Dakwah Santun, Menuntun Untuk Hidup Rukun

Dakwah Santun, Menuntun Untuk Hidup Rukun

- in Suara Kita
160
1
Dakwah Santun, Menuntun Untuk Hidup Rukun

Derasnya caci maki saat ini, tanpa kita sadari, ternyata sudah merengsak masuk ke mimbar-mimbar terhormat. Dalam mimbar sakral seperti dakwah, penafsiran agama sering dipaksa untuk memojokkan kelompok tertentu yang tidak satu pandangan. Kadang kala, caci maki juga turut dilibatkan dalam argumen dan dibungkus sedemikian rupa untuk mengemis pengakuan, agar kelompok, sekte dan mazhab yang diyakini dan dianutnya sebagai satu-satunya jalan kebenaran, selainnya diannggap tersesat.

Mirisya, Beberapa pelaku dakwah ternyata ada yang tidak mempermasalahkan itu, asalkan itu dimaksudkan untuk memberi nilai bagi kelompoknya. Tak jarang dengan dakwah model seperti ini menyemai dan menyuburkan benih-benih kekerasan. Akibatnya, jika kita melihat iklim sosial kita saat ini, amat begitu menggerahkan dan tidak pernah berhenti dari caci maki antarkelompok dan agama, yang bisa jadi peristiwa ini terinspirasi dari kaum elit agama yang membubuhi ceramahnya dengan kebencian dan caci maki.

Poteret semacam ini adalah gambaran kegagalan dakwah untuk mendorong manusia agar menciptakan persatuan, kesatuan dan menolak kekerasan atas nama apa pun. Sebab itu, setiap pelaku dakwah perlu meninjau kembali etika dakwah serta konstruksi keagamaan yang semestinya humanis dan progresif, non-elitis dan non-hegemonik. Agar tidak membuat gaduh dan diskriminatif terhadap orang lain.

Dalam tataran ini, umat beragama, perlu memahami bahwa agama diciptakan Tuhan untuk manusia. Agar manusia hidup dengan aturan terikat yang berdimensi transendental, tidak berprilaku bebas sesuka hati dan melanggar martabat manusia lain. Artinya, tidak ada ajaran agama yang melanggar hak-hak manusia, justru agama ada untuk melindungi hak itu. Bila mana ada ajaran satu agama yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan atau merendahkan derajat manusia lain, termasuk keyakinannya, hal itu sama sekali tidak terlahir dari substansi ajaran, bisa jadi itu hanya penafsiran individu yang kaku dan gagal memahami pesan-pesan dan nilai universal agama.

Membujuk Tanpa Mengejek

Dakwah seyogiyanya diletakkan di atas pondasi promosi kemanusiaan, Bahkan berkali-kali Tuhan menyatakan, Dia hanya berpihak kepada penolong dan pembela manusia yang memerlukan, bukan kepada orang yang mencari kebenaran dengan menginjak-injak kebenaran orang lain, juga bukan orang-orang yang mempromosikan surga dengan menapikan surga orang lain. Dengan begitu dakwah berdampak pada kemajuan kerukunan umat beragama.

Baca Juga : Pentingnya Dakwah Santun di Ruang Publik Virtual

Pola dakwah yang selama ini hanya berkutat memebeberkan perbedaan dan berupaya untuk diseregamkan sudah sepatutnya untuk digeser kepada dakwah yang menghargai perbedaan, baik itu perbedaan aliran/madzhab bahkan keyakinan agar tidak terlalu jauh mengomentari keyakinan orang lain. Karena dikhawatirkan jatuh kepada cemooh dan penghinaan yang bisa saja menciderai perasaannya sebagai pemeluk agama tertentu.

Sejenak bila kita tinjau ke masa lalu,  di awal masuknya Islam ke nusantara, bisa dikatakan, dakwah Islam tidak mengalami perlawanan yang berarti dari penganut agama lokal. Bahkan mayoritas penghuni nusantara cenderung menerima. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, pasti ada faktor tertentu yang menjembatani antara Islam dengan keyakinan lokal yang di anut oleh penghuni nusantara. Di antara faktor yang paling memengaruhi keberhasilan penyebaran Islam itu adalah  kearifan para ulama nusantara. Dalam catatan sejarah, ada yang kita kenal dengan sebutan wali songo di Jawa, Hamzah al-Fansuri di Sumatera, Muhammad Arsyad al-Banjari di kalimantan dan lain sebagainya.

Pertanyaannya kemudian, apa yang istimewa dari pola dakwah para da’i penyebar agama Islam di masa lalu itu?.  Tentu sangat banyak, akan tetapi ada satu hal yang sangat penting untuk diterapkan para pelaku dakwah sekarang ini, yaitu berdakwah tanpa kekerasan, mengajak tanpa mengejek. Berkaca lewat Para da’i yang menyebarkan Islam keseluruh lapisan masyarakat nusantara di era awal tersebut, tergambar jelas kemampuan mereka memperkenalkan wajah Islam yang ramah dan menggembirakan. Uniknya, perkara tauhid/teologi sekalipun bisa diperkenalakan tanpa mengejek keyakinan setempat. Istimewanya lagi, kecerdasan dan kearifan para da’i masa lalu mampu menggunakan pendekatan sosial dan kultural setempat.

Pada akhirnya, dengan memperbaiki problema dakwah seperti di atas, dengan mengikuti pola keberhasilan dakwah penyebar Islam di nusantara diharapkan risalah Islam bisa dihadirkan kembali seperti kehadirannya ketika didakwahkan oleh Rasulullah Saw. Suatu risalah kenabian humanis/rahmatan lil alamin yang hidup dan menggembirakan bagi seluruh masyarakat di mana Islam di dakwahkan. Kesediaan pelaku dakwah mengubah paradigma untuk diletakkan di atas basis kepentinagan mayoritas umat bukan individu atau kelompok tertentu, insyaallah akan mencipatakan dakwah yang berkualitas yang menjunjung nilai persatuan dan dengan sendirinya akan membentuk kerukunan dan pengertian antarpemeluk agama yang berbeda, lebih-lebih saudara satu agama.

Facebook Comments