arah baru atau perubahan orientasi keagamaan umat Islam dari yang bercorak formalistik menuju yang substansialistik.

Facebook Comments