Dalil Regulasi Pelarangan Penggunaan Ideologi Lain

Dalil Regulasi Pelarangan Penggunaan Ideologi Lain

- in Suara Kita
223
0
Dalil Regulasi Pelarangan Penggunaan Ideologi Lain

Ideologi Khilafah, Komunis, ataupun ideologi-ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI dinilai tidak sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Dan, Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang paling tepat karena bisa merangkul semua kepentingan warganya. Dengan Pancasila, tidak ada satu kelompok warga yang terzalimi.

Pancasila bukan saja ideologi yang bersumber dari perasan pemikiran intelektual saja melainkan juga hasil dari tirakat dan ijtihad para ulama terdahulu. Bukan hanya tokoh NU (KH Wahid Hasyim) yang jelas-jelas berperan besar dalam perumusan Pancasila namun juga beberapa tokoh Muhammadiyah.

Beberapa tokoh Islam seperti Ketua PP Muhammadiyah Ki Bagus Hadi Kusumo, Muhammad Hasan dan Kahar Muzakir diajak berbicara oleh Moch Hatta untuk merumuskan Pancasila. Rumusan yang tadinya menyebutkan ‘ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’ akhirnya berhasil dicarikan solusi. Ki Bagus Hadi Kusumo hadir dengan rumusan yang sekarang berbunyi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. (Sindonews.com).

KH Wahid Hasyim sendiri merupakan satu dari 9 orang yang menandatangani Piagam Jakarta. Menurut KH Wahid Hasyim, konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak konsep tersebut dalam Pancasila. Artinya, dalam konsep tersebut umat Islam dapat menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama dengan mempraktikkan syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa atas nama, suku dan bangsa. (umma.id).

Dari sini tidak diragukan lagi bahwa Pancasila bagi Indonesia yang berpenduduk plural ini adalah sangat tepat. Dengan Pancasila, semua akan terwadahi dan tidak terzalimi. Sementara, jika menggunakan ideologi lain, maka akan ada sebagian kelompok masyarakat yang terzalimi. Dan jika demikian yang terjadi, dipastikan akan terjadi permasalahan yang berujung pada konflik berkepanjangan. Sehingga dari sini kiranya ikhtiyar Pancasila sebagai ideologi bangsa ini sudah tidak ada salahnya, termasuk dalam kaca mata agama (Islam).

Dikarenakan Pancasila merupakan ijtihad positif yang mesti diperjuangkan keberlangsungannya, maka memperjuangkan merupakan perkara makruf (kebaikan). Sementara, mengupayakan tiadanya ideologi lain yang mengacam eksistensi Pancasila merupakan langkah nahi munkar (mencegah kemungkaran).

Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan ajaran agama yang diperintahkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Perintah senada juga disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Hendaklah kamu beramar makruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka).” (HR. Abu Dzar).

Dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, seorang muslim mesti menyesuaikan diri dengan posisi masing-masing. Apibila seseorang memiliki kekuasaan, maka bisa menggunakan kekuasaannya. Apabila bisanya hanya dengan lisan, maka bisa dengan lisannya. Dan apabila tidak bisa secara tindakan ataupun lisan, maka cukup dengan hati. Nabi Muhammad SAW Bersabda:

“Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaannya), jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Sehingga dari sinilah, regulasi pelarangan adanya ideologi lain yang mengancam eksistensi Pancasila bukan saja benar dalam kaca mata pemerintahan, namun juga agama (Islam). Hal ini karena Pancasila merupakan ijtihad para ulama yang mesti diperjuangkan. Dan memperjuangkannya merupakan sarana menjalankan “ibadah” amar ma’ruf dan nahi munkar.Wallahu a’lam.

Facebook Comments