Empat Langkah Mencegah Konflik yang Menjadi Lahan Subur Radikalisme

Empat Langkah Mencegah Konflik yang Menjadi Lahan Subur Radikalisme

- in Narasi
175
0
Empat Langkah Mencegah Konflik yang Menjadi Lahan Subur Radikalisme

Dimana ada konflik, disitu ada radikalisme. Ketika masyarakat mengalami gesekan dan berujung pada pecahnya pertikaian, disitulah kaum radikal bersorak karena mereka menjadi pihak paling diuntungkan. Konflik dan radikalisme seolah telah menjadi dua sisi mata uang yang mustahil dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan secara resiprokal. Di satu sisi, konflik dapat memicu eskalasi radikalisme. Di sisi lain, radikalisme juga bisa melatari terjadinya konflik.

Dalam ilmu sosial, konflik ialah sebuah keniscayaan dalam kehidupan yang nyaris mustahil bisa dihindari. Ketika satu individu atau kelompok bertemu individu atau kelompok lain, potensi konflik hampir pasti selalu ada. Perbedaan pandangan dan sikap menjadi variabel utama penyebab mengapa manusia memiliki potensi konflik yang tinggi. Meski demikian, konflik bisa dicegah atau setidaknya dikelola agar tidak bereskalasi menjadi pertikaian.

Setidaknya ada empat langkah dalam mencegah konflik di masyarakat yang plural seperti Indonesia. Pertama, mengembangkan sikap toleran dan iklusif terhadap perbedaan identitas suku, agama, ras, dan golongan. Toleransi ialah sikap menerima perbedaan tanpa sikap diskriminatif. Sedangkan inklusif ialah sikap terbuka dengan memberikan ruang bagi kelompok yang berbeda untuk eksis dan mengartikulasikan dirinya. Sikap toleran dan inklusif ialah semacam vaksin yang membuat komunitas bangsa kebal dari virus perpecahan dan konflik.

Kedua, mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warganegara. Harus diakui bahwa salah satu sumber konflik ialah adanya kecemburuan sosial yang diakibatkan adanya kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan. Kesenjangan ekonomi yang menimbulkan disparitas kesejahteraan ini rawan dieksploitasi kelompok tertentu untuk menciptakan gesekan sosial. Sejarah telah mencatat bagaimana sejumlah negara hancur oleh konflik yang dilatari oleh kecemburuan sosial dan ekonomi. Di titik ini, negara harus hadir dengan kebijakan yang egaliter dan berorientasi pada terciptanya distribusi keadilan.

Ketiga, mengembangkan moderasi beragama. Selain kesenjangan sosial, agama atau lebih tepatnya perbedaan dalam menafsirkan ajaran agama ialah sumber konflik paling tua dalam sejarah umat manusia. Seperti kita lihat belakangan ini, menguatnya konservatisme agama yakni peningkatan kesalehan yang berbanding lurus dengan sikap intoleran, telah menyuburkan praktik beragama yang ekstrem. Kaum konservatif begitu mudah mengklaim kebenaran agamanya sendiri, lantas bersikap arogan dan destruktif terhadap kelompok lain. Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi percikan konflik yang siap membara di masa depan.

Keempat, meneguhkan rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan komitmen bela negara (patriotisme) sebagai benteng menangkal propaganda dan provokasi perpecahan. Lunturnya nasionalisme dan patriotisme ialah celah bagi masuknya ideologi asing yang anti-perbedaan dan berorientasi pada penyeragaman. Di tengah kondisi yang multikultur dan multireliji seperti Indonesia, penyeragaman ialah sindrom yang rawan menimbulkan perpecahan dan konflik antar-sesama anak bangsa.

Urgensi Membangun “Sense of Conflict”

Melihat situasi kebangsaan saat ini, harus kita akui bahwa kita berada dalam situasi yang berpotensi menimbulkan konflik. Indikasinya ialah kita mudah sekali dijebak ke dalam perdebatan tanpa ujung dalam menyikapi isu-isu yang muncul ke permukaan. Saban kali isu sosial, politik, atau agama mencuat ke permukaan, publik terbelah ke dalam dua sikap pro-kontra yang saling berseberangan. Cilakanya, perbedaan pendapat itu diekspresikan ke dalam sikap benci, caci-maki, cemooh dan sejenisnya. Ibaratnya, kondisi bangsa saat ini mirip seperti tumpukan rumput kering yang akan mudah terbakar bahkan hanya oleh setitik percikan bara api.

Disinilah pentingnya membangun semacam sense of conflict, yakni kesadaran untuk mengenali sekaligus mencegah konflik sedini mungkin. Seluruh komponen bangsa harus mampu mengidentifikasi segala jenis gejala sosial, politik dan keagamaan yang mengarah pada perpecahan dan konflik. Selanjutnya, kita harus memiliki semacam mekanisme kolektif untuk membendung arus narasi adu-domba yang membenturkan sesama anak bangsa.

Sense of conflik harus mewujud ke dalam kemampuan kita dalam mengelola potensi konflik. Sikap intoleran, eksklusif, dan arogan harus dihapus dan digantikan dengan sikap inklusif dan toleran. Kesenjangan sosial harus dipangkas dengan membuka akses seluas mungkin bagi seluruh kelompok masyarakat untuk menikmati hasil pembangunan. Nalar konservatisme beragama harus didekonstruksi dan diganti dengan nalar moderatisme, yakni beragama tanpa sikap ekstrem (berlebihan). Demikian pula, krisis nasionalisme dan patriotisme harus disembuhkan melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan masyarakat.

Facebook Comments