Esensi Dakwah : Ruang Edukasi, Bukan Intimidasi

Esensi Dakwah : Ruang Edukasi, Bukan Intimidasi

- in Suara Kita
165
0

Dakwah merupakan cara mengedukasi dan mengenalkan Islam kepada manusia. Karena itulah dakwah haruslah dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan, keteladanan dan akhlak yang baik yang bisa menjadi cerminan Islam dan apa yang diajarkan. Media dakwah seharusnya mampu menjadi perubahan sosial masyarakat yang tidak beradab menjadi lebih beradab.

Karena itulah seorang Kiayi atau pedakwah bisa dianggap sebagai duta Islam untuk mengenalkan dan mengajarkan tentang Islam. Menyiarkan suatu agama harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga kegiatan dakwah untuk menyiarkan agama tersebut dapat diterima oleh umat manusia dengan kemauan dan kesadaran hati, bukan karena paksaan.

Kini, dakwah tidak hanya dilakukan dengan pengajian dan ceramah agama saja, namun kenyataannya dengan berkembangnya teknologi saat ini media dakwah dapat dilakukan dengan berbagai metode dan media yang mampu disesuaikan dengan situasi terkini sehingga proses dakwah akan tepat pada sasaran.

Agama tidak akan mampu tegak dan bertahan tanpa adanya dakwah. Rusaknya suatu agama bisa saja terjadi karena para pemeluknya meninggalkan dakwah. Karena alasan inilah, seorang ulama atau pedakwah harus mampu memperlihatkan bahwa Islam merupakan agama yang penuh kesantunan, karena memang kesantunan merupakan salah satu cara Rasulullah dalam menyebarkan Islam.

Menjadi ulama berarti harus siap untuk menjadi panutan, karena itulah seorang ulama diharuskan bersikap santun dan bijaksana dalam segala tindak tanduk yang dilakukan. Seorang ulama yang mengajarkan Islam dengan penuh emosi dan maki-maki, sebenarya tidak bisa menjadi panutan. Karena dengan emosinya sendiri saja dia tidak mampu menahan, apalagi untuk bersikap arif dan bijaksana.

Dakwah bukanlah ajang untuk menjelek-jelekkan seseorang ataupun ajang intimidasi, namun sebetulnya dakwah merupakan media seorang guru yang mengajarkan dan memperlihatkan Islam yang sesungguhnya. Ulama merupakan pewaris apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah yakni mengenalkan Islam kepada masyarakat menyeluruh. Oleh karena itu, akan sangat berbahaya jika seorang ulama menyampaikan dakwahnya dengan cara yang kasar, caci maki, dan melakukan ghibah terhadap seseorang. Padahal kita tau perbuatan ghibah sangat dilarang oleh agama, karena sama saja memakan bangkai saudaranya sendiri.

Jika seorang pendakwah malah mengajak umatnya berghibah maka bisa dipastikan sikap tersebut ditiru oleh mereka yang menjadi jamaahnya. Sungguh miris memang, karena sikap tersebut bukanlah sebuah cerminan Islam yang sesungguhnya. Ulama yang seperti inilah yang menghancurkan citra agama Islam, yang justru membuat non muslim yang ingin mengenal muslim menjadi takut untuk mengenal lebih dalam, bahkan sikap tersebut mampu membuat mereka ilfil dalam berislam. Tidak perlu berdakwah yang akan justru menyakiti perasan orang lain. Jangan berdakwah jika hanya ingin mengumbar kebencian dan permusuhan kepada kelompok lain.

Ruang dakwah adalah ruang mengedukasi dan mengajak orang untuk masuk Islam dan persaudaraan, bukan permusuhan. Meski mereka non muslim, mereka menyadari bahwa seharusnya semua agama mengajarkan tentang kebaikan, bukan malah kebencian. Dakwah yang hanya berisi mencemooh kepada orang lain, dakwah tersebut tidak bisa diharapkan manfaatnya.

Seorang ulama mustinya mampu mendekatkan Islam, bukan malah menjauhkan manusia dari Islam. Seorang ulama harus arif dalam berdakwah, karena dengan bersikap seperti itu, akan terlihat kedewasaan dan keluhuran sang ulama tersebut. Berdakwah yang baik adalah berdakwah yang membawa kesejukan, kedamaian, dan ketenangan, bukan berdakwah untuk memecah belah, menjelekkan dan menyakiti orang lain.

Kondisi lingkungan dan juga perekambangan budaya yang ada di daerah dimana pendakwah akan melakukan dakwahnya juga harus diperhatikan, karena dalam proses penyampaian materi dakwah juga harus sesuai dengan kemampuan dan daya serap umat. Dakwah bisa dikatakan efektif jika menimbulkan tindakan yang nyata bagi jamaah tentang materi yang telah di sampaikan.

Tindakan yang dimaksud ialah perubahan tingkah laku, mental yang dimiliki yang sesuai dengan ajaran yang telah disampaikan. Namun sayangnya, di zaman sekarang ini banyak orang yang mengaku ulama, tapi kelakuannya bukan mencerminkan sebagai seorang yang patut untuk ditiru. Bahkan hal yang lucu dan aneh, banyak dari mereka (ulama abal-abal) yang baru belajar membaca terjemahan al-Quran, tapi merasa sudah cukup mengerti dan memahami tentang kaidah agama yang sesungguhnya.

Padahal idealnya, orang mempelajari al-Quran tidak cukup dalam waktu 5-6 tahun untuk mengerti kaidah apa yang ada didalam al-Quran itu sendiri. Akhirnya yang didapat dari mereka hanyalah sebatas ungkapan kebencian dari pendakwah yang bodoh yang tidak mengerti tentang Islam. Cacian makian yang terus ditujukan seseorang karena merasa dirinya paling benar dan paling sempurna sebagai seorang hamba.

Karena itu banyak kita temukan penganut para Ulama abal-abal seperti ini mudah mengintimidasi dan mengkafir-kafirkan orang yang berbeda dari mereka tidak perduli mereka adalah non muslim atau bahkan saudara seagamanya. Pendakwah model seperti ini relatif dalam materi dakwahnya tidak berisi ilmu yang dapat diserap jamaahnya, karena yang disampaikan hanya sebatas ujaran kebencian kepada kelompok lain di luar pemahaman dari si pedakwah.

Pedakwah seperti ini tudak akan mampu menyalurkan ilmu yang mereka dapatkan, jutru mereka hanya mampu menjadi seorang penyampai kebencian yang disalurkan kepada jamaahnya. Karena itulah, seorang jamaah juga harus pandai-pandai memilih seorang guru atau pedakwah yang akan dia dengarkan isi ceramahnya. Mencari pendakwah  yang mampu mengajak dan mengedukasi umat. Seorang ulama ibarat seorang duta Islam yang harus menampilkan Islam dengan anggun sehingga umat tertarik hatinya. Dakwah harus mampu membuat simpati bukan lari atau bahkan mencoreng nama Islam.

Facebook Comments