Fanantisme Agama dan Ancaman Segregasi Ruang Publik

Fanantisme Agama dan Ancaman Segregasi Ruang Publik

- in Suara Kita
1123
0
Fanantisme Agama dan Ancaman Segregasi Ruang Publik

“Tugas pertama filsuf di dunia dewasa ini adalah berjuang melawan fanatisme dalam samaran apapun ia tampak”

(Gabriel Marcel, 1951)

Ungkapan Gabriel Marcel di atas menunjukkan betapa bahayanya fanatisme. Bahkan sampai-sampai, Marcel menyebut bahwa tugas utama filosof ialah melawan fanatisme. Di dalam kamus Longman Dictionary of Contemporary English, fanatisme berarti kepercayaan agama atau politik ekstrim. Dalam konteks kehidupan beragama, fanatisme berarti memegang teguh keimanan dan menjalankan peribadatan secara berlebihan, sehingga kerapkali menimbulkan sikap arogan, intoleran bahkan kekerasan terhadap liyan.

Dalam pandangan Karlina Supelli, fanatisme kerap muncul dari pandangan keagamaan yang dogmatis. Yakni memahami agama semata sebagai sebuah doktrin yang kaku dan tertutup. Pola pikir dogmatis itulah yang menjadi akar di balik segala fenomena kekerasan dan brutalitas atas nama agama. Sedangkan menurut Haryatmoko, ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan rasa fanatisme agama.

Pertama, memposisikan agama bukan sebagai sumber ajaran moral dan etika, namun lebih sebagai sebuah ideologi. Kedua, bersikap standar ganda (double-standart) terhadap sesuatu. Misalnya, jika kelompok lain berbuat salah maka akan disikapi secara reaktif, namun jika kelompok sendiri melakukan kesalahan akan bersikap permisif. Ketiga, klaim narsistik yakni bahwa hanya diri dan kelompoknya saja yang memiliki andil besar dalam kehidupan sosial.

Nikolai Berdyaev, filsuf Rusia, menunjukkan bahwa pada fanatisme ada beberapa karakteristik. Pertama, egosentrisme yakni pengagungan pada ego alias kepentingan pribadi. Hal ini membuat orang terpusat pada dirinya sendiri sehingga tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada sesama dan berelasi dengan masyarakat. Kedua, obsesisme pada satu ide atau gagasan sehingga menutup diri dari pemikiran lainnya.  Sikap obsesif pada satu gagasan mendorong orang membela gagasan itu bahkan dengan cara apa pun, termasuk kekerasan.

Fanatisme pada akhirnya akan melahirkan segregasi sosial di ruang publik. Segregasi sosial di ruang publik ialah fenomena Ketika sebuah komunitas masyarakat yang hidup bersama dalam satu wilayah cenderung hidup terpisah-pisah dan terisolasi oleh perbedaan suku, agama, ras atau identitas lainnya. Segregasi sosial ini jika terus dibiarkan akan melahirkan perpecahan, bahkan tidak jarang berakhir pada konflik sosial.

Hal ini dimungkinkan terjadi lantaran setiap individu atau kelompok akan hidup dalam cangkang pemikirannya masing-masing tanpa merasa perlu untuk saling berinteraksi dengan kelompok lain. Segregasi sosial di ruang publik merupakan persoalan serius apalagi dalam konteks negara yang plural seperti Indonesia. Di dalam relasi sosial-keberagamaan yang segregatif, beragam api konflik horisontal berlatar kesukuan maupun keagamaan akan mudah berkobar.

Untuk itulah, kita perlu mnghindari fanatisme beragama. Setidaknya ada tiga cara dalam mencegah fanatisme keagamaan. Pertama, ialah menguatkan literasi keberagamaan. Yakni kemampuan untuk memahami ajaran agama dan menghubungkannya dengan realitas sosial, politik dan budaya dimana agama itu hidup dan berkembang. Selama ini, harus diakui bahw fanatisme keagamaan menguat karena umat beragama cenderung mencerabut agama dari konteks sosial, politik dan budaya yang melingkupinya.

Kedua ialah membangun kemandirian pikiran, yakni kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih dan mandiri. Orang yang bebas dari fanatisme, akan mampu menggunakan logikanya untuk mempertimbangkan fakta dan realita, serta menarik kesimpulan yang masuk akal. Kemandirian berpikir merupakan pondasi awal dari toleransi. Seseorang dengan pemikiran yang bebas dan independen, bisa melihat kebaikan dari sisi yang berbeda-beda. Hanya dengan kemerdekaan berpikir, kita bisa melihat berbagai hal dengan lebih jernih. Hanya dengan kemerdekaan berpikir, kita bisa hidup tanpa prasangka, kecurigaan dan kebencian.

Ketiga, mentradisikan perjumpaan-perjumpaan antar-entitas agama yang berbeda dalam ruang publik yang egaliter, terbuka dan demokratis. Diakui atau tidak, nalar fanatisme beragama selama ini tumbuh subur karena ruang publik beragama itu cenderung diokupasi oleh kelompok arus-utama atawa mayoritas. Akibatnya, kaum minoritas terdeskreditkan dan termarjinalisasikan hak-haknya.

Facebook Comments