Etos Kepahlawanan Sebagai Inspirasi Melawan Narasi Radikalisme dan Terorisme

Etos Kepahlawanan Sebagai Inspirasi Melawan Narasi Radikalisme dan Terorisme

- in Suara Kita
527
0
Etos Kepahlawanan Sebagai Inspirasi Melawan Narasi Radikalisme dan Terorisme

Setiap zaman niscaya melahirkan tantangannya sendiri. Dan, barang siapa berani berkorban menyumbang peran menaklukkan tantangan zaman ia berhak menyandang gelar pahlawan. Maka, deretan pahlawan yang kita kenal saat ini ialah orang-orang yang punya peran signifikan mengatasi tantangan pada zamannya. Tantangan itu berupa penjajahan (kolonialisme).

Kini, zaman telah berubah, demikian pula tantangannya pun juga berubah. Tantangan zaman sekarang bukan lagi kolonialisme atau penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya. Wujud tantangan di zaman sekarang ialah kian mengguritanya paham dan gerakan radikalisme-terorisme. Problem radikalisme dan terorisme menjadi tantangan nyaris semua negara di dunia. Hari ini, nyaris tidak ada negara yang tidak mengalami dampak buruk dari penyebaran ideologi radikal-terorisme.

Jika kolonialisme dilatari oleh kepentingan 3G yakni gold (kekayaan), glory (kekuasaan) dan gospel (keagamaan), maka radikalisme dan terorisme memiliki latar dan faktor yang lebih kompleks. Radikalisme dan terorisme dari sisi filosofis berakar dari ideologi kebencian dan kekerasan yang menganggap perubahan hanya bisa diraih melalui jalur konfrontasi (peperangan). Dari sisi psikologis dan sosiologis, radikalisme dan terorisme bermula dari situasi keterasingan yang dialami seseorang atau sekelompok orang karena tercerabut dari akar dan identitasnya.

Sedangkan dari sisi politis, radikalisme dan terorisme dilatari oleh motif politik Machiavellian, yakni corak politik yang menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kekerasan yang mengabaikan harkat kemanusiaan. Pakar kajian terorisme, Noorhaidi Hassan menyebut bahwa radikalisme dan terorisme pada dasarnya ialah gerakan politik yang dibangun di atas premis keagamaan. Jadi, memang harus diakui ada kelindan antara dimensi politik dan unsur agama dalam fenomena terorisme-radikalisme.

Dua Etos Kepahlawanan

Di tengah arus deras penetrasi paham dan gerakan radikalisme dan terorisme inilah kita membutuhkan etos kepahlawanan yang menginspirasi kita dalam menjaga NKRI. Etos kepahlawanan ialah sikap keteladanan yang telah dicontohkan oleh para pahlawan terdahulu dalam menghadapi tantangan zamannya, yakni kolonialisme. Ada setidaknya dua hal penting yang kiranya patut menjadi inspirasi generasi sekarang dalam meneladani para pahlawan. Pertama, para pahlawan di masa lalu tidak menoleransi apalagi berkompromi dengan kaum kolonial.

Seperti kita tahu, tidak semua masyarakat Nusantara kala itu anti-kolonialisme. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang menjadi kaki-tangan kaum kolonial dalam menindas rakyat Nusantara. Para pribumi pendukung kolonial inilah yang secara tidak langsung melanggengkan penjajahan hingga ratusan tahun. Namun, para pahlawan tersebut tidak mau berkompromi apalagi menjadi kaki-tangan penjajah. Sebaliknya, mereka mengangkat senjata untuk melawan.

Etos ini kiranya patut menjadi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi radikalisme dan terorisme. Kita, generasi sekarang, idealnya tidak menoleransi apalagi berkompromi dengan kaum radikal-teroris. Kita harus sepakat bahwa tidak ada ruang bagi radikalisme dan terorisme di negeri ini. Jika negara (pemerintah) diberikan kewenangan secara hukum untuk memberantas radikalisme dan terorisme, maka kita memiliki otoritas secara sosial-kultural untuk mencegah berkembangnya radikalisme dan terorisme.

Kedua, para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan tanpa motif kekuasaan apalagi perebutan jabatan dan iming-iming harta-benda. Mereka berjuang memerdekaan bangsa dilandasi oleh kesadaran kebangsaan (nasionalisme) yang kuat. Ini artinya, sikap anti-kolonialisme mereka tidak dilandasi oleh sentimen anti-Barat atau anti-nonmuslim, melainkan semata keyakinan bahwa penjajahan ialah bertentangan dengan kemanusiaan.

Para tokoh kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, M. Natsir, Tan Malaka, Mohammad Roem dan banyak lainnya ialah tokoh-tokoh kemerdekaan RI yang justru sangat adaptif pada pemikiran dan budaya Barat. Sebagian dari mereka pernah mengecap pendidikan di Barat, belajar dari filsafat dan sosiologi Barat sehingga muncul kesadaran kebangsaan. Perlawanan mereka pada kolonialisme bukanlah bentuk sikap anti pada bangsa kulit putih (Eropa), melainkan pada praktik penindasan manusia.

Keteladanan itu kiranya bisa menginspirasi kita dalam melawan narasi radikalisme dan terorisme. Melawan radikalisme dan terorisme bukanlah wujud dari sikap islamophobia atau sikap anti-pada agama tertentu. Melawan radikalisme dan terorisme idealnya dilandasi oleh spirit humanisme, yakni keyakinan bahwa tidak ada tindakan kejahatan kemanusiaan yang boleh ditoleransi apalagi dibiarkan. Melawan narasi radikalisme-terorisme ialah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi esensi agama (Islam) itu sendiri.

Memperingati Hari Pahlawan ialah bagian dari ikhtiar merawat memori kolektif bangsa akan sejarah para pahlawan yang telah berjasa bagi Republik Indonesia. Selain itu, peringatan Hari Pahlawan juga bertujuan untuk menggali lebih dalam etos kepahlawanan yang kiranya relevan diterapkan untuk mengatasi tantangan zaman sekarang. Etos kepahlawanan ialah modal sosial sekaligus kultural yang sangat penting bagi generasi sekarang untuk melawan narasi radikalisme dan terorisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Facebook Comments