Dakwah Berperspektif Kebinekaan dalam Bingkai Primbumisasi Islam

Dakwah Berperspektif Kebinekaan dalam Bingkai Primbumisasi Islam

- in Suara Kita
269
0

Problematika terkait relasi agama dan budaya seolah tidak pernah usai diperdebatkan. Dari waktu ke waktu, polemik ihwal relasi agama dan budaya seolah tidak pernah surut. Di kalangan Islam sendiri isu relasi agama dan budaya disikapi beragam. Di satu sisi, ada golongan yang menganggap bahwa agama dan budaya ialah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dan sama-sama berpengaruh bagi peradaban manusia. Cara pandang ini muncul dari kalangan muslim moderat-progresif yang cenderung adaptif terhadap budaya dan tradisi.

Di sisi lain, ada golongan yang menempatkan agama dan budaya dalam nalar segregatif. Dalam artian, agama dan budaya ialah dua entitas yang berbeda dan tidak bisa dipersatukan. Bagi golongan ini, agama ialah ajaran yang berasal dari Tuhan dan bersifat sakral. Sedangkan budaya adalah hasil cipta manusia yang bersifat profan. Pandangan ini terutama disokong oleh kelompok konservatif-fundamentalis yang menghendaki Islam steril dari pengaruh budaya dan tradisi.

Viralnya peristiwa penendangan sesajen di sekitar Gunung Semeru tempo hari membuktikan bahwa polemik ihwal relasi agama dan budaya itu belum selesai. Bagi kaum konservatif, sesajen dan beragam jenis tradisi lainnya ialah bagian dari kemusyrikan dan kemungkaran pada Allah. Tidak peduli apakah persembahan sesajen itu dilakukan oleh umat Islam apalagi oleh umat agama lain. Penendangan sesajen di Semeru ini sebenarnya bukan fenomena baru.

Problem Relasi Agama dan Budaya

Peristiwa serupa, terjadi berulang kali di banyak wilayah Indonesia. Hal ini menandai masih akutnya problem terkiat relasi antara agama (Islam) dan budaya atau kearifan lokal. Dalam konteks inilah relevan kiranya mengelaborasi kembali gagasan primbumi Islam yang pernah digaungkan oleh mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Secara sederhana, ide pribumisasi Islam itu dapat dimaknai sebagai sebuah proses membumikan ajaran-ajaran Islam agar sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal setempat.

Dalam konteks keindonesiaan, pribumisasi Islam bermakna penyelarasan antara ajaran Islam dengan budaya Nusantara yang lebih dulu mapan. Agenda pribumisasi Islam ini dimunculkan sebagai respons atas gencarnya gelombang “arabisasi” yang berupaya mengubah kultur Nusantara menjadi sepenuhnya kearab-araban. Pribumisasi Islam bukan berorientasi pada sinkretisme alias pencampuradukan akidah agama dengan unsur kebudayaan. Pribumisasi Islam juga bukan agenda jawanisasi, yakni mengubah ajaran Islam agar sesuai dengan kebudayaan Jawa.

Kata kunci dari pribumisasi Islam ialah akulturasi. Yaitu terjadinya proses persinggungan antara dua kebudayaan yang tidak menghapus salah satu budaya namun memperkaya keduanya. Agenda pribumisasi Islam sangat penting untuk mendialogkan sekaligus mencari titik temu antara ajaran agama dan nilai budaya setempat. Tujuannya ialah agar di satu sisi, agama tidak kehilangan nilai kesuciannya, namun di sisi lain masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya.

Agenda Pribumisasi Islam

Gagasan pribumisasi Islam muncul dilatari kesadaran bahwa agama hadir tidak untuk menghapus tradisi dan budaya yang sudah ada sebelumnya. Melainkan untuk menyempurnakan tradisi dan budaya tersebut. Maka, wujud konkret pribumisasi Islam bukanlah merombak atau mendekonstruksi akidah agama, melainkan menciptakan ekspresi keberislaman dengan citarasa lokal. Misalnya, arsitektur masjid di Indonesia tidak harus sama persis dengan model masjid di Arab atau Timur Tengah.

Muara dari ide pribumisasi Islam ala Gus Dur ialah melahirkan praktik keberislaman yang adaptif pada kearifan lokal (local wisdom) dan loyal pada NKRI serta Pancasila. Agenda ini kiranya relevan dengan upaya mengarusutamakan dakwah keislaman yang berperspektif kebinekaan. Dakwah Islam berwawasan kebinekaan ini penting dalam konteks Indonesia yang sangat kaya akan kultur lokal.

Mengimplementasikan model dakwah berwawasan kebinekaan ini memang bukan perkara muda. Dakwah provokatif dan destruktif hanya membutuhkan militansi dan keberanian. Sedangkan dakwah berperspektif kebinekaan membutuhkan bukan hanya militansi, namun juga pengetahuan yang mumpuni serta kesediaan bersikap arif-bijaksana.

Melalui dakwah berperspektif kebinekaan ini, kita patut optimistik mampu menghadirkan wajah Islam yang kosmopolit. Yaitu satu cara pandang keislaman yang menganggap seluruh entitas manusia memiliki kedudukan yang sejajar. Nalar kosmpolitan ini akan menghindarkan kita dari sikap over-reaktif dan perilaku destruktif dalam menyikapi perbedaan keyakinan dan ritual keagamaan.

Tugas kita (kaum muslim moderat) ke depan ialah membangun model dakwah berwawasan kebinekaan. Dakwah yang menganggap kultur dan tradisi bukan sebagai ancaman, alih-alih bisa memperkaya ekspresi keagamaan. Dengan begitu, polemik dan kontroversi seputar relasi agama dan budaya kiranya bisa diakhiri.

Facebook Comments