Dimulai dari Tetangga, Inilah Cara Rasulullah Bertoleransi

Dimulai dari Tetangga, Inilah Cara Rasulullah Bertoleransi

- in Suara Kita
450
4
Dimulai dari Tetangga, Inilah Cara Rasulullah Bertoleransi

Toleransi adalah praktek, bukan teori. Ia merupakan tindakan sadar yang dilandasi pemikiran yang jernih tentang keragaman. Bukan konsep abstrak, tetapi praktek keseharian yang banyak dijumpai di tengah kita. Apapun teori dan rumusannya menghormati yang berbeda dan saling berempati adalah praktek yang nyata dan begitu indah. Itulah toleransi.

Di tengah masyarakat nusantara, praktek ini telah begitu lama terjaga dan dipraktekkan. Bertetangga adalah dalam masyarakat adalah bagian dari mempraktekkan toleransi. Tetangga tidak hanya satu jenis, tetapi berbeda latar belakang. Tetapi prinsip masyarakat adalah saling membantu apapun latar belakangnya.

Toleransi dimulai dari tetangga. Itulah yang diajarkan Rasulullah kepada umat Islam. Ada cerita menarik dari pribadi Nabi yang patut kita jadikan teladan.

Suatu ketika Aisyah, istri tercinta Nabi, menyelenggarakan hajatan dengan menyembelih kambing. Setelah hidangan matang, Aisyah membagikan masakannya kepada tetangga sesuai anjuran Nabi ketika masak untuk membagikan kepada tetangga. Nabi berkata, : apakah si fulan juga telah dikirim masakan? “Belum, dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengirimnya masakan” ujar Aisyah. Nabi tetap meminta : Kirimilah, walaupun Yahudi, ia adalah tetangga kita.

Penegasan inilah sejatinya menunjukkan kelas seorang Nabi dalam memperlakukan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Bertetangga yang baik adalah salah satu pesan Nabi sebagai bagian dari kesempurnaan iman. Nabi sangat menekankan pentingnya bertetangga yang baik.

Rasanya hari ini sudah teramat sulit untuk hidup tanpa kehadiran yang berbeda. Menutup diri bukan solusi yang baik. Tidak akan berpengaruh imanmu jika berbuat baik kepada yang berbeda. Justru iman akan semakin naik ketika melaksanakan kebaikan kepada yang lain, termasuk kepada tetangga yang non muslim.

Madinah menjadi tempat bernaung kelompok yang berbeda dalam jaminan keamanan dan kenyamanan Islam. Perjumpaan perbedaan adalah sebuah keniscayaan.Beberapa akhlak Nabi dalam membangun kerukunan bertetangga dengan non muslim adalah bagian dari cara hidup Rasulullah yang wajib diteladani. Bagaimana Rasulullah bertetangga?

  1. Berbagi Makanan dengan Tetangga Non Muslim

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia meriwayatkan bahwa dirinya memiliki seorang tetangga Yahudi. Kalau menyembelih kambing, dia memerintahkan: Bawalah sebagian daging kambing ini kepada tetangga kita. Karena aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jibril tidak bosan-bosannya mewasiatkan padaku untuk menghormati tetangga sehingga aku menduga seolah-olah tetangga itu berhak mendapatkan warisan.” (H.R. al-Baihaqi).

  • Menghadiri Undangan Non Muslim

Dari Anas bin Malik RA, di berkata: “Seorang yahudi mengundang Nabi SAW untuk bersantap roti gandum dengan acara hangat, dan Nabi SAW pun memenuhi undangan tersebut.” (HR Imam Ahmad).

Rasulullah tidak anti perbedaan. Sebagai pemimpin yang mengayomi semua perbedaan Rasulullah kerap diundang dan dijamu. Dan Rasulullah memenuhi undangan yang sangat bersahaja tersebut.

  • Menjenguk Tetangga Non Muslim yang Sakit

Dari Ibnu Abi Husain: “Rasulullah s.a.w. memiliki tetangga Yahudi yang akhlaknya cukup bagus. Suatu hari, ketika dia sakit, segera Rasulullah s.a.w. bersama para sahabat menjenguknya.” (H.R. ‘Abdur-Razzaq).

Dalam Riwayat yang lain dari Anas bin Malik yang berkata: “Ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pembantu Rasulullah s.a.w. Suatu hari dia sakit, dan Rasulullah s.a.w. pun membesuknya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah).

Beberapa teladan itu menunjukkan pentingnya menjaga hubungan tetangga yang harmonis walaupun berbeda agama. Rasulullah telah menunjukkan dirinya sebagai orang paling toleran dalam kehidupan sosial. Kenapa umatnya masih enggan untuk saling berbaur?

Toleransi dimulai dari tetangga sebagai pondasi kokoh dari struktur masyarakat berbangsa dan bernegara. Jika dari level mikro ini sudah terjalin bangunan kokoh, niscaya berbangsa dan bernegara akan lebih mudah dan harmoni. Marilah rayakan keberagaman dengan praktek toleransi.

Facebook Comments