Dakwah : Utamakan Qudwah Hasanah daripada Mau’idzah Hasanah

Dakwah : Utamakan Qudwah Hasanah daripada Mau’idzah Hasanah

- in Suara Kita
133
0
Dakwah : Utamakan Qudwah Hasanah daripada Mau’idzah Hasanah

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata” (Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi)

Kata mutiara di atas sangat relevan untuk dakwah hari ini, dimana teladan yang baik (qudwah hasanah) jauh lebih dibutuhkan dari pada sekedar nasihat yang baik (mau’idzah hasanah). Apalagi hari ini dunia dakwah dihadapkan dengan arus teknologi informasi yang semakin canggih. Adanya medsos sebagai imbas dari kecanggihan teknologi informasi ini, disatu sisi membuat dakwah tersebar luas. Namun, yang banyak menyebar adalah dakwah model nasihat (mau’idzah) yang disampaikan lewat ceramah.

Dakwah lewat saluran video (youtube dan aplikasi lainnya), live streaming di facebook dan instagram, hingga acara dakwah di televisi, semua disampaikan melalui metode ceramah. Maka menjamurlah ajakan dakwah ke berbagai penjuru. Selama ada fasilitas untuk mengaksesnya, maka bisa mendengarkan ceramah dari para ulama via medsos maupun televisi.

Kemajuan ini tentu merupakan progress yang menggembirakan bagi perkembangan Islam. Masyarakat yang selama ini acuh tak acuh dengan dakwah, bisa tersentuh hatinya setelah mengakses materi keislaman melalui medsos. Akan tetapi, ditengah gegap-gempita perkembangan tersebut, tersimpan keburukan yang justru bisa merongrong dakwah. Pertama, banyak bermunculan “ustadz karbitan” yang gemar berdakwah. Disebut ustadz karbitan, karena mereka memiliki semangat beragama yang tinggi tetapi tidak memiliki basic ilmu agama yang luas. Mereka berani berdakwah di medsos, karena tidak berat dilakukan.

Baca Juga : Dakwah Santun, Menuntun Untuk Hidup Rukun

Kedua, semakin miskinnya keteladanan (qudwah) yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat. Orientasi dakwah bergeser hanya sebatas aspek nasihat (mau’idzah) yang disampaikan dengan bahasa memukau, gaya bicara yang tertata, pakaian yang rapi, dan dengan teknik yang menarik. Dakwah pun akhirnya lebih banyak memenuhi aspek “entertain” dari pada fokus pada materi keislaman.

Karena dua hal inilah, dunia dakwah bisa menjelma menjadi ajang untuk saling mencaci, menghujat, dan sarang bagi ujaran kebencian. Minimnya penguasaan terhadap materi keislaman dan berjaraknya para ustadz dari kehidupan nyata masyarakat (karena hanya mengandalkan kekuatan medsos untuk berdakwah), membuat dakwah gampang merusak ketentraman umat.

Utamakan Keteladanan

Jika melihat generasi terdahulu, dari generasi sahabat sampai generasi ulama kuno (sebelum menjamurnya medsos), mereka berdakwah tidak hanya sebatas nasihat. Bahkan bisa dikatakan, mereka lebih banyak memberi teladan dari pada nasihat. Sebagaimana dicontohkan Sayyidina Umar ra. Di dalam sejarah disebutkan, ketika pasukan Umar mampu menaklukkan Yerussalem dan Umar menerima kunci kota suci tersebut, Umar tidak memaksa umat Yahudi dan Nasrani untuk memeluk Islam. Umar sendiri yang mencotohkan, dimana ketika pimpinan Yerussalem Patriach Sophronius mempersilakan Umar dan para sahabatnya shalat di gereja. Umar menolak karena khawatir ia dan para sahabatnya dianggap mengambil gereja tersebut untuk umat Islam.

Sikap Umar ini membuat kagum Sophronius. Sekaligus juga membuka cakrawala yang luas, bahwa Islam membuka jalan untuk bertoleransi. Umar sebagai sahabat yang mulia telah mencontohkan hal tersebut dengan perbuatannya, bukan hanya sekedar memberi nasihat.

Tentu bukan hanya Umar yang mempraktekkan demikian, ulama kita pun sudah mencontohkan. Seperti kisah teladan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dikisahkan oleh santrinya bernama Shorofuddin. Gus Mus ini merupakan tokoh yang dekat dengan masyarakat, termasuk kepada warga Tionghoa yang non-muslim. Ceritanya, suatu ketika tetangga sekaligus teman dekatnya yang Tionghoa, sowan ke Gus Mus. Ia meminta agar Gus Mus menshalati jenazah ayahnya.

Tanpa pikir panjang, Gus Mus mengajak para santri untuk menshalati jenazah tersebut. Sontak mereka kaget, karena yang akan dishalati adalah non-muslim. Gus Mus pun menyampaikan kepada para santri, bahwa nanti shalat yang dikerjakan adalah shalat ashar. Posisi mayat pun ditaruh di belakang shaf shalat. Selesai shalat, temannya yang Tionghoa bertanya soal posisi jenazah di belakang. Dengan arif Gus Mus menjawab, “karena ayahmu belum tau jalan kembali, sehingga ditaruh di belakang, berbeda dengan mereka yang sudah tau jalan akan ditaruh di depan”.

Kisah di atas menggambarkan keindahan Gus Mus menyikapi perbedaan dengan qudwah yang nyata. Meski Gus Mus paham bahwa non-muslim tidak boleh dishalatkan, tetapi beliau tidak mau menyinggung perasaan orang lain, sehingga Gus Mus pun mencari siasat terbaik.

Sikap Gus Mus semacam ini, adalah contoh yang nyata bagaimana dakwah mampu menentramkan masyarakat. Sikap ini tentu perlu untuk dikembangkan dalam dunia dakwah hari ini. Jangan sampai dakwah hanya sebatas mau’idzah tetapi melupakan aspek qudwah.

Facebook Comments