Episteme Kekerabatan Batak Untuk Kohesifitas Bermasyarakat

Episteme Kekerabatan Batak Untuk Kohesifitas Bermasyarakat

- in Suara Kita
132
1
Episteme Kekerabatan Batak Untuk Kohesifitas Bermasyarakat

Dalam catatan Setara Institut untuk tahun 2016, setidaknya terdapat 270 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan. Pihak yang menjadi pelakunya pun beragam dan dengan cara yang beragam pula. Mulai dari aksi lapangan, pembiaran, hingga hal-hal yang memang jelas dan terang sebagai penyataan provokatif. Dalam penelitian yang berbeda, survei dari Wahid Institut bersama LSI menemukan bahwa masih kuatnya nuansa permusuhan di antara beberapa golongan masyarakat yang berbeda. Dari 1.520 orang di 34 provinsi yang di survei secara acak, didapati bahwa 59.9 persen orang tersebut memiliki kelompok yang dibenci.

Salah satu kelompok yang masuk dalam kategori yang dibenci tersebut adalah kelompok yang berbeda agama (non muslim). Sulit menampik kenyataan bahwa semakin bertukar masa, semakin santer pula nuansa kebencian yang hadir di tengah-tengah bangsa ini. Kohesivitas yang sebelumnya erat dalam kehidupan berbangsa, seolah bergeser menjadi pandangan yang menganggap yang berbeda sebagai yang pihak mesti diarahkan ke jalan yang benar.

Menghadapi kenyataan ini, rasanya tidak salah bila kita mundur sejenak dan belajar ulang dari kekayaan budaya yang potensial merekatkan kembali jalinan relasi kita yang hari inis semakin merenggang. Salah satu budaya yang bisa coba untuk di-dedah untuk kemudian memahami kemanusiaan yang ideal bagi bangsa ini adalah budaya Batak. Untuk sekedar diketahui saja, nilai-nilai yang selama ini menghidupi masyarakat batak cukup mampu mengikat keeratan hubungan di antara masyarakat Batak sendiri dengan segala dinamikanya, di mana pun mereka berada.

Kohesifitas Batak Untuk Indonesia

Masyarakat Batak terdiri dari beragam sub-suku lagi. Kali ini yang akan coba sedikit diulas adalah pemahaman kohesifitas budaya masyarakat Batak Toba. Salah satunya adalah mengenai relasi kekerabatan yang terdapat dalam masyarakat ini – yang potensial menjadi penunjang kohesifitas bangsa yang belakangan seolah memudar.

Baca juga : Pendidikan Berbasis Budaya Lokal Penangkal Radikalisme

Setidaknya dengan memperhatikan konsepsi yang ada, kita coba diajak untuk selalu melihat pihak yang berbeda sebagai bagian kerabat yang penting untuk dihargai dan dihormati. Secara fragmentatif, kita bisa menemukan unsur kekerabatan dalam masyarakat Batak lewat sejumlah konsepsi. Konsepsi-konsepsi tersebut memiliki sejumlah pesan, di mana salah satu pesan yang terus diembannya berupa jalinan pertalian saudara di antara pihak-pihak yang ada.

Konsepsi yang pertama adalah konsepsi Dalihan Natolu. Konsepsi ini menjadi jiwa dalam kekerabatan Batak pada level dasar sekaligus utama (Vergouwen, 2004). Terjemahan secara sederhana memiliki arti sebagai tungku tempat memasak yang ditopang oleh tiga batu. Pemahaman yang ingin dihadirkan di sini adalah menjalin relasi yang erat dengan mengetengahkan 3 elemen terpenting dalam kekerabatan Batak. Bentuknya adalah dengan Somba mar-Hula-hula, manat mar-Dongan Tubu dan Elek mar-Boru.

Yang dapat diterjemahkan secara sederhana, bahwa setiap manusia dari suku Batak memiliki kewajiban untuk menghormati secara penuh pihak yang disebut sebagai hula-hula (keluarga dan saudara laki-laki dari pihak Istri), lalu baik menjalin relasi dengan dongan tubu (Pihak yang satu marga dengan dirinya) dan Menyayangi Boru (Pihak anak perempuan, adik perempuan dan pihak keluarga besan yang menjadikan anak perempuan atau adik perempuan kita sebagai menantunya). Hal di atas wajib dilakoni setiap manusia Batak dalam perannya menjalani kehidupan agar harmoni dapat tercipta.

Konsepsi kekerabatan yang kedua adalah “Halak Kita…” Dengan terjemahannya yang sederhana sebagai “Orang Kita” Mungkin bagi pihak yang akrab dengan budaya Batak menganggap konsepsi tersebut sebatas ungkapan biasa di mana orang Batak menyebut orang Batak lainnya dengan sebutan “Halak Kita”. Namun kembali pesan yang tersirat dalam konsepsi tersebut menggambarkan adanya keinginan untuk memiliki pertalian dengan pihak yang dimaksudkan sebagai “Halak Kita” tadi.

Bila diperhatikan dalam penggunaannya, ada semacam unsur yang menyiratkan makna bahwa sejatinya perbedaan merupakan sebuah keniscayaan, namun tetap ada perekat diantara mereka. Hal ini bisa dilihat dari penyematan kata “Kita” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kita. Dengan pemakaian ungkapan Halak Kita tersebut, bisa diamati bahwa sejatinya masyarakat suku Batak tidak ingin memiliki jarak dengan masyarakat dari Batak mana pun meskipun perjumpaan tersebut tidak terjadi di tanah Batak, Sumatera Utara. Melalui penggunaannya, masyarakat di suku Batak ingin memiliki keterikatan antara dirinya dengan masyarakat Batak lainnya. Pemunculan ungkapan “Halak Kita…” seolah ingin mengatakan bahwa adanya jalinan relasi yang tak bisa lepas antara semua masyarakat Batak meskipun berangkat dari wilayah yang berbeda.

Konsepsi yang ketiga adalah Ale-Ale (teman/kawan). Dalam kekerabatan Batak, Posisi pihak yang bukan Batak pun mendapatkan pengakuan yang penting, dengan kategorisasinya adalah Ale-Ale. Di sini setiap manusia dari suku Batak tidak dapat menafikkan bahwa dalam kehidupan terdapat keniscayaan bahwa tidak hanya suku Batak yang ada di muka bumi ini, sehingga mereka pun wajib mengakui perbedaaan yang lain serta menjalin relasi dengan perbedaan tersebut. Perbedan tersebut dapat hadir dalam bentuk pertemanan manusia Batak dengan relasinya dari etnis dan agama lain.

Untuk diketahui saja, belakangan ini dalam kesakralan ritus tradisi perkawinan adat masyarakat Batak, Ale-Ale pun tidak akan luput untuk diundang. Salah satu sebabnya adalah pihak keluarga mempelai ingin mengetahui pertemanan dari mempelai, serta diharapkan Ale-Ale (kawan/teman) yang hadir pun turut serta berperan dan memanjatkan doa demi keutuhan pernikahan kedua mempelai dan keluarganya besarnya.

Secara sederhana bisa kita lihat bagaimana episteme kekerabatan Batak selalu berupaya mencari cara guna menjalin relasi dengan pihak yang berbeda. Jalinan relasi ini memiliki peran penting dalam membingkai arah jalan manusia Batak dalam kehidupan agar tetap harmoni. Hal sederhana semacam ini tentu penting untuk diperhatikan dan dipelajari kembali oleh kita di tengah-tengah arus yang kerap ingin menghilangkan perbedaan.

Facebook Comments