Empat Langkah Mencegah Medsos Menjadi Ajang Perundungan Digital

Empat Langkah Mencegah Medsos Menjadi Ajang Perundungan Digital

- in Narasi
230
0
Empat Langkah Mencegah Medsos Menjadi Ajang Perundungan Digital

Tempo hari media sosial, terutama Twitter riuh oleh polemik cuitan Eko Kuntadhi yang dinilai merisak (membully) Ning Imaz Fatimatuz Zahra. Ning Imaz sendiri istri dari Gus Rifqil Muslim Suyuthi yang merupakan salah satu kiai Pondok Lirboyo. Penggalan video ceramah Ning Imaz yang sudah ditambahi caption bernada menghina diunggah Eko di akun twiternya dengan caption yang tidak kalah provokatif.

Sontak, netizen marah dan mengecamnya. Demikian pula, warga Nadliyin. Suami Ning Imaz melalui akun twitterya juga bersikap reaktif atas unggahan Eko tersebut. Alhasil, Eko pun menghapus cuitan itu. Bahkan, secara langsung ia meminta maaf ke Ning Imaz dengan sowan langsung ke pondok Lirboyo. Kasus selesai dengan anti-klimaks.

Kasus ini membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa netizen kita tengah mengalami semacam krisis kesopanan. Semua orang seolah berhak merisak alias merundung siapa pun yang berbeda pandangan. Tidak ada ruang bagi diskusi dan klarifikasi apalagi tabayyun. Apa pun yang berbeda harus dilibas habis tanpa ampun.

Jika diamati, krisis kesopanan digital kita dimulai sejak munculnya polarisasi sosial akibat kontestasi politik, baik Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, dan Pilpres 2019. Kemunculan para pendengung (buzzer) yang kerap kali frontal dan vulgar dalam menyampaikan pendapat menyumbang andil pada kian beringasnya warganet di media sosial. Cilakanya, meski hajatan Pilpres telah usai, namun fenomena perundungan digital itu tidak juga surut, bahkan kian parah.

Fenomena perundungan digital tentu bukan hal yang muncul begitu saja, alih-alih ada faktor yang melatarinya. Mengutip John Suler (2004) dalam jurnal Cyberpsichology & Behavior, maraknya perundungan digital merupakan efek dari apa yang disebutnya sebagai disebut disinhibition online effect.

Yaitu kondisi psikologis seseorang yang merasa lebih nyaman untuk menunjukkan perilaku, perasaan, atau pemikiran tertentu secara online dibandingkan dengan lingkungan nyata. Faktor-faktornya antara lain anonimitas, invisibilitas, asinkorinitas, introyeksi solipsistik, imajinasi disosiatif, dan minimisasi otoritas yang ditunjukkan dunia online.

Medsos dicirikan dengan karakternya yang cepat, bebas, dan nyaris tanpa batasan serta aturan. Maka, tidak mengherankan jika individu di dalamnya terobsesi dengan kecepatan. Semua ingin menjadi yang pertama mendapatkan berita dan menyebarluaskannya di kanal medsosnya. Imajinasi menjadi yang tercepat itulah yang kerap menjebak warganet pada labirin hoaks bahkan ujaran kebencian.

Puncaknya seperti kita lihat saat ini, medsos lebih menjadi ajang perundungan digital ketimbang sarana membangun silaturahmi kebangsaan. Lantas, bagaimana mencegah agar medsos tidak menjadi ajang perundungan digital? Berikut tips dan langkahnya.

Pertama, kedepankan nalar verifikasi dan klarifikasi atas sebuah informasi, pesan, atau apa pun yang kita dapatkan di media sosial. Nalar verifikasi dan klarifikasi penting untuk mengetahui nilai kebenaran dan keabsahan atas informasi atau pesan yang kita dapat di media sosial. Seperti kita tahu, di dunia maya siapa saja bebas memproduksi dan mendistribusikan sebuah informasi atau pesan.

Tidak jarang, pengetahuan dan informasi yang beredar di media sosial diproduksi oleh individu yang tidak punya otoritas. Meminjam istilah Tom Nichols, diskursus pengetahuan di media sosial ialah wujud dari apa yang disebutnya sebagai the death of expertise alias matinya kepakaran. Di medsos, siapa pun boleh berbiacara apa saja, meski sebenarnya ia tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Maka, melakukan klarifikasi dan verifikasi atas apa yang kita dapatkan di media sosial ialah sebuah keharusan mutlak.

Kedua, menahan hasrat untuk selalu menjadi yang tercepat. Alih-alih, terobsesi menjadi yang tercepat, idealnya kita menjadi warganet yang beradab. Menjadi yang tercepat di medsos memang penting. Karena jika tidak, maka kita akan menjadi warganet yang irelevan. Namun, jauh lebih penting dari itu ialah kita harus menjadi warganet yang beradab.

Keberadaban kita di media sosial itu ditandai dengan sikap kita yang mampu menilai mana yang pantas dan tidak pantas kita bagikan (share). Kebutuhan untuk mendulang pengikut (follower), like dan engagement publik kiranya tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan untuk menjaga situasi sosial tetap kondusif dan stabil.

Maka, menjadi beradab di medsos jauh lebih penting ketimbang menjadi yang tercepat atau terpopuler. Selain itu, popularitas di media sosial idealnya menjadi modal sosial untuk menebar kebaikan. Bukan justru menjadi alat untuk melakukan perundungan dan persekusi digital.

Ketiga, dari sisi regulasi penting kiranya ada semacam aturan khusus guna mencegah media sosial menjadi ajang perundungan. Selama ini, kita memang memiliki UU ITE untuk menyelesaikan persoalan terkait sengketa di media sosial. Namun, UU ITE kerapkali justru menjadi alat hukum untuk membungkam kebebasan berpendapat warganegara.

Media sosial itu layaknya hutan belantara. Siapa saja boleh melakukan apa pun. Apalagi, media sosial juga memberikan tempat bagi akun-akun anonymous yang menyembunyikan identitas aslinya. Akun-akun anonymous inilah yang selama ini membikin gaduh ruang publik digital kita dengan narasi provokatif dan adu-domba.

Perlu ada kerjasama dan sinergi antara pemerintah, penyedia jasa layanan internet, dan perusahaan media sosial untuk menyusun regulasi. Tujuannya agar mencegah medsos menjadi ajang perundungan digital.

Keempat, dan ini yang barangkalai terpenting bagi wargenet Indonesia ialah membumikan kultur empati dalam bermedsos. Selama ini, kita dikenal dengan adat ketimuran yang kental dengan sikap simpati dan empati serta segan atau sungkan untuk berbicara secara frontal apalagi vulgar.

Namun, karakter itu tidak lagi tercermin dalam perilaku kita di media sosial. Di medsos, kita menjadi sangat reaktif dan acapkali menjadi pribadi yang arogan. Disinilah pentingnya mengembangkan kultur empati di medsos. Empati ialah kemampuan untuk mengimajinasikan diri kita di posisi orang lain. Sebelum kita merundung orang, bayangkan jika kita ada di posisi dia dan bagaimana perasaannya?

Kultur empati bermedsos ini penting agar kita bisa menahan jemari kita untuk merundung orang lain hanya karena berbeda pandangan sosial, politik, dan keagamaan.

Kasus Eko Kuntadhi ini kiranya bisa memberikan pelajaran ihwal pentingnya membangun keadaban di media sosial. Medsos telah menjadi ruang publik digital yang dihuni oleh beragam individu dan kelompok dengan latarbelakang yang berbeda-beda. Perbedaan itu idealnya dikelola dengan mengedepankan kompromi dan negosiasi. Jangan sampai, perbedaan di ruang publik digital itu diselesaikan dengan jalan persekusi dan bully.

Facebook Comments