Demo KPU/Bawaslu, Bukan Jihad

Demo KPU/Bawaslu, Bukan Jihad

- in Suara Kita
290
1
Demo KPU/Bawaslu, Bukan Jihad

Demonstrasi yang berlangsung anarkistis pada 22 Mei 2019 di Jakarta terkait sengketa Pilpres 2019—yang menurut penghitungan lembaga survei quick qount dan real count KPU, pasangan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin menang, sedangkan pasangan Prabowo-Sandi di posisi kedua—sesungguhnya merupakan dukungan politik oleh pendukung Paslon 02, bukan aspirasi umat muslim. Artinya, demonstrasi itu tidak ada hubungannya dengan implementasi jihad.

Sebaliknya, demontrasi tersebut justru tidak mencerminkan perilaku umat beragama, barbar, sebab menimpulkan kerusakan fasilitas umum, bahkan milik pribadi, seperti pembakaran puluhan mobil, pos polisi, dan lain sebagainya. Aspirasi yang digelorakan oleh pendemo hingga ada yang berujung maut lebih merupakan pembelaan kelompok pendukung paslon kepada aktor atau tokoh idolanya, bukan atas dasar membela martabat bangsa dan agama.

Penjernihan masalah ini sangat penting, sehingga tidak muncul kesan bahwa demonstrasi anarkistis itu seolah aspirasi umat Islam. Tidak ada justifikasi yang membenarkan narasi provokatif seolah umat Islam di Indonesia disakiti, ditindas, intimidasi, dan padanan negatif lainnya oleh negara. Umat Islam Indonesia baik-baik saja, mereka yang berdemo adalah pendukung capres-cawapres yang kalah dan mempolitisasi Islam sebagai pihak yang dirugikan karena kekalahan itu.

Demontrasi yang berujung pada kekerasan dan pengrusakan, tanpa alasan yang kuat dan bisa diterima secara kolektif-mayoritas masyarakat Indonesia, seperti Reformasi 1998, merupakan bentuk tindakan murni kriminal. Apa yang dilakukannya itu menunjukkan ketidakmampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu, apalagi di bulan suci Ramadan. Ironis.

Penyebab kekerasan

Namun demikian, tidak ada yang salah dengan demonstrasi, sebab itu bagian dari kebebasan berpendapat di alam demokrasi. Yang menjadi persoalan adalah demontrasi disertai kekerasan, menganggap ada musuh di dalam negeri yang seolah halal darahnya, sehingga pendemo itu tanpa berpikir panjang melakukan aksi-aksi brutal dengan melempar batu, petasan, dan molotov kepada aparat keamanan.

Baca juga : Bukan Sekedar Kemenangan, Tetapi Kenegarawanan

Situasi pendemo yang kehilangan akal sehat itu, mengingatkan kita pada potensi manusia yang secara historisitas, kekerasan adalah fenomena yang telah ada sejak awal sejarah umat manusia. Ini bisa dirujuk pada kisah al-Qur’an tentang pembunuhan Habil oleh Qabil, keduanya putra Adam (Q.S al-Maidah: 27-31). Bahkan sebelum manusia diciptakan di muka bumi ini, al-Qur’an telah memuat kisah dialog antara Tuhan dan malaikat yang secara implisit mengindikasikan bahwa manusia akan selalu berbuat kerusakan di muka bumi (man yufsida fiha) dan melakukan tindak kekerasan kepada sesamanya (yasfik al-dima’a) (Q.S al-Baqarah: 30). Karena itu, kekerasan merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia.

Namun demikian, meskipun sejarah melegitimasi adanya tindak kekerasan, al-Qur’an tetap menegaskan bahwa kekerasan merupakan kejahatan yang harus dicegah. Oleh al-Qur’an, tindakan kekerasan diidentikkan dengan pemenuhan nafsu setan, sementara mereka yang dapat mengendalikannya, termasuk orang yang sabar dan beruntung.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (inna Allah ma’a al-shabirin), begitu firman Allah Swt. dalam Q.S al-Baqarah: 153. Dengan demikian, merugilah mereka yang melakukan penyerangan, pengrusakan, dan pada level yang lebih tinggi pembunuhan kepada orang lain, hanya sekadar melampiaskan kekecewaan sebagai bentuk aspirasi publik. Sebab perbuatan keji itu, merupakan perbuatan setan yang terkutuk.

Ada beberapa faktor mengapa agama menjadi penyebab kekerasan, yaitu: (1) ekslusivitas dari sementara pemimpin dan penganut agama, (2) sikap tertutup dan saling curiga antaragama, (3) keterkaitan yang berlebihan terhadap simbol-simbol, (4) agama yang merupakan tujuan berubah menjadi alat, realitas menjadi sekadar kebijaksanaan, dan (5) kondisi politik, sosial, dan ekonomi (Assegaf, 2001).

Dalam batas-batas tertentu, kekerasan juga menurut Alwi Shihab (1999), secara populer menunjuk kepada ekstremisme politik dalam aneka ragam bentuknya, atau usaha utuk mengubah orde sosial-politik secara drastis dan ekstrim. Dari perspektif ini, tampaklah apa yang dilakukan perusuh itu mencerminkan eksklusivisme beragama dan korban provokasi elite. Semoga segera sadar.

Facebook Comments