Diet Medsos: Lindungi Anak dari Konten Radikalisme

Diet Medsos: Lindungi Anak dari Konten Radikalisme

- in Suara Kita
456
2
Diet Medsos: Lindungi Anak dari Konten Radikalisme

Investasi terbesar orang tua tentulah anak. Bayangkan saja, banyak orang tua yang rela hati dan harta demi memberikan yang terbaik kepada anaknya. Baik itu dalam segi penghidupan, pendidikan, maupun kebutuhan lainnya. Tentunya, pengorbanan orang tua kepada anaknya dengan sepotong asa, yakni agar anaknya bahagia dan sukses. Sebagian bercita-cita, melihat anaknya menjadi ‘orang’ dan bisa memanusiakan orang. Pendeknya, apapun yang dilakukan orang tua, tak lain semata demi masa depan anak-anaknya.

Akan tetapi, satu hal yang barangkali luput yakni kadang perhatian dan luapan cinta orang tua kepada anak berlebihan. Misalnya, di era serba digital ini, banyak orang tua memilih memberikan dan membelikan smart phone kepada anaknya, sekalipun belum usia remaja. Apapun alasannya, pemberian fasilitan smart phone kepada anak tanpa dibarengi komitmen untuk mengawasi dan mengevaluasi aktivitas anak, akan berdampak negative bagi tumbuh-kembang anak, baik secara psikis maupun akademis.

Fakta mengejutkan datang dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo, Semarang. Si Wakil Direktur RSJD, Erlina Rumanti, mengatakan pihaknya menerima pasien 20 remaja rata-rata di bawah 19 tahun. Soalnya, mereka mudah marah, tertutup, dan abai terhadap teguran orang tua. Penyebabnya, kencanduan game online. (okezone.com)

Kejadian tersebut tentu muncul akibat akses anak remaja ke gawai yang mudah, tapi tidak dibarengi dengan edukasi dan pengawasan. Apalagi, bagi orang tua yang sibuk kerja dan menjadikan gawai sebagai alternatif hiburan anaknya agar tidak rewel. Hal ini sangat membahayakan, karena berdampak pada perkembangan mental anak. Bahkan, WHO mengkategorikan kecanduan game sebagai gejala gangguan mental.

Itu baru satu dari sekian kasus gejala gangguan mental lantaran penggunaan gawai oleh anak. Padahal, gawai tidak hanya menyediakan game online, tapi jauh lebih kompleks. Dan, tanpa pengawasan dan edukasi dari orang tua, anak akan berlenggang kakung berselancar di dunia virtual tanpa kompas, sehingga bisa mengakses apapun yang ditawarkannya. Sehingga, konten-konten yang sebenarnya tidak pantas ditonton atau dibaca anak remaja, dengan mudah bisa terkonsumsi atau sengaja dikonsumsi.

Baca juga : Menjadi Nitizen Cerdas, Hindari Hiper-Informasi Adu Domba

Belum lagi, tak jarang game online yang dimainkan mengandung konten kekerasan. Tentu akan sangat berbahaya jika kekerasan demi kekerasan yang tampil di game mewujud ke kehidupan nyata. Bukan mustahil, rasa welas asih yang mestinya menyelimuti sikap dan laku anak, tergerus dengan kesenangan dalam mengekspresikan kekerasan. Seakan-akan kesenangan sah diraih dengan cara menyakiti orang lain –sebagaimana saat mereka bermain game.

Diet Media

Untuk menyiapkan generasi masa depan yang memiliki imun tinggi dari berbagai serangan psikis, tentu perlu ada upaya penanganan dan antisipasi agar anak remaja tidak terjerumus pada kegiatan yang merugikan diri dan orang lain. Bahwa memberikan fasilitas gawai kepada remaja bukanlah soal. Tapi, perlu dipertimbangkan juga kesiapan anak remaja dalam merespons dinamika dunia digital yang berdampak buruk bagi tumbuh-kembangnya.

Mempertimbangkan bahaya media bagi tumbuh-kembang anak remaja, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan –salah satunya- untuk diet media. Langkah ini tentu berguna untuk latihan anak dalam memanajemen waktu; kapan saat berinteraksi dengan masyarakat dan kapan waktu untuk bermedia sosial (dan berapa batas maksmialnya). Sehingga, anak tidak kehilangan momentum riil dengan keluarga dan masyarakat. Karena, media sosial sangat tidak berperasaan, dan tentu sulit bahkan tidak bisa membentuk karakter warganet menjadi manusia yang manusiawi, tidak mudah hujat-hina orang lantaran perkataannya yang tertuang dalam status atau pemberitaan. Sedangkan realitas sekitar, akan bisa memberikan anak pengalaman nyata interaksi orang dengan orang.

Selain itu, anak remaja juga perlu diberikan pemahaman yang baik terhadap ideologi-ideologi tertentu, misal dalam hal agama. Bahwa dengan dalih apapun, seruan atas nama kitab suci atau Tuhan atau agama, selama seruan tersebut mengangkangi kemanusiaan, maka tidak perlu diikuti. Karena, agama untuk manusia, dan tentu tidak mengorbankan kemanusiaan.

Facebook Comments