Empat Pilar Akhlak Menurut Al Ghazali dan Urgensinya untuk Menjaga Bangsa

Empat Pilar Akhlak Menurut Al Ghazali dan Urgensinya untuk Menjaga Bangsa

- in Suara Kita
770
0
Empat Pilar Akhlak Menurut Al Ghazali dan Urgensinya untuk Menjaga Bangsa

Islam pada dasarnya ialah agama yang konstruktif (dinul hadharah). Yakni agama yang berorientasi pada membangun peradaban, alih-alih menciptakan kehancuran (destruktif). Salah satu agenda dakwah Islam, selain mengenalkan konsep teologi tauhid ialah menciptakan masyarakat yang beradab (madani). Dan, Islam tahu betul bahwa modal utama membangun masyarakat beradan itu ialah akhlak. Rasulullah sendiri bersabda, “Sesungguhnya, aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemualiaan akhlak”.

Akhlak, dengan demikian merupakan pondasi penting membentuk masyarakat yang beradab. Kian kuat akhlak masyarakat, maka kehidupan bernegara dan berbangsa akan semakin solid. Sebaliknya, kian lemah akhlak masyarakat bisa dipastikan kian rapuh kondisi bangsa dan negara. Jika kita melihat kondisi bangsa Indonesia hari ini, harus diakui bahwa terjadi kemerosotan akhlak yang drastis sehingga berdampak serius pada ketahanan bangsa. Indikasi kemerosotan akhlak itu tampak pada sejumlah hal.

Pertama, menguatnya sentimen kebencian di kalangan sesama masyarakat yang tampak pada berhamburannya caci-maki dan cemoohan dalam praktik komunikasi kita di ruang publik. Hanya karena berbeda agama dan pilihan politik, masyarakat kerapkali dengan mudah mendeskreditkan orang lain dengan beragam pelabelan negatif (negative stereotyping).

Kedua, mewabahnya sikap tidak percaya (distrust) pada lembaga pemerintah yang berujung pada munculnya pembangkangan sipil (civil disobedience). Pembangkangan ini tampak pada sikap sebagian warga yang kerap emoh taat pada hukum dan menentang kebijakan pemerintah.

Ketiga, hilangnya sikap saling menghargai dan menghormati di antara kelompok yang berbeda sebagai efek dari menguatnya fanatisme golongan. Fanatisme (agama dan politik) inilah yang belakangan mencabik-cabik ikatan kebangsaan kita. Jika tidak ditangani segera bukan tidak mungkin fanatisme itu akan menjadi pemicu munculnya segregasi kebangsaan.

Menghidupkan akhlak mulia dengan demikian ialah prasyarat mutlak terjaganya sebuah bangsa. Merujuk pada al Ghazali dalam magnum opus-nya Ihya’ Ulumuddin, ada setidaknya empat pilar akhlaqul karimah. Yakni kebijaksanaan (hikmah), keberanian (saja’ah), kontrol diri (‘iffah), dan keadilan (‘adil). Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi satu per satu.

Akhlak Ialah Buah Beragama

Pertama, kebijaksanaan ialah sebuah keadaan jiwa dimana manusia mampu memahami baik dan buruk secara obyektif dan rasional. Ini artinya, kebenaran dan kebaikan semata ditentukan oleh norma dan etika, bukan perasaan subyektif apalagi suka atau tidak suka. Kedua, keberanian ialah kondisi jiwa manusia yang mampu menundukkan hawa nafsu dan mengedepankan akal serta nurani dalam bertindak. Ketiga, kontrol diri ialah keadaan ketika akal pikiran dan hati nurani senantiasa tunduk pada ajaran agama.

Keempat, keadilan merupakan sikap tidak berat sebelah dalam mengambil keputusan. Bahwa yang batil dan yang haq merupakan dua hal yang berbeda dan tidak akan pernah dicampuradukkan. Jika keempat hal itu dimiliki manusia, maka manusia akan dengan sendirinya memiliki akhlak mulia. Keempat hal itu juga merupakan hal yang urgen untuk menjaga bangsa.

Kebijaksanaan diperlukan oleh para pengambil keputusan, yakni pemerintah, dalam mengatur negara agar aman, damai, dan sejahtera. Tanpa kebijaksanaan, pemerintahan akan rawan terjebak pada konflik kepentingan. Keberanian diperlukan oleh seluruh elemen bangsa untuk melawan segala nafsu negatif, seperti kebencian, perpecahan, kekerasan dan sejenisnya. Kontrol diri diperlukan agar segenap elemen bangsa mampu menahan diri dari provokasi, sentimen fanatisme, dan hal-hal yang berkonotasi pada perpecahan dan konflik. Terakhir, keadilan diperlukan oleh seluruh entitas bangsa dalam mengambil keputusan dan bersikap obyektif atas segala sesuatu.

Empat pilar akhlak itulah yang idealnya hadir dalam kehidupan beragama, bernegara, dan berbangsa. Caranya ialah dengan memformulasikan ulang cara pandang dan praktik keagamaan kita. Selama ini, ada kesan bahwa praktik keagamaan kita hanya menyentuh level permukaan, alias hanya berhenti pada tataran simbolis-eksoteris. Akibatnya, kita kerap terjebak pada fanatisme dan alergi pada perbedaan.

Padahal, inti agama terletak pada dimensi esoteris-nya. Yakni munculnya kesadaran untuk senantiasa berbuat baik terhadap sesama. Jika agama diibaratkan sebuah pohon, dan ritual peribadatan ialah cabang dan rantingnya, maka perilaku yang baik atau akhlak mulia ialah buahnya. Perilaku keagamaan sudah sepatutnya bermuara pada munculnya kesadaran akan pentingnya mewujudkan masyarakat madani; masyarakat yang beradab, hidup damai, aman, dan sejahtera.

Facebook Comments