Sabtu, 20 Juli, 2019
Informasi Damai
Editorial

Editorial

Kearifan Lokal sebagai Deteksi Dini Paham Radikal

Kearifan Lokal sebagai Deteksi Dini Paham Radikal
Editorial
Sebagai negara yang multikultural, Indonesia terkenal dengan kekayaan kebudayaan, bahasa, ras, dan agamanya. Sejak dahulu hingga saat ini, kearifan lokal menjadi nilai yang terus hidup di tengah masyarakat sebagai cara pandang dalam menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan. Di dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika terdapat kearifan lokal berupa ajaran hidup gotong royong, ...
Read more 1

Mewaspadai Ancaman Nyata Radikalisme di Media Sosial

Mewaspadai Ancaman Nyata Radikalisme di Media Sosial
Editorial
Teror Amatiran Para Pemuda Saat umat Islam sedang khusu’ berjihad di bulan Ramadan ingin meraih ampunan di 10 akhir Ramadan ledakan tak terduga terjadi. Seorang remaja, RA (23) meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (3/6/2019). Siapa sangka, ia sudah berbai’at ke Pimpinan ISIS, Abu Bakar al Baghdadi ...
Read more 1

Idul Fitri: Merajut Rekonsiliasi Nasional dan Menjaga Persatuan

Idul Fitri: Merajut Rekonsiliasi Nasional dan Menjaga Persatuan
Editorial
Ramadan berakhir dan hari raya kemenangan dikumandang. Takbir, tahmid, dan tahlil membahana sebagai bentuk pujian keagungan Allah di alam semesta. Itulah hari kebahagian dan kemenangan umat Islam setelah selama sebulan penuh berjihad melawan hawa nafsu dan memiliki perisai diri yang handal. Setelah meraih latihan itulah, Rasulullah bersabda: Hiasilah hari rayamu ...
Read more 2

Ramadan: Semangat Kebersamaan Meraih Kemenangan Bangsa

Ramadan: Semangat Kebersamaan Meraih Kemenangan Bangsa
Editorial
Bulan Ramadhan tahun ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya karena bertepatan dengan proses-proses krusial pasca Pemilihan Umum 2019 mulai dari perhitungan hingga penetapannya. Tentu ini menjadi anugerah serta banyak hikmah yang patut diambil. Pemilu sebagai kontestasi politik meniscayakan perbedaan pilihan, ketegangan, pembelahan, bahkan tidak jarang keretakan tali persaudaraan. Terkadang masyarakat ...
Read more 1

Ramadan: Mengendalikan Emosi, Membangun Rekonsiliasi

Ramadan: Mengendalikan Emosi, Membangun Rekonsiliasi
Editorial
Marhaban ya Ramadan. Demikian ungkapan dari jutaan umat Islam di seluruh dunia menyambut tamu agung, Ramadan, dengan penuh gembira dan suka cita. Ungkapan ini menilik dari arti marhaban, menurut Quraish Shibab, merupakan luapan kata yang mengandung arti penyambutan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, kerelaan dan penuh ketenangan dan kenyamanan. Kenapa ...
Read more 0

Penguatan Pendidikan Karakter untuk Bangsa Indonesia yang Beradab

Budaya perkelahian antar pelajar masih menjadi masalah klasik. Masalah ini menjadi semakin kompleks akhir-akhir ini dengan fenomena semakin beraninya siswa sekolah mempermalukan guru di kelas, diajak berkelahi, dianiaya bahkan ada yang dipukul hingga tewas. Berbagai fenomena tersebut cukup merisaukan karena generasi inilah yang akan menentukan masa depan bangsa di masa yang akan datang. Pendidikan sejatinya tidak hanya mendidik anak mempunyai prestasi tinggi dalam bidang akademik, tetapi hal yang mesti diperhitungkan adalah kualitas penanaman karakter. Dengan kata lain, pendidikan sebenarnya bertujuan pada dua hal mendorong manusia yang cerdas secara intelektual dan membentuk manusia yang beradab secara spiritual, emosional, dan sosial. Tidak cukup memiliki kualitas intelektual, tetapi krisis di aspek kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Aspek kedua inilah yang disasar oleh pendidikan karakter. Kenapa pendidikan karakter menjadi sangat penting? Kunci keberhasilan seorang siswa kelak bukan hanya ditentukan oleh prestasi akademiknya, tetapi sangat tergantung dari kepriadian dan mentalnya. Jiwa kemandirian, kesopanan, adaptable dengan lingkungan dan tantangan, mudal bergaul dan siap menerima perbedaan merupakan karakter dan nilai yang juga sangat menentukan masa depan siswa. Karena itulah, misi besar bangsa ini untuk memberikan, mendidik dan menanamkan pendidikan karakter di sekolah harus terus didukung dan digalakkan. Namun, pertanyaannya apakah karakter bisa dibentuk hanya dengan pendidikan formal dan pengajaran ruang kelas berbasis mata pelajaran? Karakter sebenarnya sangat terkait dengan sikap dan pandangan yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Proses penanaman karakter tidak hanya berhenti pada pemberian mata pelajaran norma dan etika, tetapi keteladanan di lingkungan sosial. Dari sinilah, pendekatan budaya menjadi sangat penting dalam mentransfer karakter dan nilai kepada anak. Pendekatan budaya dalam mendidik watak dan karakter mengandainkan bahwa lingkungan sosial harus menjadi arena kondusif bagi penanaman dan proses identifikasi siswa dalam menyerap pendidikan karakter. Setidaknya tiga elemen penting sebagai kunci efektifitas pendidikan karakter yang harus dikuatkan: lingkungan masyarakat yang dimulai dari keluarga, budaya sekolah yang mendukung dan lingkungan kelas. Pertama, lingkungan masyarakat yang dimulai dari unit paling kecil bernama keluarga. Keluarga berperan sangat penting sebagai sekolah pertama dalam mendidik karakter anak. Orang tua tidak hanya khawatir ketika anaknya mendapatkan nilai jelek, tetapi akan lebih khawatir ketika melihat anaknya mulai tidak disiplin, tidak jujur, tidak sopan dan mulai bersikap kasar. Pembudayaan karakter yang beradab harus dimulai keluarga dengan cara keteladanan seorang ibu dan bapak. Keluarga harus menjadi institusi pertama yang mendorong anaknya untuk percaya dan menghormati lingkungan sekolah baik guru dan teman sebayanya. Akan fatal, apabila orang tua justru tidak menaruh kepercayaan atas proses pembelajaran di sekolah. Intinya, keteladan orang tua merupakan cermin bagaimana siswa bersikap di lingkungan sekolah. Kedua, budaya lingkungan sekolah. Institusi pendidikan harus menjamin dan menyediakan ruang sosial yang kondusif yang dapat membantu proses internalisasi nilai dan watak peserta didik. Keagamaan, kedisiplinan, kejujuran, saling menghormati, dan kemandirian harus menjadi budaya yang tercipta di lingkungan sekolah. Ketiga, lingkungan kelas. Proses inti pembelajaran pendidikan karakter adalah di ruang kelas. Dalam proses inilah, dibutuhkan guru yang mampu mengkomunikasikan pengetahuan menjadi sikap bukan doktrin. Guru harus menjadi teladan tetapi juga teman yang baik dan komunikatif dalam memecahkan persoalan di kelas. Ketiga elemen penting untuk saling menguatkan dalam menanamkan pendidikan karakter seperti nilai agama, norma kesopanan, integritas, kepedulian, kebersamaan dan cinta tanah air. Hal ini akan selaras dengan tujuan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Editorial
Budaya perkelahian antar pelajar masih menjadi masalah klasik. Masalah ini menjadi semakin kompleks akhir-akhir ini dengan fenomena semakin beraninya siswa sekolah mempermalukan guru di kelas, diajak berkelahi, dianiaya bahkan ada yang dipukul hingga tewas. Berbagai fenomena tersebut cukup merisaukan karena generasi inilah yang akan menentukan masa depan bangsa di masa ...
Read more 1

Rumah Ibadah Sarana Menyebarkan Narasi Kesejukan, Bukan Kebencian

Rumah Ibadah Sarana Menyebarkan Narasi Kesejukan, Bukan Kebencian
Editorial
Keberadaan rumah ibadah tidak hanya sebagai sarana aktifitas keagamaan, tetapi juga medium mempersatukan umat. Karena misi mempersatukan itulah, rumah ibadah harus dijadikan sarana menyebarkan narasi kesejukan dan perdamaian, bukan narasi kebencian dan perpecahan. Setidaknya ada dua fungsi pokok yang diemban rumah ibadah dalam aktifitas keagamaan. Masjid, misalnya, dikatakan sebagai Rumah ...
Read more 1

Kekuatan Pers dalam Menangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian

Kekuatan Pers dalam Menangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian
Editorial
Tantangan terbesar dunia pers saat ini adalah banyaknya berita bohong dan ujaran kebencian yang beredar di masyarakat. Pada satu sisi harus dikatakan kekuatan pers melalui media mainstream menjadi kalah minat sebagai sumber informasi daripada media sosial. Bahkan dalam kasus tertentu, tidak jarang justru pers mengikuti arus narasi dan wacana dari ...
Read more 1

Bersihkan Medsos dari Ujaran Kebencian

Bersihkan Medsos dari Ujaran Kebencian
Editorial
Di era digital dengan perkembangan informasi yang begitu cepat, keragaman bangsa ini menjadi titik rawan dari provokasi dan fitnah bernafas kebencian di media sosial. Ujaran kebencian dan beria bohong menjadi alat yang mampu mengubah kerukunan menjadi konflik dan persatuan menjadi perpecahan. Gesekan antar masyarakat di dunia nyata menjadi rawan akibat ...
Read more 1

Aktualisasi Bela Negara Generasi Milenial

Aktualisasi Bela Negara Generasi Milenial
Editorial
Hari bela Negara (HBN) yang ditetapkan dan diperingati pada tanggal 19 Desember merupakan peringatan untuk mengenang salah satu sejarah penting keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). HBN merupakan peringatan terkait dengan sejarah pemerintahan sementara melalui pembentukan Pemerintahan Darurat Republk Indonesia (PDRI). Pembentukan PDRI dilatarbelakangi adanya agersi militer II Belanda yang ...
Read more 2
Translate »