Darurat Krisis Kesantunan di Media Sosial

Darurat Krisis Kesantunan di Media Sosial

- in Editorial
269
0
Darurat Krisis Kesantunan di Media Sosial

Kehidupan di ruang maya (siber space) menghadirkan sketsa dunia yang rapuh. Segala hal sejatinya tidak mudah dicerna antar fakta dan rekayasa. Semua nampak sempurna padahal tidak sebenarnya. Jati diri ditenggelamkan karena hanya ingin terlihat seperti yang sedang berjaya. Hingga kita sadar. Sampailah kita di dunia topeng penuh dusta dan citra.

Kehadiran media sosial telah membentuk pola hidup baru manusia yang seolah mendekontruksi tata nilai kehidupan nyata. Batas-batas pergaulan yang sebelumnya masih menyisakan pedoman norma dan etika, seolah menjadi rimba. Siapapun bebas berbicara dan berpendapat dan bahkan menghakimi, mencaci dan memprovokasi. Manusia merasa masuk dalam dunia bebas terbuka tanpa nilai moral dan etika.

Selain isu keamanan siber yang tengah menjadi sorotan akhir-akhir ini, kesantunan warganet di media sosial masih menjadi penyakit kronis yang tidak kunjung reda. Bahkan laporan Digital Civility Index (DCI) yang dirilis Microsoft tahun 2020 menyebutkan tingkat kesopanan warganet Indonesia di urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Ada beberapa indikator yang diukur seperti hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, perundungan (bullying) dan kekerasan verbal. Salah satu faktor ketidaksopanan warganet karena adanya polarisasi antar pengguna internet berdasarkan perbedaan pandangan politik, agama dan lainnya. Kita sedang menghadapi kondisi darurat krisis kesopanan dan kesantunan di media sosial.

Warganet dengan posisi anonymous dan persepsi ketiadaan hukum berani memposisikan diri berdebat, bertengkar dan bermusuhan dengan kata tanpa norma dan etika. Fakta jeratan hukum seakan tidak menumbuhkan jera. Media sosial hanya menciptakan kebisingan dan keriuhan massa yang seolah paling benar dan memposisikan yang lain pada sudut yang salah.

Bisa dibayangkan, setiap detik kita berinteraksi dengan ragam konten dari sekedar membaca, membagikan, mengomentari hingga terlibat dalam perdebatan. Menghujat, mencaci maki, dan menghina telah menjadi warna baru dalam media sosial yang memunculkan fenomena  kekerasan verbal yang lebih menyakitkan.

Tanpa kita sadari, realitas media sosial hari ini sejatinya gambaran artifisial yang merepresentasikan realitas sosial sebenarnya yang mudah dan rentan dipecahbelah. Perang kata dan kekerasan verbal di dunia maya memperlihatkan replikasi dari realitas budaya sosial yang sesungguhnya.

Media sosial dengan serbuan konten mengerikan tersebut menjadi bagian penyumbang proses penanaman bibit-bibit kebencian di ruang nyata. Atau setidaknya bisa dikatakan, kekerasan verbal di media sosial merupakan tunas kekerasan yang akan tumbuh berkembang di realitas sosial.

Kita membutuhkan pemikiran jernih. Generasi muda saat ini harus diselamatkan dari proses budaya kekerasan di ruang maya dengan membangun prinsip kesantunan di era digital. Harus ada kesadaran bersama bahwa ruang digital dengan lingkungan sosial baru bernama media sosial sejatinya adalah ruang sosial yang bukan bebas norma dan etika.

Gerakan literasi media bukan hanya diarahkan untuk mencerdaskan masyarakat dalam menggunakan media digital, tetapi juga menumbuhkan tanggungjawab sebagai warganet yang berkeadaban. Ada hak dan tanggungjawab serta ada norma dan hukum sebagai pegangan yang harus dipatuhi dan dipedomani.

Facebook Comments