Cegah Radikalisme Anak dengan Internalisasi Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’limul Muta’alim

Cegah Radikalisme Anak dengan Internalisasi Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’limul Muta’alim

- in Suara Kita
400
1
Cegah Radikalisme Anak dengan Internalisasi Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’limul Muta’alim

Paham radikal mudah merasuki generasi muda, khususnya siswa SMA dan mahasiswa baru yang belum memiliki pondasi dan bekal karakter yang kuat. Oleh karenanya, pendidikan karakter harus diterapkan sejak dini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan radikalisme di lingkungan sekolah dapat dicegah melalui penguatan pendidikan karakter.

Gagalnya sebuah pendidikan karakter yang terjadi selama ini disebabkan karena pendidikan karakter yang diajarkan minus nilai keimanan dan konsep adab. Sehingga, proses pembangunan karakter tersendat bahkan hilang sama sekali. Untuk membentuk pelajar yang berkarakter dan beradab, maka pendidikan Islam harus mengarahkan target pendidikan pada pembangunan individu yang memahamai tentang kedudukannya, baik kedudukan di hadapan Tuhan, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Pendidikan karakter dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim karangan oleh Syech Burhanuddin al- Zarnuji adalah internalisasi nilai-nilai adab ke dalam pribadi siswa. Internalisasi ini merupakan proses pembangunan jiwa yang berasaskan konsep keimanan. Kitab Ta’lim al-Muta’allim merumuskan tiga metode penting dalam pembentukan karakter yang mencakup adab dhahir dan batin, meliputi metode ilqa’ al-nasihah (pemberian nasehat) dan kasih sayang; metode Mudzakarah, Munadharah, dan Mutharahah; Metode pembentukan mental jiwa.

Metode Ilqa’ Al-Nasihah (Pemberian Nasihat) dan Kasih Sayang

Dalam metode pemberian nasihat dan kasih sayang, Syekh al Zarnuji menjelaskan bahwa orang alim hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi nasehat serta jangan berbuat dengki. Dengki tidak akan memberikan manfaat, justru membahayakan diri sendiri. Apabila pendidik sudah kehilangan kasih sayangnya pada peserta didik, hal ini menandakan pendidikan mulai kehilangan jati dirinya.

Oleh karena itu, bagaimanapun canggihnya komputer dalam membantu kegiatan pembelajaran, tetap tidak akan dapat menggantikan peran dan fungsi guru. Dengan demikian proses pembelajaran akan dapat mencapai tujuan secara optimal bila dilandasi oleh kasih sayang guru dalam setiap tindakan pembelajaran.

Baca juga : Menerjemahkan Semangat Berjamaah di Bulan Suci untuk I’tikad Rekonsiliasi

Dorothy Law Nolte  menegaskan bahwa, “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”

Metode Mudzakarah, Munadharah, dan Mutharahah

Seorang pelajar seharusnya melakukan mudzakarah (forum saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu pandangan) dan mutharahah (diskusi). Munadharah dan mudzakarah adalah cara dalam melakukan musyawarah, sedang permusyawaratan itu sendiri dimaksudkan guna mencari kebenaran. Karena itu, harus dilakukan dengan penghayatan, tidak tergesa-gesa dan penuh keyakinan. Tidak akan berhasil, bila dilaksanakan dengan cara kekerasan dan berlatar belakang yang tidak baik.

Syeikh al-Zarnuji memberi rambu-rambu agar ketika mengingatkan siswa tidak melampaui batas karena bisa menyebabkan siswa tidak menerimanya. Guru harus memiliki sifat lemah lembut, menjaga diri dari sifat pemarah. Seorang guru harus mampu mengembangkan situasi kelas yang memungkinkan pertukaran ide secara bebas dan terbuka.

Dalam pembelajaran di kelas, guru berperan sebagai fasilitator, organisator dan motivator. Hal ini dikarenakan setiap kajian keilmuan yang ada dimungkinkan tidak dapat secara langsung dipahami oleh siswa. Ketika dihadapkan pada suatu permasalahan atau kajian ilmu, pegetahuan sebelumnya diperlukan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan barunya tersebut. Siswa yang mampu menemukan benang merah antara permasalahan tersebut dengan permasalahan sebelumnya, maka siswa akan berusaha menyelidiki terlebih dahulu apa yang menjadi konsep utama yang ada dalam permasalahan tersebut.

Metode Pembentukan Mental Jiwa

Dalam metode ini ditekankan beberapa aspek yaitu: niat, menjaga sifat wara’, istifadah (mengambil faedah guru), dan tawakkal. Syeikh al-Zarnuji menjelaskan, sukses dan gagalnya pendidikan Islam tergantung dari benar dan salahnya dalam niat belajar. Niat yang benar yaitu niat yang ditujukan untuk mencari ridha Allah SWT, memperolah kebahagiaan (sa’adah) di dunia akhirat, memerangi kebodohan yang menempel pada diri dan melestarikan ajaran Islam.

Harus ditekankan kepada anak didik bahwa belajar itu bukan untuk mendapatkan popularitas, kekayaan atau kedudukan tertentu, tapi mendapatkan ridha Allah. Selama dalam proses belajar, anak didik harus dibiasakan bersifat wara’ (menjaga diri).

Aspek selanjutnya adalah dengan metode istifadah yakni, guru menyampaikan ilmu dan hikmah, menjelaskan perbedaan antara yang haq dan batil dengan penyampaian yang baik sehingga murid dapat menyerap faidah yang disampaikan guru. Seorang murid dianjurkan untuk mencatat sesuatu yang lebih baik selama ia mendengarkan faidah dari guru sampai ia mendapatkan keutamaan dari guru.

Nilai batiniyah berikutnya adalah tawakkal dalam mencari ilmu. Guru harus menanamkan dengan kuat dalam jiwa murid untuk bersikap tawakal selama mencari ilmu dan tidak sibuk dalam mendapatkan duniawai. Sebab, menurut al-Zarnuji, terlalu sibuk dalam mendapatkan duniawi dapat menjadi halangan untuk berakhlak mulia serta merusakkan hati. Sebaliknya, baik guru maupun murid harus menyibukkan dengan urusan ukhrawi. Sebab pada hakikatnya kehidupan itu adalah dari Allah dan untuk Allah, maka seorang siswa itu harus siap dengan segala konsekuensi kehidupan.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, anak muda akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi inilah yang kemudian menjadi bekal penting untuk menyongsong masa depan yang cerah.

Melalui pendidikan karakter pula, diharapkan akan terbentuk karakter generasi bangsa yang bertanggungjawab, toleran, dan menghargai perbedaan, serta bijaksana dalam menyikapi beragam problematika kebangsaan. Bukan hanya radikalisme saja yang dapat dihapuskan, penanaman nilai-nilai karakter bangsa juga mampu menekan terjadinya kekerasan hingga mentalitas korup.

Facebook Comments