Esensi Berkurban: Ibadah Sosial untuk Menekan Sifat Radikal

Esensi Berkurban: Ibadah Sosial untuk Menekan Sifat Radikal

- in Suara Kita
238
0
Esensi Berkurban: Ibadah Sosial untuk Menekan Sifat Radikal

 (*)فصل لربك وا نحر

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (Q.S Al Kautsar:2)

Ayat ini adalah manifestasi dari ayat sebelumnya, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Ayat di atas adalah firman Allah yang diturunkan sebagai perintah kepada Nabi Muhammad dan kaumnya untuk beribadah kepadaNya. Sebagai perwujudan dari rasa syukur seorang hamba atas nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya.

Ibadah yang ditekankan dalam ayat ini adalah ibadah sholat (li Rabbika) semata-mata untuk Allah, serta berkurban. Mengapa kemudian kata li Rabbika tidak diletakkan di akhir ayat? Hal ini karena segmentasi ibadah antara sholat dan berkurban sedikit berbeda. Dimana sholat merupakan ibadah seorang hamba langsung kepada Tuhannya (Hablumminallah). Berbeda dengan berkurban, yang lebih ditekankan sebagai ibadah sosial (Hablumminannas).

Sejarah panjang disyariatkannya ibadah berkurban sudah sangat familiar bagi kita umat muslim. Yakni kisah pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap puteranya Nabi Ismail. Selain itu, prosesi berkurban sebenarnya telah ada sejak zaman Nabi Adam. Yang dicontohkan oleh putera beliau Habil dan Qabil. Dua kisah ini yang kemudian menjadi rujukan berkurban sebagai bentuk ibadah sosial.

Baca juga : Mengorbankan Egoisme, Meneguhkan Kepedulian Sosial

Kenapa harus ibadah sosial? Tidak cukupkah ibadah kepada Tuhan saja? Di sinilah sebenarnya esensi nilai ibadah berkurban. Allah SWT tidak pernah sekalipun membutuhkan daging yang akan kita kurbankan. Namun lebih kepada ketakwaan kita untuk beribadah ikhlas kepadaNya. Itulah mengapa berkurban benar-benar merupakan bagaimana kita olah rasa dalam kehidupan sosial. Ada dualisme sisi ibadah sosial yang akan kita pahami di sini, yakni dengan diri sendiri dan juga dengan sesama manusia.

Diri Sendiri, ibadah sosial kepada diri sendiri, juga termasuk hablumminannas. Karena kita masih termasuk golongan manusia bukan? Secara sederhana berkurban adalah belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang kita anggap paling berharga dalam hidup kita. Dimana di sini lebih kepada harta benda, yang diwujudkan dalam hewan ternak. Nilai ibadah pada diri sendiri akan kita peroleh jika kita mampu menahan untuk tidak takabur karena bisa berkurban dibandingkan orang lain yang masih belum mampu membeli hewan kurban.

Menyembelih hewan kurban pada dasarnya adalah bentuk simbolik yang memiliki banyak nilai-nilai di dalamnya. Salah satunya adalah mengajarkan untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Sifat dimana lebih mementingkan diri sendiri, dan merasa paling benar. Dimana sifat ini jika kemudian dibiarkan akan tumbuh menjadi sifat radikal, yakni sifat yang merasa paling benar dari orang lain dan golongan yang lain.

Selain itu, merujuk pada istilah Idul Adha yang teridiri dari dua suku kata yang berasal dari bahasa Arab. Idul yang berasal darti kata ‘aada-ya’uudu-awdatan wa ‘idan yang memiliki arti kembali. Sedangkan Adhaakar berasal dari kata adha-yudhii-udhiyatan yang berarti berkorban. Dan istilah Kurban sendiri juga berasal dari bahasa Arab qaruba-yaqrubu-qurbaan yang artinya kedekatan yang sangat (Penguatan).

Berdasarkan makna di atas dapat disimpulkan bahwa setiap kita yang berqurban dengan ikhlas dan tulus niat ibadah kepadaNya, tanpa embel-embel legitimasi dari pihak manapun akan menjadi sebab seorang hamba semakin dekat (qariib) dengan Allah SWT. Itulah mengapa dalam pelaksanaan Idul Adha kita senantiasa diingatkan dengan banyak keteladanan, terkait iman, islam, dan ikhsan, untuk memperkokoh keimanan pada diri kita sendiri. Karena ketika keimanan telah kokoh, maka kita tidak kan mudah goyah oleh serangan paham-paham yang salah.

Sesama Manusia, daging yang diperoleh dari hasil berkurban bukan kemudian hanya untuk dikonsumsi pribadi saja. Akan tetapi lebih dari pada itu, nilai ibadah sosial yang harus ditekankan adalah bagaimana kita dengan ikhlas membagikan daging hasil kurban tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang mereka. Bahkan jika kemudian kita bernadzar untuk berkurban, kita memiliki kewajiban untuk tidak sedikitpun ikut mengonsumsi daging yang kita kurbankan tersebut.

Berkurban juga mengajarkan untuk tidak memutus silaturrahim dengan kerabat dekat. Jika ketika Idul Fitri kita bersilaturrahim kepada keluarga-keluarga yang berada di luar kota. Pada moment Idul Adha kita dituntut untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat, tetangga-tetangga sekitar. Yang nantinya daging hasil kurban tadi kita sebarkan. Lebih dari itu, dengan berkurban dan membagikannya kepada lingkungan kita sendiri dapat menekan timbulnya sikap tenggang rasa dan canggung dengan lingkungan. Dimana hal ini jika dibiarkan akan berpotensi merusak hubungan dengan sesama. Bahkan dapat menimbulkan sikap merasa paling baik diantara orang-orang di lingkungan kita sendiri, yang dapat berpotensi timbulnya sifat radikal dalam diri.

Idul Adha adalah moment suci, mensucikan diri untuk kembali ke fitrah. Membersihkan dari sifat-sifat kebinatangan yang melekat dalam diri. Sifat-sifat ini memiliki potensi menimbulkan sifat radikal. Sehingga perlu ditekan agar tidak tumbuh semakin menjadi. Moment Idul Adha juga merupakan ruang melatih diri agar dapat ikhlas dalam beribadah dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi pada lingkungan. Dualisme ibadah sosial dalam berkurban dapat dijadikan barometer untuk mengupgrade keimanan kita kepada Allah SWT dan menekan timbulnya sifat radikal dalam diri.

 

Wallahu’Allam

Facebook Comments