Etika (Media) Sosial Menjadi Konsen Dakwah Nabi

Etika (Media) Sosial Menjadi Konsen Dakwah Nabi

- in Narasi
975
0
Etika (Media) Sosial Menjadi Konsen Dakwah Nabi

Etika merupakan salah satu konsentrasi Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah. Pergaulan antara anak dengan orang tua, murid kepada guru, saling bertetangga, bermasyarakat, dan lain sebaginnya selalu menjadi bahan garapannya. Sejak saat itu, interaksi tidak saja dilakukan secara langsung, namun juga melalui media, diantaranya berkirim surat.

Berapa banyak hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW sangat getol dalam mengampanyekan akhlakul karimah. Beberapa diantaranya adalah, “Berbuat baiklah kepada orang tua-orang tua kalian maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian, dan jagalah diri kalian, maka istri-istri kalian akan terjaga,” (HR Ath-Thabarani). “Perbaikilah hubungan baik dengan orang yang bertetangga denganmu, niscaya engkau akan menjadi Muslim yang baik,” (HR Ibnu Majah); “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari); dan masih banyak yang lainnya.

Perintah-perintah yang diberikan Nabi Muhammad SAW tidak sekadar dalam lisan namun juga dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak pernah mencela, tidak pernah membalas perbuatan buruk, mengajak orang yang melintas di depan rumah untuk menjadi teman, tidak pernah marah, dan lain sebaginya.

Maka dari sini, tidak mustahil manakala para sahabat banyak yang memiliki kesaksian akan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW yang mesti diteladani umat hingga akhir zaman. Disebutkan di dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim bahwa sahabat Anas berkisah “Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata, ‘Husy!’ Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, ‘Mengapa engkau melakukannya?’ Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya kulakukan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?”

Kesaksian yang luar biasa datang dari Ummahatul Muslimin, Aisyah. Saat ia diatanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW, ia menjawab bahwa akhlaknya adalah al-Qur’an. Hal ini menunjukkan betaba mulia akhlak Nabi Muhammad SAW hingga dianggap al-Qur’an berjalan.

Di samping itu, Nabi Muhammad SAW sendiri juga menginformasikan bahwa dirinya diutus tidak lain dan tidak bukan adalah untik menyempurnakan etika umat. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi).

Senada dengan akhlak mulia yang didakwahkan Nabi Muhammad SAW, Indonesia merupakan negara yang sejak awal sudah memiliki peradaban penuh dengan akhlak mulia. Bahkan hingga saat ini masih banyak yang mengakui bahwa nilai-nilai akhlak Islam ada di Indonesia. Etika berinteraksi dengan sesama, baik kepada keluarga atau masyarakat luas masih sangat kental di bumi Indonesia. Sopan santun masih terjaga baik.

Kendati demikian, media sosial merupakan tantangan tersendiri bagi umat akhir zaman. Dengan media sosial, semua akan dengan mudah menyebar, termasuk akhlak tidak pantas. Meski dalam kehidupan nyata warga Indonesia masih banyak yang mengutamakan akhlakul karimah, namun ternyata tidak dalam berinteraksi sosial dengan media. Media sosial banyak dibanjiri akhlak mazmumah yang mampu merugikan orang lain.

Media sosial Indonesia banyak yang mengandung unsur kekerasan, umpatan, fitnah, dan lain sebagainya. Banyak dari mereka menggunakan diksi yang jelas menyinggung perasaan orang lain namun tidak bisa dimejahijaukan. Selain itu juga ada akun palsu serta anonymous yang dengan gamblang membuat narasi tidak baik. Karena aparat sulit mengenali dan menemukan dirinya, maka mereka dengan sesuka hati mengisi konten media sosial dengan tanpa ada filter. Jangankan sopan santun, justru mereka dengan terang-terangan menabrak nilai-nilai moral ketimuran yang telah ditanamkan nenek moyang.

Kondisi ini menjadi permasalahan bersama yang mesti diselesaikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mengingat para pengguna aktif media sosial adalah generasi muda, maka keluarga merupakan salah satu tameng pertama agar anak-anak mampu menggunakan media sosial untuk kegiatan positif. Orang tua tidak sekadar memberikan pengarahan namun juga pemantauan terhadap anak-anaknya.

Sementara itu, pemerintah juga mesti bisa memanfaatkan seluruh kemampuan untuk bisa memerangi netizen media sosial yang meresahkan. Berikan pelajaran yang baik sehingga mereka tidak hanya memiliki efek jera karena beratnya hukuman namun juga pemahaman akan bahaya perbuatan yang dilakukan di media sosial. Para pelaku juga mesti mendapatkan pemahaman secara baik bahwa ada kegiatan lain yang mampu memberikan kontribusi positif kepada dirinya. Dengan begitu, mereka akan dengan senang hati meninggalkan etika negatif di media sosial.Wallahu a’lam.

Facebook Comments