Dimensi Ramadan: Membentuk Kesalehan Spiritual dan Sosial

Dimensi Ramadan: Membentuk Kesalehan Spiritual dan Sosial

- in Suara Kita
209
0
Dimensi Ramadan: Membentuk Kesalehan Spiritual dan Sosial

Dari Anas, sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama”? Beliau menjawab: “Sedekah di bulan Ramadan”.

Hadits riwayat Imam Tirmidzi ini mengajarkan kepada umat Islam hakikat puasa Ramadan. Puasa Ramadan merupakan madrasah atau tempat belajar menahan hawa nafsu, merasakan lapar dan dahaga untuk belajar berempati terhadap kesengsaraan kaum dhuafa.

Akan tetapi, hakikat makna puasa ini seringkali kehilangan momentumnya. Kenyataannya sebagian besar umat Islam justru memanfaatkan Ramadan untuk meluapkan hasrat nafsu kemewahan, berlebih-lebihan dalam konsumsi makan dan minum, pakaian baru dan kegiatan konsumtif mubazir yang lain.

Ramadan telah kehilangan maknanya. Ia tak lebih dari sekedar realitas simbolik tanpa arti. Kedalaman nilai luhur Ramadan yang dikandung bulan suci hilang begitu saja. Ramadan berlalu tanpa ada lagi nilai yang dihayati dan diresapi. Jutaan umat Islam yang berpuasa hanya sekedar memenuhi hajat perintah puasa menahan lapar dan haus dan berbagai ritual simbolik, tetapi tidak betul-betul menyadari apa sebenarnya yang sedang dilakukannya dan hakikat tujuannya.

Nabi mengingatkan: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain lapar saja”.

Hadits riwayat Imam Ahmad ini hendak menjelaskan fenomena entropi Ramadan, yakni kondisi dimana apa saja yang dilakukan hanya sebatas ritual simbolik tanpa mengerti hakikat tujuannya. Tujuan esensi puasa yang hendak menanamkan sikap empati dan saling berbagi terabaikan. Sebaliknya, apa yang dilarang untuk dilakukan seperti sikap senang sendiri, bermewah-mewah, membenci dan memusuhi dipertontonkan. Dalam bahasa Imam al Ghazali, puasa yang sejatinya menahan diri dari sesuatu yang mengurangi nilai kemuliaan manusia telah sirna.

Sejatinya, muslim memahami hakikat puasa yang efeknya multidimensional. Tidak hanya spiritual-individual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.

Kesalehan individual tercermin dari semangat untuk menahan diri dari hal-hal destruktif. Menahan haus, lapar dan segala yang mengurangi, bahkan bagi yang sampai pada tingkat “muslim khusus”, membatalkan puasa. Menggunjing, memfitnah, menyebarkan berita bohong, provokasi, kebencian dan permusuhan bukan hanya mengurangi pahala puasa, tapi membatalkan.

Jika ditarik pada ranah kehidupan yang lebih luas, yakni ranah kehidupan sosial, puasa tidak hanya mengajarkan kepada kita untuk menahan lapar dan haus biologis, tapi juga lapar dan haus psikologis. Lapar dan haus biologis bisa sembuh dengan cara makan dan minum. Namun, lapar psikologis seperti haus kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan duniawi susah disembuhkan. Apabila menjadi penyakit akut, segala cara yang tidak terhormat akan dilakukan.

Seseorang yang haus kekuasaan akan melegalkan segala cara. Menebar fitnah, mendompleng agama, menyebar kebencian, permusuhan bahkan mengobarkan api pemberontakan terhadap penguasa yang sah. Lapar kekayaan akan mengakibatkan seseorang menempuh segala cara untuk memperoleh harta duniawi. Korupsi, mencuri, dan mendozolimi bukan persoalan. Dan, yang jelas enggan berbagi karena ketamakan akan harta duniawi. Untuk meraih kehormatan duniawi cara apapun ditempuh, sekalipun harus memperdagangkan agama.

Ramadan untuk berbagi, bukan saling memusuhi

Rasulullah menamai Ramadan dengan “Syahrul Muwasah” yang bermakna bulan kepedulian sosial. Bulan Ramadan adalah madrasah atau tempat pendidikan dan pelatihan yang komprehensif untuk membentuk kecerdasan emosional-spiritual sekaligus empati dan solidaritas sosial. Kewajiban zakat dan anjuran untuk memperbanyak sedekah adalah satu upaya untuk membentuk solidaritas sosial. Keduanya untuk menyempurnakan dimensi sosial puasa Ramadan. Tanpa zakat, sebagaimana dikatakan oleh Nabi, puasa seseorang tidak akan sampai kepada Allah. Artinya, Allah tidak menerima ibadah seseorang yang hanya mengutamakan kesalehan individual saja dan lalai terhadap kewajiban sosial.

Ramadan mendidik kita untuk menjadi pemberi, bukan peminta. Mengasihi bukan memusuhi. Perintah al Qur’an (al Baqarah: 183) supaya berpuasa agar muslim memiliki predikat sebagai orang yang bertakwa. Bagi yang telah bertakwa, puasa akan lebih meningkatkan ketakwaan tersebut. Semakin tinggi tingkat takwa seseorang, semakin tinggi pula rasa kemanusiaannya.

Puasa mendidik seseorang memiliki karakter pencinta, lembut dan kasih sayang, halus budinya dan bersih jiwanya. Puasa, dalam maknanya yang hakiki adalah melenyapkan dan membakar amarah, kebencian, dan kekerasan. Ramadan datang untuk menyucikan jiwa dari sifat kebinatangan. Puasa mentransformasikan kesalehan spiritual-individual menjadi kesalehan sosial yang berpihak pada cinta kasih kemanusiaan.

Karenanya, kefitrahan kita nanti saat hari raya Idul Fitri tergantung seberapa mampu kita mewujudkan efek puasa yang berupa peningkatan kesalehan spiritual-individual sekaligus meningkatnya kesalehan sosial. Dua hal yang harus ada pada setiap muslim. Fitrah adalah sikap saling berbagi dan hilangnya sikap saling memusuhi. Ketakwaan yang sejati adalah melakukan segala perintah dan menjauhi semua larangan agama serta tidak melakukan segala tindakan yang tidak berprikemanusiaan yang bertentangan dengan moralitas agama.

Puasa Ramadan merupakan latihan untuk berpuasa selama-lamanya, selama hayat masih dikandung badan. Berpuasa atas kebencian, kekerasan dan permusuhan. Pada saat itulah kita menjadi pemenang terhadap musuh abadi kita yakni hawa nafsu yang harus dikendalikan. Pada saat ini pula, kita menjadi manusia yang senang berbagi, membantu mereka yang sedang kesusahan, menjadi manusia yang dipenuhi kecintaan terhadap kedamaian.

Facebook Comments