Darimana Motif dan Justifikasi Munculnya Intoleransi?

Darimana Motif dan Justifikasi Munculnya Intoleransi?

- in Suara Kita
718
0
Darimana Motif dan Justifikasi Munculnya Intoleransi?

Intoleransi adalah penyakit laten yang menjadi batu sandungan bagi keragaman, harmoni dan kedamaian bangsa Indonesia. Lebih-lebih kondisi Indonesia yang beragam, menjadikan potensi lahirnya intoleransi sangat tinggi. Intoleransi juga merupakan tangga pertama menuju tindakan anarkisme bahkan terorisme. Oleh karena itu, mencegah intoleransi secara semesta merupakan agenda bersama guna mewujudkan harmoni.

Dalam rangka membendung laju intoleransi, perlu rumusan dan kajian mendalam. Salah satunya menguak akar intoleransi seperti darimana motif dan justifikasi munculnya tindak intoleran itu. Kajian Zuly Qodir (2016) menyebutkan bahwa pijakan tindakan intoleransi sangat beragam namun ujungnya satu saja, yakni kekerasan atas nama agama dan keyakinan.

Dalam rentetan sejarah panjang aksi intoleransi yang terjadi di Indonesia, hampir semuanya pelakunya memiliki motif sama, yakni ada sesuatu yang “dibela” di belakangnya; entah itu agama, keyakinan, golongan, perlakuan tidak adil, diskriminatif dan lainnya.

Selain motif di atas, ada motif lain tindakan intoleran, yaitu keyakinan akan adanya dalil/teks atas nama agama yang dipahami untuk melegitimasi tindakan intoleran dan radikal. Berdasarkan motif yang telah diuraian, maka sementara ahli menyimpulkan bahwa penyebab tindakan intoleran dan gerakan radikalis-teroris adalah karena faktor pemahaman agama.

Pemahaman agama yang keliru ini melahirkan sebuah ideologi berhaluan keras yang gerakannya itu dijustifikasi dari ayat-ayat suci, seperti pemahaman tentang jihad, yang paling benar (yang lainnya sesat), memandang konsep negara secara parsial (darul islam wa darul harb), dan masih banyak lainnya. Padahal, sebagaimana dijelaskan oleh banyak tokoh Islam, bahwa ayat Alquran mengajarkan sikap toleran, bukan intoleran.

Perbedaan Keyakinan Tidak Bisa dijadikan Landasan Tindak Intoleran!

Di atas sudah diuraian secara mendalam tentang motif dan penyebab serta justifikasi intoleransi. Lazimnya, tindakan intoleran terjadi lantaran pemahaman agama yang sangat minim. Dan kondisi ini dibarengi dengan cara beragama secara emosional alias tidak dewasa. Sehingga, perbedayaan keyakinan dianggap sebagai sebuah ancaman dan harus disikapi secara emosional dan tindakan yang brutal.

Padahal, dalam ajaran Islam misalnya, perbedaan keyakinan itu tidak harus disikapi dengan tindakan main hakim sendiri atau mengintimidasi kelompok tertentu yang berlainan. Setidaknya ada beberapa alasan dan penjelasan tentang perbedaan keyakinan tidak bisa dijadikan landasan untuk bertindak intoleran.

Pertama, pandangan Islam tentang manusia dan agama. Dalam Alquran dijelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan sempurna (lihat QS. al-Sajdah: 9, al-Hijr: 29, dan Shad: 72). Disebut sebagai makhluk sempurna karena manusia dikaruniai akal pikiran dan moral. Karunia ini kemudian membawa manusia pada agama fitrah, yakni kesadaran terhadap tuhan yang wajib disembah. Dengan demikian, setiap umat beragama atau keyakinan merupakan saudara dalam kemanusiaan karena pada hakikatnya masing-masing agama atau keyakinan bermuara pada din al-fithtrah.

Kedua, Alquran mengecam sikap eksklusif sebagaimana dahulu dilakukan oleh komunitas Yahudi dan Nasrani. Imam Tafiq merinci bentuk eksklusifitas mereka bertumpu pada beberapa hal, seperti (i) anggapan sebagai kekasih Tuhan dan menafikan yang lain (QS. al-Jumu’ah: 6); (ii) klaim bahwa kehidupan akhirat khusus untuk mereka (al-Baqarah: 94); siksa neraka hanya mereka alami sebentar saja (QS. Ali Imran: 24), dan hanya dengan menjadi Yahudi akan mendapatkan keselamatan (QS. al-Baqarah: 135). Dengan demikian, kecaman Alquran terhadap Yahudi dan Nasrani bukan karena semata-mata urusan agama, melainkan juga karena sikap eksklusif mereka sehingga merasa paling benar dengan cara memanipulasi ajaran agama.

Ketiga, ajaran tauhid tidak terbatas pada pengakuan saja, tetapi membutuhkan amal (tindakan). Dengan demikian, konsep tauhid itu bukan saja mengakui keesaan Allah, tetapi juga tercermin dalam amal shaleh di masyarakat. Jadi, tindakan intoleran sejatinya merupakan cerminan dari Tauhid yang tidak benar.

Membangun Kesepahaman

Motif dan justifikasi intoleransi sangat beragam sebagaimana dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya. Sebagai upaya mencegah tindakan intoleran, perlu adanya paradigma dalam menjalani kehidupan di bangsa yang heterogen seperti Indonesia supaya semuanya bisa hidup berdampingan dan damai.

Paradigma itu adalah membangun kesepahaman antar sesama. Untuk mencapai kesepahaman yang diharapkan itu, diperlukan dialog konstruktif untuk menjelaskan posisi masing-masing dengan bijaksana dan elegan serta santun. Jika hal ini sudah terjadi, niscaya keharmonisan akan selalu menyelimuti setiap detik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan kesepahaman, maka semua pihak akan menghormati pihak lain dan menjalin hubungan baik, apapun agama yang dipeluk. Artinya, hubungan damai harus menjadi tujuan utama. Jika ternyata ada yang dirasa kurang tepat, jika tidak ingin menggunakan istilah sesat, maka langkahnya, sekali lagi, bukan langsung main hakim sendiri dengan cara mengintimidasi dan anarkisme, tetapi hadapi dengan bijak, nasihati dengan santun dan debat secara santun pula.

Mengakhiri uraian ini, penulis mengajak kepada semua pihak dan elemen masyarakat untuk senantiasa mengedepankan dialog konstruktif dan mengesampingkan tindakan intoleransi atau anarkisme. Musyawarah atau dialog merupakan forum komunikasi untuk membicarakan kemashlahatan bersama. Indonesia harmoni tanpa intoleransi.

Sikap toleransi harus dijunjung. Toleransi merupakan kesediaan untuk menerima adanya perbedaan teologi, perbedaan keyakinan, menghargai, menghormati yang berbeda sebagai sesuatu yang nyata adanya dan diyakini oleh mereka yang memang berbeda dengan kita. Dengan pemahaman dan sikap toleransi inilah, akan lahir suasana harmoni, rukun, tertib, tidak saling menghujat dan gampang menyesatkan.

Facebook Comments