Digitalisasi Akhlak Santri di Media Sosial

Digitalisasi Akhlak Santri di Media Sosial

- in Suara Kita
283
0
Digitalisasi Akhlak Santri di Media Sosial

Saban hari media sosial makin mendapat panggung dalam semua aspek kehidupan masyarakat dan bernegara. Media sosial pun kian menjadi sebuah wahana yang sangat dibutuhkan saat ini. Alat komunikasi dan diskusi antar teman biasanya dilakukan lewat media sosial. Eksesnya setiap dari kita tentu belum merasa puas jika belum memiliki media sosial. Inilah yang kemudian membuat peran dan fungsi media sosial menjadi sebuah kebutuhan vital saat ini. Media sosial pelan-pelan bertransformasi menjadi kebutuhan primer menyamai ponsel yang wajib dimiliki oleh masyarakat era milenial saat ini. Tentu tidak ada yang salah bila kemudian media sosial menjadi kebutuhan yang primer. Selain itu ditengah derasnya pengunaan media sosial sebagai alat informasi membuat kepercayaan publik terhadap informasi yang berasal dari media sosial semakin tinggi.

Jadi tidak heran dengan tingginya tingkat ketergantungan terhadap media sosial membuat semua teknik kampanye pemasaran mengunakan perilaku yang berkembang di media sosial. Salah satu perilaku tersebut adalah informasi yang disebar haruslah mengunakan frase yang bombastis dan kontroversial. Soal apakah informasi yang disebar itu memiliki data dan fakta itu lain soal. Yang penting bisa menarik interaksi komentar dari warganet sebanyak mungkin.

Dengan karakter dan kontur seperti inilah membuat kampanye dengan teknik penyebaran kebohongan kian mendapat tempat di media sosial.

Dalam konteks politik, media sosial menjadi salah satu sarana kampanye paling efektif karena bisa membuat sebuah informasi cepat tersebut. Asalkan informasi yang disebar bisa memancing pembaca untuk segera berkomentar. Teknik memancing kebenaran emosional inilah yang kian subur dalam politik digital. Tentu teknik ini akan cepat merebut sorotan publik di saat semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dimedia sosial.

Dalam leksikon politik digital, teknik tersebut dinamakan firehose of falsehood atau slang penyembur kebohongan. Dalam teknik ini informasi yang disebar ditujukan untuk menarik atensi dan interaksi para pembaca dan membangun ketidakpercayaan publik terhadap sebuah informasi. Teknik ini tentu sangat berbahaya karena mengunakan metode yang runtut, bisa menjangkau banyak orang dan akan terus dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga setiap orang yang terpapar akan dengan cepat menerima informasi yang paling besar volumenya dan cepat diterima, tanpa harus melakukan verifikasi.

Baca juga : Rekonsiliasi Ramadhan Dari Kesucian laku Individual Menuju Kedamaian Laku Sosial

Selain itu teknik ini mengabaikan komitmen pada realita atau fakta yang sebenarnya. Meski, kebohongan nantinya akan terbongkar, tapi teknik ini tetap akan tidak mengubris kebenaran atau akan terus disebarkan. Artinya, bila berita bohong yang diproduksi pada putaran pertama kemudian terbongkar, maka akan segera ditutupi dengan pembenaran berikutnya. Artinya dengan banyaknya buzzer yang mengunakan teknik ini membuat hoaks dan ujaran kebencian sampai kapanpun tumbuh subur.

Melihat fenomena ini tentulah kita tidak tinggal diam. Harus ada berbagai langkah antisipasi dalam meredam menguatnya fenomena ini. Selain dengan memproduksi konten kreatif diperlukan cara lain dalam memperbaiki akal sehat para warganet yang telah terpapar teknik tersebut. Salah satu alternatif adalah dengan mendigitalisasi akhlak santri di media media sosial. Digitalisasi ini bisa dimulai dengan mengajarkan prinsip-prinsip akhlak santri kepada warganet. Mengapa harus akhlak santri? Sebab santri memiliki citra positif karena selalu mengedepankan akhlak dan etika sebagai wujud karakter Islam nusantara yang masih terus dipertahankan di era milenial saat ini. Sehingga dengan begitu, media sosial akan dipenuhi oleh keteladanan dan pembelajaran yang menyerupai akhlak santri.

Tapi dengan catatan teknik yang digunakan haruslah kreatif dengan media pembelajaran melalui konten meme dan video akhlak santri yang kemudian disebar di media sosial. Selain itu konten yang diproduksi harus bermaterikan nilai-nilai akhlak dan literasi santri hingga praktik keteladanan dan kedisiplinan yang dimiliki oleh sosok seorang santri. Tentu peran konten kreator sangat penting disini karena diajak untuk bisa membumikan akhlak santri dalam ranah media sosial dengan cara kreatif pula.

Terakhir, teknik persebaran juga harus dilakukan berulang-ulang sehingga akan cepat dikenal oleh warganet. Selain itu partisipasi dan peran serta semua simpul masyarakat sangat dinantikan. Salah satu partisipasinya dengan cara bersama-sama memviralkan konten yang bermaterikan akhlak santri. Denagn demikian kita tentu berharap teknik digitalisasi akhlak santri dapat membuat media sosial semakin dipenuhi oleh konten positif dan mencerahkan.

Facebook Comments