Dakwah Kearifan Lokal “Mbah Meyek”

Dakwah Kearifan Lokal “Mbah Meyek”

- in Suara Kita
164
0

Mimbar dakwah bukanlah arena bebas untuk memberi cap buruk kelompok lain. Jalan dakwah yang ideal mustinya membuat “kepala” umatnya dingin, bukan malah memicu konflik sosial membesar. Dalam KBBI online, terminologi dakwah dipahami sebagai “penyiaran” atau “propaganda”.

Dalam pemahaman yang lebih sederhana, kakek moyang kita di masa lampau juga jago berdakwah alias menyiarkan pengetahuan bertemali dengan harmoni manusia dengan alam dalam kacamata ekologi budaya. Pesan dakwahnya tidak gamblang. “Wong Jawa sugih kawruh kang sinandi,” demikian ujaran bagi peneliti tatkala menganalisa makna yang tersembunyi dalam ritual masyarakat Jawa. Dari kacamata sejarah-antropologi, tidak sedikit upacara tradisional dipakai untuk membungkus pengetahuan merawat lingkungan.

Di Kota Solo, misalnya, hingga kini masih dijumpai ritual sumur Mbah Meyek. Tepatnya di Kampung Bibis Kulon, jaraknya kurang lebih 3 kilometer dari pusat pemerintahan. Sekalipun mayoritas penduduk Kampung Bibis Kulon beragama Islam, namun mereka tetap saja menghormati kepercayaan leluhur. Contohnya, mereka percaya terhadap adanya kekuatan gaib, mahluk halus dan lainnya yang berada di pohon besar dan sumur atau sendang.

Kampung tersebut memang tercatat memiliki 4 tempat keramat, yaitu punden yang berupa sumur Mbah Meyek, sumur Mbah Bandung, pohon asam Mbah Asem Kandang, serta pohon asam Mbah Kaji. Dari sekian pepunden yang dianggap wingit tersebut, agaknya hanya sumur Mbah Meyek yang melegenda di sanubari masyarakat setempat.

Setahun sekali, dihelat acara bersih desa. Warga beramai-ramai membersihkan lingkungan sumur. Sewaktu warga ditanya mengapa selalu menyelenggarakan ritual tahunan ini, mereka menjawab ada beberapa alasan. Antara lain, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, ungkapan terima kasih kepada roh leluhur dan pepunden kampung lantaran telah menjaga keselamatan kampung, dan membersihkan lingkungan Kampung Bibis Kulon. Diriwayatkan, kala Jepang menduduki bumi Indonesia, penduduk kampung pernah tidak diperkenankan mengadakan upacara bersih desa, sebab tentara Jepang melarang masyarakat berkumpul. Imbasnya, terjadilah malapetaka di kampung ini. Penduduk terserang wabah penyakit, yang konon dipercayai para pundhen murka.

Dituturkan pula, akibat tidak menyelenggarakan wayangan, pedagang-pedagang di kampung bangkrut. Sering dalang kondang mengisi hajatan ini, macam Ki Anom Suroto dan Warseno Slank. Di situ, mereka mendalang bukan mencari sesuap nasi, melainkan untuk ngalap berkah dari Mbah Meyek. Realitas beberapa dalang terkenal mendalang di sumur Mbah Meyek dengan tarif yang jauh lebih rendah dari biasanya saat tampil di tempat lain ialah bukti sakralnya upacara penghormatan kepada Mbah Meyek.

Baca Juga : Menjalin Toleransi Melalui Dakwah Yang Santun

Di dalam kegiatan yang dikerjakan secara turun temurun ini, ditemukan potret kerukunan (guyup) warga yang sangat mengedepankan rasa kebersamaan. Betapa tidak, biaya untuk menyelenggarakan kegiatan diperoleh dari iuran wajib bagi tiap kepala keluarga, selain dari donatur yang peduli terhadap nilai tradisi budaya. Memang ada beberapa pengkritik menyoal dana kampung sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih baik dan rasional, namun itu tiada pernah dilontarkan secara terbuka dan juga pendapat yang dominan sehingga tak mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat yang terlanjur kuat. Di benak warga, kelestarian lingkungan Kampung Bibis Kulon berasal dari sumur dan pohon asam unik yang tumbuh dari dalamnya.

Pesan Tersembunyi

Cerita tentang ritual ialah metode pembelajaran informasi yang alamiah dan persuasif. Sebelum orang mengenal tulisan, cerita rakyat adalah media jitu untuk menanamkan nilai-nilai sosial budaya yang adiluhung oleh orang tua dan nenek moyang kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya, makna apa yang sebetulnya tersimpan dalam folklor sumur Mbah Meyek yang masih dilestarikan dari waktu ke waktu oleh penduduk Kampung Bibis Kulon itu?

Ingat, jikalau kita tiada bisa membedahnya, cerita rakyat tersebut cuma berhenti sebagai pengantar tidur saja, sepi makna. Padahal, sebagaimana diketahui bahwa folklor merupakan alat canggih untuk mengonstruksi pemahaman yang nyata (realis) atau imajinatif atas keadaan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekitar. Atau dalam bahasa ilmiahnya, para antropolog dan sejarawan kerab menyebut: ada pesan di balik mitos atau folklor. Publik sering tak menyadari kearifan semesta berada di sekitarnya yang terbungkus rapi dalam mitos.

Warga Kampung Bibis Kulon —seperti masyarakat kebudayaan Jawa pada umumnya— berakar pada tradisi agraris, berusaha memberi penghormatan terhadap air pedhayangan desa yang berwujud sumber air, walaupun kini orang tidak banyak memakai air sumur karena telah tergantikan air ledeng. Sumur Mbah Meyek, satu-satunya sumber mata air di Kota Solo yang terjaga dan dipelihara hingga detik ini. Dan, ritual Mbah Meyek bagaikan sebuah alarm peringatan supaya manusia mau merawat sumur, lantaran air yang ada di dalamnya dulu mempunyai faedah besar bagi kehidupan manusia.

Hidupnya mitos sumur Mbah Meyek mengajak publik untuk tidak berhenti melakukan dialog (refleksi) sejarah budaya bahwa leluhur kita tempo doeloe sebelum mengenal mesin pompa air, bikin sumur atau belik guna memenuhi kebutuhannya. Dalam cerita ini, meskipun samar, telah terjadi pengekalan konsep sumur yang dewasa ini diabaikan oleh masyarakat yang mengaku modern. Dahulu, karena sudah menjadi instrumen utama dalam kehidupan sehari-hari, mau tak mau sumur ikut diperhitungkan dalam tata ruang rumah Jawa.

Ia memang sengaja ditempatkan di luar rumah —sebagaimana sumur Mbah Meyek yang ditempatkan di tanah lapang— lantaran berfungsi ganda sebagai ruang publik. Tetangga yang tiada memiliki sumur, akan begitu mudah mengambil air dengan gratis. Di ruang ini, berlangsung interaksi sosial. Buahnya, aktivitas tersebut lambat laun manjur untuk kian mempererat jalinan sosial antarsesama. Dan, masyarakat luas disadarkan betapa dibutuhkannya sikap saling tolong-menolong di dunia ini. Alhasil, sumur menjelma menjadi simpul kearifan sosial yang menyiratkan vitalnya hubungan sosial, dan juga mengkritik orang yang lebih mengedepankan sifat individual gara-gara efek negatif dari arus modernisasi dan globalisasi.

Kalau dicermati, tradisi tahunan membersihkan sumur Mbah Meyek dan lingkungan kampung berkaitan erat dengan konsep magis nenek moyang perihal kesehatan. Kepercayaan orang Jawa, sumur dipakai pula sebagai pembersih raga dan jiwa. Kepercayaan tersebut seakan memiliki daya kekuatan mengajak masyarakat kontemporer agar senantiasa sadar untuk hidup bersih, baik lahir maupun batin. Sumur Mbah Meyek menjadi simbol sumber kehidupan yang menggenggam pesan local wisdom. Boleh dibilang, sumur adalah sumber inspirasi kehidupan Kampung Bibis Kulon.

Demikianlah, ritual sumur Mbah Meyek bukan tindakan beraroma klenik, melainkan strategi “penyiaran” dalam religi lama. Kisah yang didakwahkan bukan sekadar pengantar tidur anak-anak untuk menjemput mimpi di malam hari. Guna menangkal aksi perusakan terhadap ritual budaya warisan leluhur, cerita ritual rakyat yang mengandung nilai local genius semacam ini perlu dipublikasikan secara luas. Juga didongengkan di kalangan generasi muda dengan memikat. Tiada salahnya dikreasikan menjadi bahan ajar muatan lokal di bangku sekolah. Ritual tradisional adalah strategi kebudayaan sekaligus kekayaan budaya yang dimiliki komunitas untuk menjaga lingkungan hidup agar tidak dieksploitasi seenaknya hingga mengundang bencana, selain memupuk spirit gotong royong di level lokal.

Facebook Comments