Dari Moderasi Beragama untuk Toleransi di Dunia Maya

Dari Moderasi Beragama untuk Toleransi di Dunia Maya

- in Suara Kita
179
2
Dari Moderasi Beragama untuk Toleransi di Dunia Maya

Kehidupan modern saat ini hampir tidak dapat dipisahkan dari dunia maya dan internet. Sayang, dunia maya dan internet acap kali digunakan untuk menyebar pesan kebencian, ajakan intoleransi, dan tindakan radikal. Ironinya, narasi-narasi yang digunakan dalam sebaran di internet sering kali mempergunakan dalil agama untuk melegalkan ujaran kebencian dan tindakan kekerasan dengan membabi buta. Tindakan itu, tentu saja selain bertentangan inti ajaran agama, perlahan juga mulai menggerus sistem toleransi dalam bermasyarakat yang sebenarnya telah berdiri dengan mapan.

Ajaran-ajaran agama dipertentangkan dengan kebijakan-kebijakan negara. Demokrasi yang merupakan perwujudan kesepakatan politik manusia dibenturkan dengan kekuasaan Tuhan yang absolut. Jika kita sadari, fenomena ini adalah salah satu bentuk kegelisahan teologis yang memantik banyak peristiwa di bumi Ibu Pertiwi akhir-akhir ini. Hingga muncul suara-suara sumbang untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara dengan bentangan bendera hitam-putih atau pekikan-pekikan takbir di jalanan yang tidak diimbangi dengan sikap kerendahan hati (Prihantoro, 2019).

Beragama adalah Kata Kerja

Beragama ialah praktik hidup pemeluk agama yang jiwa, pikiran, sikap, dan tindakannya berlandaskan agama yang dianutnya. Dengan beragama, manusia itu beriman sekaligus berilmu dan beramal kebaikan sesuai dengan nilai-nilai dasar dari agama itu sendiri. Dengan demikian, beragama merupakan kata kerja dari setiap orang yang memeluk agama, yang dalam terminologi Islam sepadan dengan mengamalkan agama secara totalitas atau kafah (Haidar Nashir, 2019).

Baca juga : Islam Indonesia: Inspirasi Bagi Perdamaian Dunia

Dalam Islam, praktik beragama secara kafah menurut al-Qur’an, sudah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw. ebagaimana Nabi Muhammad dilukiskan oleh Siti Aisyah sebagai berakhlak Al Quran. Artinya bahwa Muhammad sebagai “Al Quran yang berjalan” di muka bumi ini, yang harus diikuti para pengikutnya. Ini berarti, umat Islam selayaknya mempraktikkan akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad diutus di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak (HR. Bukhari).

Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad tidak pernah memaki, mencela, mengajak untuk bertindak intoleran, dan mengadu domba. Karenanya, tindakan radikal dan ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama, itu bukanlah semangat beragama sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi ialah menyebarkan risalah Tuhan dan mengajarkan ilmu serta memakmurkan dunia (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 60). Umat beragama sebagai pembawa risalah Tuhan sama sekali tidak diharapkan mengelola dunia dengan cara merusaknya. Karenanya, ideologi yang selalu menggaung-gaungkan tumpah darah demi agama, itu bukanlah sifat asli pembawa risalah Tuhan. Rasulullah sekalipun, dalam setiap peperangan melarang sahabatnya merusak tanaman yang dilewatinya, membunuh anak-anak dan perempuan. Bandingkan dengan fenomena sekarang, “bom bunuh diri” yang dilakukan oleh para orang mengaku pembela agama bahkan merusak segalanya.

Hal itu menegaskan, umat beragama harus senantiasa mengedepankan akhlak agar dapat menebar rahmat dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara. Menjadi moderat dalam beragama adalah kunci. Fanatisme terhadap kekerasan dalam beragama justru akan mencoreng nama baik agama yang sedang dibawa risalahnya.

Moderasi Dunia Maya                                  

Narasi hoax, ujaran kebencian, adu domba, ajakan bertindak radikal dan intoleran, kini marak kita temukan di dunia maya. Dunia maya yang selayaknya menuntun warganet untuk mendapatkan informasi dan bertukar informasi secara mudah, kini berubah menjadi rimba yang menyesatkan pemahaman para peselancar dunia maya. Tak heran, adapula warga negara karena pengaruh sebaran di medsos, rela melakukan tindakan “bom bunuh diri” atau menyakiti orang lain dengan membawa dalih agama.

Kenyataan tersebut selain bertentangan dengan maksud keberadaan agama yang diharapkan mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, juga dapat menuntun sebuah bangsa dalam jurang kehancuran. Kita lihat, bagaimana negara-negara di Timur Tengah dicabik-cabik  oleh pemahaman ideologi radikal ISIS. Tentu, kita tidak berharap hal tersebut juga terjadi di Indonesia.

Untuk menjaga agar Indonesia tetap menjadi negara yang aman dan nyaman dihuni, kita harus membawa semangat moderasi beragama dalam penggunaan media sosial di dunia maya. Penerapan prinsip moderasi beragama dalam pengaplikasian internet akan memupuk sikap toleransi di dunia maya. Hal tersebut tentu akan menghentikan kebencian-kebencian yang selama ini tersebar bebas di dunia maya. Semangat menerapkan agama secara kaffah oleh pengguna internet dalam kehidupan sehari-hari akan menyejukkan dunia maya. Wallahu a’lam.

Facebook Comments