Empat Residu Ceramah Agama Segregatif bagi Negara Majemuk

Empat Residu Ceramah Agama Segregatif bagi Negara Majemuk

- in Suara Kita
191
0
Empat Residu Ceramah Agama Segregatif bagi Negara Majemuk

Ditolaknya Abdul Somad masuk ke wilayah Singapura oleh otoritas negara tersebut menandai betapa seriusnya negara berjuluk The Lion City itu dalam menjaga harmoni multikulturalisme. Seperti kita tahu, Singapura ialah negeri yang dihuni oleh penduduk dengan berbagai macam latar belakang agama, kebangsaan, etnis, dan identitas lainnya. Singapura selama ini dikenal berkomitmen tinggi menjaga kemajemukan dengan tidak memberikan ruang gerak leluasa bagi penyebaran paham intoleran, apalagi ekstremisme.

Pencegahan Abdul Somad masuk ke Singapura pada dasarnya ialah bagian dari komitmen negara tersebut menghalau setiap anasir intoleransi dan ekstremisme. Tersebab, Abdul Somad memiliki rekam jejak sebagai penceramah agama yang gemar menebar pesan-pesan intoleransi bahkan menyokong ekstremisme dan kekerasan atas nama agama. Secara eksplisit, pihak berwenang Singapura, dalam hal ini Kementarin Dalam Negeri menyebut bahwa Abdul Somad digolongkan sebagai penceramah agama yang rasialis dan segregasionis.

Dalam penjelasannya, Kementerian Dalam Negeri Singapura menjelaskan makna segregasionis sebagai pendukung cara pandang pemisahan kehidupan sosial berdasar pada perbedaan agama, ras, etnis, kesukuan dan identitas lain. Segregasionisme ialah paham yang meyakini bahwa perbedaan identitas dan latar belakang bisa menjadi alasan untuk melakukan tindakan diskriminasi, intoleransi, bahkan kekerasan. Segregasionisme tidak lain merupakan ancaman serius bagi negara majemuk. Jika diamati, ada setidaknya empat residu nalar segregtif yang dibalut sentimen agama bagi negara majemuk.

Empat Residu Ceramah Agama Segregatif

Pertama, ceramah agama segregatif rawan menimbulkan perpecahan bahkan pada titik tertentu potensial melahirkan konflik lebih besar. Pola pikir segregatif meyakini bahwa manusia memiliki derajat yang berbeda berdasarkan pada status sosial maupun identitas pribadinya. Keyakinan yang demikian ini jelas akan melahirkan sekat pemisah antar-kelompok dalam sebuah masyarakat. Sekat pemisah inilah yang nantinya rawan dikapitalisasi pihak tertentu untuk menyulut benturan sosial-politik lebih besar.

Kedua, ceramah agama segregatif akan berujung pada munculnya praktik intoleransi. Pembedaan manusia berdasar pada identitas yang melekat padanya akan membuka jalan bagi eksklusivisme. Yakni sikap merasa diri paling istimewa dan menganggap entitas atau kelompok lain tidak memiliki hak yang setara degan dirinya. Seperti kita tahu, intoleransi ialah jalan menuju radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang sesungguhnya.

Ketiga, ceramah segregatif dapat memicu provokasi kekerasan. Yaitu tindakan mengajak individu atau kelompok melakukan kekerasan terhadap individu maupun kelompok lain. Makna kekerasan dalam hal ini meliputi kekerasan secara verbal dan fisik. Dalam banyak hal, ceramah agama segregatif memang lebih mengumbar kekerasan verbal ketimbang melakukan kekerasan fisik. Namun, patut disadari bahwa kekerasan verbal itu kerap menjadi awal lahirnya kekerasan fisik.

Terakhir, ceramah agama segregatif dapat memicu problem serius yakni terjadinya disintegrasi bangsa alias retaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Bagi bangsa yang majemuk, ceramah keagamaan yang mengeksploitasi perbedaan identitas lama kelamaan akan merenggangkan ikatan kebangsaan. Perlahan namun pasti, masing-masing kelompok agama, kesukuan, dan etnis akan memiliki fanatisme terhadap identitasnya sendiri. Disintegrasi ialah momok paling menakutkan bagi bangsa yang majemuk, yang penduduknya terdiri atas berbagai macam kelompok agama, suku, ras, etnis dan sebagainya. Jika persatuan itu telak retak, maka kehancuran sebuah bangsa hanya akan tinggal menunggu waktunya.

Ironisnya, tren ceramah agama segregatif yang dibumbui dengan hoaks dan ujaran kebencian itu justru marak di negara-negara berhaluan demokrasi seperti Indonesia. Inilah paradoks demokrasi. Di satu sisi, demokrasi menjanjikan kebebasan dan kesetaraan hak yang memungkinkan setiap manusia menikmati otonomi dan independensi secara utuh. Namun, di sisi lain demokrasi juga kerap dimanipulasi oleh segelintir kelompok untuk menyebarkan gagasan-gagasan anti-kemajemukan. Ironisnya, manipulasi itu justru dilakukan oleh para elite agama.

Indonesia sebagai negara majemuk harus waspada terhadap segala narasi intoleransi, segregasi dan provokasi kebencian berkedok ceramah agama. Panggung dakwah idealnya menjadi media menyebar pesan perdamaian dan persatuan bukannya justru menjadi corong perpecahan dan permusuhan. Para penceramah agama hendaknya menjadi patron pemersatu bangsa, bukan justru menjadi aktor penyebar segregasi dan polarisasi.

Tren ceramah agama segregatif ini jelas harus segera diakhiri. Segenap elemen bangsa harus bersinergi untuk mensterilkan ruang publik, utamanya panggung keagamaan dari narasi intoleran. Kita wajib menjaga kemajemukan agama, suku, etnis, ras, dan warna kulit lantaran itu merupakan anugerah sekaligus kekayaan bangsa yang kiranya bisa menjadi modal sosial-kultural membangun peradaban.

Facebook Comments