Collective Conciousness Membentuk Smart Netizen yang Bijak Bermedia Sosial

Collective Conciousness Membentuk Smart Netizen yang Bijak Bermedia Sosial

- in Suara Kita
407
1
Collective Conciousness Membentuk Smart Netizen yang Bijak Bermedia Sosial

Hasil riset dari We Are Social, perusahaan media sosial asal Inggris, bersama dengan Hootsuite. Dalam laporan “Digital Around The World 2019”, terungkap bahwa dari total 268,2 juta penduduk di Indonesia. Diantaranya 150 juta telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasinya sekitar 56 persen. Hasil riset yang diterbitkan 31 Januari 2019 lalu itu memiliki durasi penelitian dari Januari 2018 hingga Januari 2019. Terjadi peningkatan 20 juta pengguna media sosial di Indonesia dibanding tahun lalu.

Berdasarkan hasil riset di atas, dapat dikatakan bahwa pengguna media sosial di Indonesia mencapai lebih dari setengah penduduk Indonesia. Tentunya tanpa ada lagi batasan umur dan juga status sosial disini. Mengingat seluruh komponen masyarakat sudah dapat menjangkau internet dengan mudah, dan aktif menggunakan smartphone dalam kesehariannya. Ironisnya, kondisi ini tidak membuat kondisi perdamaian di Indonesia membaik. Justru memperburuk keadaan dimana, netizen (Pengguna media sosial) cenderung menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian dimedia sosial.

Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya virtual violence antar netizen. Virtual violence merupakan budaya baru yang lahir diakibatkan adanya kekerasan dan perpecahan virtual. Yang semuanya berawal dari media sosial. Hal ini yang jika terus dibiarkan akan berujung pada perpecahan yang dapat mengganggu keutuhan bangsa nantinya. Karena konflik di media sosial yang dibesar-besarkan dan berujung pada konflik serta perpecahan di dunia nyata.

Baca juga : Merawat Perdamaian Sejak dalam Media Sosial

Melihat semakin bobroknya media sosial diakibatkan oleh beberapa oknum yang entah untuk kepentingan pribadi maupun kelompok ingin menciptakan perpecahan, diperlukan suatu upaya untuk menekan peningkatan virtual violence tersebut. Salah satunya adalah melalui gerakan Collective Conciousness. Gerakan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama seluruh masyarakat khususnya netizen dalam menggunakan sosial media.

Gerakan collective conciousness diharapakan dapat menumbuhkan kesadaran untuk dapat bijak dalam menggunakan media sosial. Karena, tanpa kesadaran dari masing-masing pengguna medsos, tentu akan sulit mewujudkan hal tersebut. Kesadaran ini dapat ditempuh dengan berbagai cara yang tentunya tidak mengurangi tingkat penggunaan netizen dalam bermedia sosial, karena hal tersebut tidaklah mungkin. Mengingat manusia saat ini tidak dapat dipisahkan dari media sosial. Hanya saja dapat dilakukan dengan mengalihkan pada hal-hal positif yang membangun.

Kesadaran dari diri sendiri untuk menjadi pengguna medsos yang bijak menjadi modal utama untuk terwujudnya collective conciousness ini. Mengingat apa yang kita sebar akan menjadi santapan seluruh pengguna media sosial. Sehingga perlu sejak dini kita menganalisis, apakah berita yang kita share itu benar? Apakah akan timbul konflik jika kita membagikannya kepada publik? Apakah akan ada yang sakit hati dengan postingan yang kita buat?   Dua hal yang dapat menjadi patokan utama dan menjadi tagline positif kita dalam bermedia sosial.

Pertama think before posting. Kita perlu berfikir secara kritis tidak asal-asalan dalam memposting sesuatu dimedia sosial. Setiap membuat suatu postingan baik itu di Blog, story WhatsApp, Instagram, Facebook, ataupun Twitter ingatlah selalu jika penggunanya bukan hanya kita sendiri. Melainkan banyak orang lain yang mayoritas dekat dengan kita sehari-hari. Think disini diperlukan agar kita memikirkan kembali apakah postingan kita memberikan manfaat atau justru melukai dan membuat sakit hati orang lain.

Kedua saring before sharing. Hal ini sangat dibutuhkan ketika kita memperoleh berita maupun informasi di media sosial. Jangan karena ingin memberi manfaat pada orang lain kita asal share  berita yang kita peroleh. Sebelumnya, kita perlu klarifikasi kebenaran dan melakukan penyaringan pada berita yang ingin kita share. Karena tidak dapat dipungkiri, berita hoaks beredar dengan pesatnya apalagi dimedia sosial. Sehingga kita juga perlu berhati-hati dalam menyebarkan berita.

Dua hal diatas, merupakan sedikit dari banyak cara untuk menumbuhkan kesadaran dari diri sendiri dalam menggunakan media sosial. Berangkat dari pribadi netizen yang sudah sadar akan pentingnya menjadi bijak dalam bermedia sosial, dapat sedikit membantu dalam membangun collective conciousness seluruh netizen di Indonesia. Sehingga dapat mengurangi timbulnya virtual violence.

Tentunya bukan hal yang mudah dalam menangkal segala bentuk dampak negatif dari media sosial. Hal ini mengapa diperlukan adanya gerakan collective conciousness seluruh komponen pengguna aktif media sosial. Diharapkan melalui gerakan ini dapat melahirkan Smart Netizen yang bijak dalam bermedia sosial. Dan mampu mengurangi perpecahan serta meningkatkan persatuan bagi bangsa kita, Indonesia

Facebook Comments