Eling lan Waspada: Toleransi dan Hakikatnya

Eling lan Waspada: Toleransi dan Hakikatnya

- in Suara Kita
606
0
Eling lan Waspada: Toleransi dan Hakikatnya

Dalam tilikannya yang terkesan suram atas perkembangan zaman, Heidegger, dalam Discourse on Thinking (1966), mewedarkan sikap etis yang pernah dibabarkan oleh seorang mistikus legendaris Jerman: Meister John Eckhart. Persinggungan pemikiran Heidegger dengan mistisime memang bukanlah hal yang sama sekali baru. Sejak karya debutnya, Being and Time, pemikir yang pernah terlibat rezim nazi ini sudah menunjukkan gelagat mistisnya, meskipun kecenderungan ini ia bahasakan secara sekularistik.

Dalam Discouse on Thinking, Heidegger berangkat dari keadaan zaman yang sarat dengan ketercerabutan dengan akar budaya sendiri. Dalam istilahnya, keterakaran ini disebut sebagai “Boodenstandigkeit” yang membuat segala sesuatu serasa otentik yang pada akhirnya akan membuahkan keselarasan, baik sosial maupun kosmologis. Inotentisitas, dalam tilikan Heidegger, dapat dibuktikan dengan berlimpahnya fenomena Das Man atau manusia kerumunan, manusia yang mengingkari diri sendiri (dhewek). Maka tak jarang, partai-partai politik atau organisas-organisasi massa menjadi pilihan atas pengingkaran diri sendiri itu.

Dalam filsafat eksistensial, manusia sebagai makhluk individual adalah fakta kehidupan yang pertama kalinya mesti disadari sebelum predikat-predikat yang lainnya, seperti misalnya makhluk sosial. Sebab, pada dasarnya cara manusia memandang diri sendiri menentukan pandangannya pada orang lainnya. Taruhlah Karl Marx yang mencetuskan ideal masyarakat tanpa kelas, tak pelak bapak komunisme ini beranjak dari konsep manusia sebagai orang yang terhisap dan tertindas yang akhirnya dikenal sebagai kaum proletar.

Atas carut-marutnya pertarungan ideologis dan juga dominasi teknologi itu Heidegger pun merasakan semakin hilangnya keterakaran manusia yang otomatis akan mengarahkan kehidupan pada berbagai bentuk bencana, baik bencana kemanusiaan maupun alam. Namun, dalam menghadapi kesuraman zaman itu, Heidegger tak pula berperan laiknya seorang nabi atau para pewarisnya. Seperti halnya Michel Foucault yang pernah menyingkapkan kekuasaan yang serupa udara dimana tak ada satu pun manusia yang mampu mengelak darinya, fenomena ketercerabutan manusia dari akarnya adalah seperti bagian dari drama besar kehidupan manusia yang juga tak dapat dielakkan—serupa dengan “zaman edan” dalam nubuah Ronggawarsita yang dapat disikapi dengan sikap eling lan waspada.

Atas dasar itulah Heidegger kemudian menyajikan dua sikap etis yang bagi saya dapat dirangkum dengan satu istilah tunggal: toleransi. Dua sikap etis yang dinukil dari Eckhart ini adalah “Gelassenheit zu den Dingen” dan “Offenheit für das Geheimnis.” Yang pertama berkaitan dengan rasa kemelekatan pada segala sesuatu yang oleh Eckhart dibahasakan dengan ungkapan “Letting (Gelassenheit) the world go and giving oneself to God” yang di Jawa setara dengan istilah “sumarah.” Sementara yang kedua erat kaitannya dengan sikap waspada atau terbuka terhadap misteri, yang ada hubungannya dengan masa yang akan datang. Kenapa mesti terbuka (Offenheit) atau waspada dalam istilah Ronggawarsita? Sebab, seperti halnya kekuasaan dalam tilikan Foucault, keadaan atau kahanan (Being) yang terjadi sama sekali di luar jangkauan manusia, atau dalam ungkapan Ronggawarsita, “ora kena sinirep limpading budi.” Ketika pun manusia mencoba mencampurinya hanya akan menumbuhkan masalah yang baru, “malah sumuke angradon.”

Dengan demikian, untuk mengidealkan toleransi tak ayal lagi adalah dengan toleransi itu sendiri. Sebab, toleransi merupakan istilah yang diturunkan dari bahasa latin, “tolerare,” yang berarti secara sabar membiarkan sesuatu. Bukankah pada hakikatnya tolerare inilah yang dikandung oleh sikap Gelassenheit dan Offenheit dalam terang Heidegger dan Eckhart, eling lan waspada dalam nubuah Ronggawarsita? Kesuraman adalah laiknya bahaya atau sesuatu yang sebisa mungkin dihindari, namun Holderlin, salah satu penyair kesayangan Heidegger, juga memberikan rumusan, “Di mana bahaya datang, di situ pula yang menyelamatkan.”

Facebook Comments