Esensi Hijrah : Keluar Dari Suasana Permusuhan Menuju Persaudaraan

Esensi Hijrah : Keluar Dari Suasana Permusuhan Menuju Persaudaraan

- in Suara Kita
200
0

Momentum hijrah adalah titik balik kejayaan peradaban Islam yang akhirnya ditetapkan menjadi awal tahun dalam kalender hijriyah. Sebuah pilihan dan ijtihad yang tepat untuk mengawali setiap awal tahun dalam kalender Islam dengan semangat hijrah. Lalu apa sebenarnya yang bisa diambil dari semangat hijrah?

Belakangan istilah hijrah mengalami popularitas kea rah makna yang luas tetapi justru menyempit. Memang benar, hijrah dimaknai pada makna maknawi bukan lagi perubahan atau pergeseran fisik. Namun, penggunaannya hanya dipahami sebagai perubahan tampilan semata.

Jika konsisten dalam merayakan semangat hijrah Nabi, tentu saja makna hijrah bukan sekedar berubah secara tampilan apalagi menjadi lebih tertutup. Hijrah bukan berarti menjadi lebih terbatas dan hanya bergaul dengan lingkungan yang dianggap shaleh saja.

Praktek hijrah yang dilakukan Nabi adalah menghindari kecamuk kebencian dan permusuhan menuju suasana lingkungan dan kebatinan yang penuh dengan kedamaian dan persaudaraan. Narasi kebencian dan permusuhan yang sudah memuncak di negeri Mekkah telah menyudutkan umat Islam. Penyiksaan dan ketertindasan yang dialami para pengikut Nabi sudah pada batas yang sangat ekstrem.

Hijrah menjadi pilihan untuk keluar dari narasi kebencian dan permusuhan. Suasana yang penuh kebencian dan permusuhan bukan lagi arena yang nyaman untuk ditinggali. Harus ada perubahan suasana dan kondisi agar menjamin keselamatan seluruh umat. Karena itulah, hijrah adalah sebuah solusi nir kekerasan untuk mengatasi sesaknya narasi kebencian dan permusuhan yang dialami umat Islam.

Inilah sejatinya pelajaran penting dari semangat hijrah untuk menghindari sesaknya narasi kebencian dan tindakan permusuhan. Sisi lain, hijrah mengajarkan tentang esensi persaudaraan. Sebuah komunitas, masyarakat dan negara tidak akan kokoh tanpa ada rasa persaudaraan. Rasa bersaudara ini adalah kunci membangun sebuah peradaban.

Madinah juga bukan negeri yang sedang baik-baik saja sebelum datangnya imigran muslim. Madinah penuh dengan kecamuk narasi kebencian dan permusuhan antar suku. Perbedaan juga menjadi tantangan yang seringkali berujung permusuhan di negeri itu. Islam dengan semangat hijrah datang memberikan perspektif tentang persaudaraan.

Islam memberikan gambaran bahwa manusia semuanya bersaudara, meski berbeda suku, budaya, bangsa, maupun agama. Manusia harus menyadari bahwa kehidupan membutuhkan kebersamaan, kekompakan, dan toleransi untuk kemajuan dan kebahagiaan bersama. Hijrah mengajarkan untuk menghindari berbagai bentuk permusuhan menuju rasa persaudaraan.

Banyak tragedi kemanusiaan yang berawal dari kebencian dan permusuhan. Dalam menghadapi masa depan yang penuh masalah, sikap dewasa dan matang dalam menyikapi masalah haruslah dimunculkan. Sudah waktunya untuk menghilangkan kebencian terhadap agama lain, etnis lain, golongan lain, dan suku lain dengan membangun semangat persaudaraan.

Agama harus diletakkan sebagai semangat untuk menyebarkan dan membumikan nilai-nilai persaudaraan dan kedamaian. Hijrah harus dimaknai tidak hanya secara simbolis perubahan tampilan tetapi perubahan semangat sebagaimana hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad yang mampu menanamkan persaudaraan dan kasih sayang.

Semangat hijrah adalah di mana penduduk Madinah yang beragam mampu menerima secara terbuka umat Muslim yang sedang mencari perlindungan. Tidak ada perbedaan antara pendatang dan pribumi dalam hak dan kewajiban. Semua bekerjasama untuk menjamin terciptanya perdamaian.

Persaudaraan yang terjalin di Madinah bukan saja dengan mereka yang seagama, tetapi juga dengan mereka yang berbeda agama. Karena itulah, dengan semangat hijrah hanya dalam kurun 11 tahun, Madinah yang jamak suku dan agama itu menjadi kota yang maju, makmur, dan bermartabat.

Pelajaran penting bagi bangsa Indonesia dalam memaknai hijrah sejatinya adalah persoalan menghindari dan mengkahiri narasi kebencian dan permusuhan. Jika bangsa ini ingin menjadi negara yang maju dan bermartabat harus ada komitmen seluruh komponen bangsa dengan latar belakang apapun untuk mengkahiri kebencian dan permusuhan.

Facebook Comments