Dua Prototype Jihad: Menegakkan Kemaslahatan dan Menjauhi Kemungkaran

Dua Prototype Jihad: Menegakkan Kemaslahatan dan Menjauhi Kemungkaran

- in Suara Kita
1167
0
Dua Prototype Jihad: Menegakkan Kemaslahatan dan Menjauhi Kemungkaran

Sejatinya, jihad memiliki dua prototype kunci. Agar benar-benar bersih dari berbagai macam stigma. Yaitu menegakkan kemaslahatan dan menjauhi kemungkaran. Lantas, mengapa dua prototype ini penting untuk kita ketahui? Tentu jawabannya, agar kita bisa (menilai) dengan jernih mana yang benar-benar jihad sesuai dengan ajaran-Nya, yang pernah dipraktikkan oleh Nabi-Nya dan dibenarkan oleh Al-Qur’an-Nya. Serta mana yang murni tindakan kriminal mengatasnamakan jihad itu.

Karena di dalam praktiknya, Agama-Nya selalu berkorelasi khusus dengan dua porotype tersebut. Yaitu sebagai basis ajaran yang membawa maslahat bagi tatanan. Serta, manusia bisa menjauhi kemungkaran. Begitu juga dengan Nabi-Nya yang juga memiliki misi untuk menegakkan dua prototype tersebut. Pun, Al-Qur’an jika kita lihat ayat-ayat jihad secara substansi, fungsi dan konteks tujuannya mengacu ke dua prototype tersebut.

Yang Bertentangan dengan Dua Prototype Jihad tersebut, itu (bukan Jihad)!

Mutlak saya katakan. Bahwa jika bertentangan dengan dua prototype jihad tersebut, itu bukan jihad yang sebenarnya. Misalnya, kezhaliman mengatasnamakan jihad, pembantaian mengatasnamakan jihad, merusak rumah ibadah milik non-muslim mengatasnamakan jihad dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan mengatasnamakan jihad.

Semua tindakan-tindakan yang bertentangan dengan dua prototype jihad tersebut itu mutlak (tindakan kriminal) yang mengatasnamakan jihad. Artinya, itu bisa disebut dengan jihad bodong, gadungan, eksploitator, politisasi jihad dan memanfaatkan jihad untuk tindakan jahatnya. Karena, jihad baik secara fungsi dan substansi itu selalu mengacu ke dalam dua prototype tersebut.

Jadi, ketika kita menemukan ajakan jihad lalu ketika kita korelasi-kan ke dalam dua prototype tersebut lalu bertentangan, maka itu mutlak bukan jihad. Karena, ada begitu banyak stigma jihad yang dibalut sebagai pembersih dari segala tindakan kotor agar transparan atau terlihat ada label kebenarannya. Jadi, karakteristik yang demikian itu murni bukan jihad yang subtansial atau yang dimaksud oleh ajaran Islam itu sendiri.

Jihad itu Selalu Sesuai dengan Konteks dan Zaman

Jihad itu bukan “hanya” soal peperangan. Pun, konteks jihad peperangan itu hanya ada di masa lalu. Karena, di masa kita, kehidupan umat beragama satu sama lain itu penuh kedamaian, keharmonisan dan kebersamaan satu sama lain. Jadi, jika ada oknum-oknum tertentu yang membawa label jihad. Lalu ingin memerangi mereka yang berbeda keyakinan. Maka itu mutlak bukan jihad. Melainkan mereka melakukan tindakan kezhaliman mengatasnamakan jihad.

Karena itu mutlak sebagai tindakan kriminal yang tidak dapat dibenarkan dalam jihad. Sebab, jihad kita harus ukur ke dalam dua wilayah. Yaitu apakah ia akan membawa maslahat dan menjauhi kemungkaran. Atau justru sebaliknya. Yaitu membawa mudharat dan berdampak kepada kemungkaran. Karena, ketika berada dalam dua prototype tersebut, di situlah fungsi jihad akan relevan dengan tujuan dari jihad itu sendiri.

Misalnya, di era saat ini. Kita jihad untuk menyelamatkan masyarakat dari kelaparan di tengah pandemi. Kita melakukan jihad untuk berbagi terhadap sesama. Maka, jika kita ukur ke dalam dua prototype tersebut, jelas ini masuk ke dalam wilayah yang bisa membawa (kemaslahatan) dan agar terhindar dari kemudharatan. Maka, ini bisa disebut sebagai jihad yang benar.            

Sebab, cara kita melihat, memahami dan meyakini bahwa kita benar-benar jihad. Maka cobalah kita ukur dan kita analisis dengan dua prototype tersebut. Agar, kita terbebas dari stigma, politisasi, eksploitasi atau-pun manipulasi jihad. Yaitu menjadikan jihad sebagai “alat” untuk bertindak zhalim, kriminal dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Karena, dengan dua prototype tersebut, kita akan lebih cerdas mana yang jihad dan mana yang bukan jihad untuk kita tinggalkan.

Facebook Comments