Digital Tolerance: Galang Persatuan Bangsa, Hadang Cyber-Bullying

Digital Tolerance: Galang Persatuan Bangsa, Hadang Cyber-Bullying

- in Suara Kita
250
2
Digital Tolerance: Galang Persatuan Bangsa, Hadang Cyber-Bullying

Pekembangan dan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang melahirkan media sosial (medsos) menjadikan penggunanya tak hanya bisa berkomunikasi, mencari informasi, tetapi bisa juga mengirim gambar, mengirim video via jaringan pesan pribadi ataupun grup sehingga dapat dilihat oleh semua anggota grup. Sebagian mungkin ada yang menyukai kiriman tersebut, akan tetapi sebagian lain seringkali tidak menyukainya. Bagi yang menyukai kiriman itu akan memberikan apresiasi. Namun, bagi yang tidak suka bisa jadi dikategorikan sebagai cyber-bullying.

Dulu bullying dipahami oleh masyarakat hanya sebatas bullying langsung atau direct bullying, yakni ketika seorang anak diolokolok, diganggu, ataupun dipukul oleh pihak lain. Bullying yang bersifat langsung ini biasanya bersifat verbal ataupun fisik. Namun, seiring dengan kemajuan internet dan medsos, paradigma bullying semalin meluas, menyasar tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang-ruang maya. Bahkan, kehadiran cyber-bullying ini lebih masif serta efeknya jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan direct bullying.

Padahal Islam jelas-jelas melarang tindakan bullying, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Hujurat: 12 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” Karenanya kehadiran Digital Tolerance merupakan salah satu alternatif solusi strategis dalam menangkal maraknya cyber-bullying. Dalam hal ini peranan generasi millenial sangatlah penting guna menebarkan konten-konten yang mengusung konsep Digital Tolerance.

Baca juga : Patroli Wa Dan Kampanye Perdamaian Dunia Maya

Mengingat kalau kita tengok data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet dan Pusat Kajian Komunikasi UI, menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada 2015 menembus angka 88,1 juta. Dari total pengguna itu 49% dikuasai generasi Y (1977-1997) dan Z (1998-sekarang) yang dikenal sebagai generasi millenial. Oleh karena itu, peranan generasi millenial sangat penting. Sebagaimana Kasubdit Penyediaan Informasi, Direktorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Nursodik Gunarjo (27/9/2017) mengungkapkan, generasi millenial merupakan ujung tombak penangkal bertebarnya konten-konten negatif termasuk cyber bullying di era digital saat ini. Namun, Gunarjo juga mengatakan bahwa generasi millenial juga sangat potensial dalam membangun Digital Tolerance lewat medsos, dengan menebar konten positif dan mengikis konten negatif.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menabur Digital Tolerance di medsos. Hal yang terpenting ialah bagaimana bermedsos secara bijak. Dengan perilaku bijak di medsos, akan berpengaruh signifikan serta berkontribusi besar dalam memutus derasnya peredaran cyberbullying, fitnah, ujaran kebencian, propaganda, ataupun tindakan anti-toleransi lainnya. Intinya, sudah saatnya medsos menjadi agent of change dengan usernya yang bijak, dalam membangun Digital Tolerance. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan bahwa “semarah-marahnya kita di medsos, janganlah kita mencela, menghina, dan mencaci maki”. pernyataan “mulutmu harimaumu” sekarang ini sangat analogi dengan “medsosmu adalah harimaumu”.

Pada intinya hal yang perlu diperhatikan ialah sebagai pengguna medsos saat ini harus berhati-hati terutama dalam menyikapi era digital. Tanpa filterisasi, pengguna akan dapat larut bahkan bisa menjadi penyebar konten negatif, cyber-bullying, dan anti toleransi. Padahal konten-konten buruk tersebut dapat merusak bangunan persatuan dan kesatuan. Oleh sebab itu, para pengguna medsos jangan asal share informasi, mengingat dampaknya akan luar biasa dan cepat menjalar. Informasi tersebut harus benar-benar valid dan tidak mengandung konten-konten negatif perusak persatuan dan kesatuan. Hal-hal positif, diantaranya dengan menyebarkan konten mendidik, enlighten, empowerment, dan membangun karakter nasional harus kita sebarkan secara masif di jagat medsos. Mengingat dengan itu semua, konten negatif cyber-bullying akan terkikis habis, sementara bangunan persatuan dan kesatuan bangsa akan kokoh, semoga.

Facebook Comments