Dari Manakah Asal-Muasal Masuknya Radikalisme-Terorisme di Struktur MUI?

Dari Manakah Asal-Muasal Masuknya Radikalisme-Terorisme di Struktur MUI?

- in Suara Kita
1029
0
Dari Manakah Asal-Muasal Masuknya Radikalisme-Terorisme di Struktur MUI?

Fakta mengejutkan perihal penangkapan salah satu anggota Komisi Fatwa (MUI) yakni Ahmad Zain An-Najah sebagai tersangka teroris, tampaknya masih memunculkan satu pertanyaan penting. Dari manakah asal-muasal masuknya radikalisme-terorisme di Struktur MUI itu? Apakah dia basis-nya kontaminasi pemahaman? Hingga meracuni anggota MUI? Atau Ia murni gerakan penyusupan yang transparan dan terstruktur? Agar, orang akan beranggapan bahwa “ulama” tidak mungkin seorang teroris?

Pertama, jika kita mengacu kepada kontaminasi pemahaman, di balik penangkapan anggota MUI sebagai tersangka teroris, saya rasa itu sangat-sangat tidak mungkin. Sebab, orang-orang yang masuk di organisasi keagamaan dan keulamaan “bisa saya katakan” mereka adalah orang-orang pintar dan memiliki kapasitas ilmu keagamaan yang memumpuni.

Jadi, basis kontaminasi pemahaman saya rasa telah terpatahkan oleh tesis dasar di atas. Artinya, penangkapan anggota MUI sebagai tersangka teroris itu bukan karena Ia terpengaruh dari paham radikal-intolerant. Pun, penangkapan tersebut tidak disangka-sangka dan bahkan mengagetkan banyak orang. Karena, bagaimana mungkin seorang ulama itu menjadi teroris?

Pun, ketidakmungkinan kita untuk percaya bahwa seorang ulama bisa menjadi teroris itu terkadang menjadi mungkin ketika kita telah mengetahui inisiatif pribadi yang dimilikinya. Sebagaimana bukti-bukti yang telah diungkapkan oleh Densus 88 Anti teroror. Menyatakan bahwa Ia (terlibat) sebagai dalang atau (aktor penggerak) dalam bidang pendanaan segala operasional kelompok teroris JI. Sebagaimana, Ia menjabat sebagai Dewan Syariah di lembaga amil zakat (LAZ BM Abdurrahman Bin Auf) yang dijadikan penunjang segala pembiayaan teriris JI.

Maka opsi yang kedua, jika basis kontaminasi pemahaman telah terpatahkan sebagaimana yang diungkapkan di atas. Maka di sinilah kita perlu melihat. Bagaimana dengan basis penyusupan yang bergerak transparan dan terstruktur? Artinya, kemunculan aktor radikalisme-terorisme di kalangan MUI itu murni “mencari panggung” sejak dari awal-pertama ia masuk ke organisasi keagamaan dan keulamaan tersebut. Agar lebih mudah meracuni setiap kebijakan umat.

Artinya, sejak dari awal Ia telah memiliki (misi terselubung) untuk menjalankan segala misinya. Karena, orang tidak akan mengira seorang “ulama” yang aktif di MUI adalah teroris. Meskipun, kenyataannya memang telah membuktikan kebenarannya. Bahwa, penangkapan seorang Zain An-Najah itu tidak terlepas dari sumbangsih dirinya (secara pribadi) terhadap teroris JI.

Maka, bisa saya katakan. Bahwa karakteristik radikalisme-terorisme di kalangan MUI ini sifatnya bukan gerakan atau-pun bersifat aksi jihadis. Sebab, seorang Ahmad Zain An-Najah sebagai tersangka teroris ini, saya tidak yakin seratus persen dia mau pergi ke rumah ibadah lalu meledakkan dirinya sendiri. Atau dia ikut bersama komplotan yang lain bertindak anarkis atau-pun berbuat zhalim terhadap seseorang yang dianggap musuh.

Saya rasa, seorang Ahmad Zain An-Najah tidak sebodoh itu untuk melakukan hal demikian. Itu sama saja bunuh diri. Karena, perannya saya kira justru lebih (paradigmatis). Artinya, basis radikalisme-terorisme Ahmad Zain An-Najah ini saya bisa sebut sebagai “kelas kakap”. Dia bukan sebagai seorang aktor yang akan turun ke lapangan untuk menjalankan segala aksi radikal-nya. Pun, gerakannya tidak-lah terang-benderang dan sifatnya sangat transparan.

Karena, bisa saya katakan bahwa dirinya yang menjabat sebagai anggota komisi fatwa MUI itu, hanya sebagai (jembatan dan wadah) untuk dirinya. Agar lebih tampak “transparan” tanpa dicurigai sebagai kontributor teroris misalnya. Maka, di sinilah kita sebetulnya perlu melepaskan “lembaga MUI” sebagai sarang teroris. Melainkan, lembaga MUI sedang dimanfaatkan sebagai jalan para kontributor teroris.            

Dari sini sebetulnya kita cukup menemukan satu jawaban. Bahwa, gerakan radikalisme-terorisme yang ada di MUI itu kelasnya bukan seorang aktor yang terjun ke lapangan untuk bertindak radikal. Melainkan, sebagai seorang aktor intelektual, kontributor atau-pun server di balik segala tindakan. Pun, dari sini kita bisa mengetahui lebih jelas. Bahwa, ini sifatnya penyusupan yang secara transparan dan terstruktur. Maka dari sinilah kita perlu selalu waspada ke depannya.

Facebook Comments