Fakta Sejarah Politisasi Agama yang Berujung Kesengsaraan

Fakta Sejarah Politisasi Agama yang Berujung Kesengsaraan

- in Suara Kita
194
0
Fakta Sejarah Politisasi Agama yang Berujung Kesengsaraan

Pada tanggal 9 April 2013, tepatnya di negara Timur Tengah, ada segerombolan “oknum” yang menamakan dirinya sebagai penegak khilafah atau negara Islam (Islamic State Irak and Suriah ISIS). Dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Mereka menamakan “jihad berperang di jalan-Nya”. Melakukan kejahatan-kejahatan, melakukan pembantaian dan merusak tatanan. Kebenaran-Nya digunakan untuk merebut kekuasaan. Nama kebesaran-Nya digunakan untuk menghilang-kan nyawa-nyawa yang tidak berdosa itu.

Fakta sejarah yang semacam ini, merupakan satu bukti penting, perihal politisasi agama yang berujung kesengsaraan. Kenapa saya sebut kesengsaraan? Karena memang pada kenyataannya, negara Timur Tengah khususnya di Irak dan Suriah itu berkecamuk dalam konflik, teror dan peperangan yang tidak ada hentinya. Anak-anak tidak bisa sekolah dengan tenang karena trauma dan diselimuti rasa ketakutan. Bangunan-bangunan roboh dan mayat-mayat setiap hari terus tergeletak.

Mungkin, sebagian orang yang datang ke negara ISIS tersebut, misalnya warga Indonesia. Tentu merasa “tertarik” dan berasa terpanggil ketika ada semacam narasi jihad fisabilillah dan janji-janji untuk menjalani kehidupan yang sejahtera dan mapan. Hingga, ketika berangkat, justru tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebab, mereka dipegangi senjata dan diperintahkan untuk membunuh dan menzhalimi orang-orang yang tidak bersalah lalu semua tindakan itu dibenarkan atas dasar ajaran-Nya.     

Politisasi Agama di Negara ISIS yang “Mewabah” di Negeri Ini

Semua peristiwa di atas merupakan satu (fakta sejarah) politisasi agama di negara lain, yang masih menyisakan “dampak buruk” bagi Indonesia sampai detik ini. Karena, fakta di atas layaknya “virus yang menular”. Karena, di negeri ini begitu banyak gerakan-gerakan yang bermunculan sebagai “gerakan cabang” yang menamakan dirinya sebagai penegak khilafah atau negara Islam. Melakukan bom bunuh diri, bertindak radikal, merusak rumah ibadah dan selalu menebarkan pemahaman yang memusuhi mereka yang berbeda keyakinan.

Politisasi Agama itu Bukan Ajaran Agama

Jangan kita pahami, mereka yang bertindak zhalim, merusak tatanan dan ingin menegakkan negara berbasis syariat itu, sebagai ajaran agama. Meskipun, mereka menawarkan berbagai macam ayat, berbagai dalil atau berbagai ungkapan yang mengarah kepada “pembenar” dari tindakan yang sejatinya tidak dibenarkan dalam agama sendiri.

Mengapa seperti itu? Karena ini konteksnya adalah politisasi agama. Sebagaimana yang saya sebutkan di awal. Bahwa. Fakta-fakta negara timur tengah yang pernah dikuasai oleh kelompok ISIS, mereka bukan bertindak atas dasar agama. Tetapi bertindak atas dasar kepentingan dan kemauannya yang dibumbui dengan agama. Karena agama tidak pernah membenarkan tindakan mereka.

Jadi, kenyataan yang ada di negara ISIS yang saya sebutkan di atas itu merupakan fakta sejarah politisasi agama yang berujung pada penderitaan. Pun, fakta tersebut menjadi semacam “virus yang menular” bagi bangsa ini. Karena, maraknya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan dirinya sebagai penegak syariat Islam dan penegak khilafah yang harus ditegakkan di negeri yang kita cintai.

Sebagaimana yang kita lihat, maraknya gerakan perusakan rumah ibadah milik kelompok lain, melakukan bom bunuh diri dan terus membawa paham ideologis yang meniscayakan permusuhan di tengah kemajemukan. Lantas, mengapa masih banyak yang mudah ikut terhadap komplotan ini? tentu ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran perihal fakta di atas itu sebagai bentuk dari politisasi agama.

Karena, orang-orang yang bergabung dan masuk ke dalam komplotan para oknum yang mempolitisasi agama ini dianggap membawa basis ajaran agama yang benar. Padahal, itu hanyalah menjadikan agama sebagai alat. Membenarkan tindakan yang zhalim lalu dibungkus oleh agama.            

Maka di sinilah pentingnya bagi kita untuk sadar. Bahwa, politisasi agama itu adalah memperalat kebenaran agama untuk bertindak yang demikian. Padahal, agama tidak membenarkan tindakan zhalim dan ber-orientasi merebut kekuasaan. Sebagaimana yang saya sebutkan di awal, bahwa politisasi agama akan berujung pada kesengsaraan yang harus kita hindari.

Facebook Comments