Fanatisme Akan Mempersempit Kerahmatan Agama yang Begitu Luas!

Fanatisme Akan Mempersempit Kerahmatan Agama yang Begitu Luas!

- in Suara Kita
1095
0
Fanatisme Akan Mempersempit Kerahmatan Agama yang Begitu Luas!

Di dalam kenyataan sosial, fanatisme beragama itu selalu condong mempersempit kerahmatan agama yang begitu kompleks dan luas. Sebab, agama yang seharusnya membawa rahmat terhadap sesama, cinta kasih, kedamaian, keselamatan dan kenyamanan satu sama lain. Dia dipersempit dan tertutupi dengan “obsesi diri” terhadap entitas agama yang diekspresikan secara buta, eksklusif dan tidak mau menerima kebenaran yang objektif.

Dari sinilah, kenapa sikap fanatisme memiliki potensi besar untuk menjadi radikalisme. Karena, secara orientasi, orang yang condong ke arah fanatisme, mengalami semacam “gangguan disosiatif” seseorang dalam beragama. Bagaimana, semua pikiran, tindakan dan ingatannya, akan selalu terarah ke dalam satu objek saja yang akan mengingkari dan tidak mau menerima kebenaran-kebenaran objek lain.

Misalnya, orang yang fanatik dalam beragama, contohnya di dalam Islam, dia lebih tekstual memahami ayat Al-Qur’an. Dia akan “menutup telinga” akan kebenaran Al-Qur’an tentang kemanusiaan, perdamaian dan persaudaraan. Karena, kondisi seseorang yang fanatik itu, dia tidak lagi mau mendengarkan penjelasan yang semacam itu. Dia akan selalu meyakini arti tekstual ketika berkaitan dengan apa yang dia obsesikan. Mereka akan jauh lebih sulit menerima kebenaran-kebenaran yang sejatinya meniscayakan peran agama yang lebih membawa rahmat misalnya.

Sehingga, tindakannya selalu monoton terhadap apa yang dia obesesikan, apa yang dia mau, apa yang dia pahami dan apa yang dia senangi saja. Sehingga, ada begitu banyak tindakan perusakan rumah ibadah, sikap intolerant, bom bunuh diri dan tindakan anarkis lainnya. Karena hal ini didasari oleh sikap fanatisme beragama yang selalu memaksakan kehendak atas obsesi diri untuk melakukan tindakan demikian.

Padahal, ada begitu banyak ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya bersaudara, bersikap tolerant, bersikap adil, saling berbuat baik, jangan merusak rumah ibadah dan jangan berbuat kezhaliman. Semua ayat itu seakan tidak perlu didengarkan. Dia akan buta terhadap apa yang diobsesikan dan apa yang dia inginkan saja. Sebab, orang yang fanatik dalam beragama, selalu meniscayakan pemahaman agama yang berdasarkan apa yang dia sukai saja.

Jadi di sinilah letak kesalahan seseorang yang fanatik dalam agama. Dia akan mempersempit kerahmatan agama yang begitu luas. Karena, tertutupi dengan egoisme, ketertarikan buta terhadap satu pemahaman dan hasrat diri terhadap agama yang hanya menyesuaikan selera dirinya sendiri. Sehingga, orang yang fanatik, selalu meniscayakan peran agama yang sangat sempit, kaku dan “cacat nilai”.

Sebab, fanatisme itu bukan ketertarikan yang sifatnya ingin mengetahui lebih dalam tentang agama. Tetapi, dia hanya bersifat ketertarikan terhadap sesuatu dalam agama secara “buta” dan sempit. Dia hanya mengoptimalkan “obsesi diri” yang secara orientasi, selalu mempersempit peran agama yang sejatinya selalu mengandung nilai-nilai yang membawa rahmat bagi tatanan sosial yang lebih damai, aman dan nyaman.

Jadi, penulis sangat menolak jika ada orang yang fanatik di dalam beragama, contoh dalam Islam misalnya. Lalu, membangun “klaim eksklusif” dan ngotot bahwa agama-Nya itu hanya untuk kaum Islam saja. Sedangkan yang lain dianggap musuh, kafir, sesat dan perlu dihanguskan.            

Padahal, Islam sebagai basis agama memiliki prinsip yang membawa rahmat. “Inna arsalnaka rahmatan lil alamin”. Bahwa, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu, sejatinya memiliki peran nilai yang akan membawa rahmat, cinta kasih, perdamaian, kenyamanan dan persaudaraan yang memanusiakan satu sama lainnya. Karena, dengan sikap fanatisme beragama itulah, dia akan mempersempit agama yang membawa rahmat yang sangat luas itu.

Facebook Comments