Fenomena Khilafatul Muslimin dan Problem Kegandrungan Umat pada Ideologi Utopis

Fenomena Khilafatul Muslimin dan Problem Kegandrungan Umat pada Ideologi Utopis

- in Suara Kita
215
0
Fenomena Khilafatul Muslimin dan Problem Kegandrungan Umat pada Ideologi Utopis

Beberapa hari terakhir, media sosial heboh oleh video pawai simpatisan khilafah yang terjadi di sejumlah tempat. Mulai dari Brebes, Tegal, Jawa Barat, hingga Jakarta. Ada kesamaan dalam peristiwa tersebut. Yakni penampakan bendera tauhid, poster bertuliskan “khilafah solusi semua problema umat”, “sambut kebangkitan khilafah islamiyyah” dan sebagainya, serta selebaran berisi propaganda khilafah. Pawai simpatisan khilafah di sejumlah tempat itu digawangi oleh satu organisasi, yakni Khilafatul Muslimin.

Jika dilihat, pawai khilafah di sejumlah daerah itu bukan kebetulan. Tampaknya, ada semacam skenario untuk mengangkat kembali isu khilafah ke ruang publik. Selama dua tahun pandemi, isu khilafah memang cenderung tiarap. Terlebih, di masa PSBB dan PPKM, aktivitas kolektif di ruang publik dilarang. Hal itu sedikit banyak cukup membatasi kampanye khilafah.

Ketika pandemi mereda dan pembatasan sosial dilonggarkan, kampanye khilafah kembali mencuat. Salah satunya melalui pawai yang terjadi di sejumlah daerah. Jika diurut ke belakang, pembubaran HTI di 2017 dan pelarangan FPI di 2019 nyatanya tidak menghapus propaganda khilafah di Indonesia. FPI berulang kali berganti rupa. Sedangkan eks-HTI menyusup ke sejumlah lembaga, seperti MUI, NU, hingga Muhammadiyah. Sebagian lainnya bereinkarnasi dengan membentuk lembaga baru.

Waspada Propaganda Khilafahisme

Kini, muncul organisasi Khilafatul Muslimin yang mengklaim di balik aksi-aksi pawai khilafah. Organisasi ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru, lantaran sudah ada sejak tahun 1997. Pendirinya bernama Abdul Qadir Ahmad Albaraja. Ia merupakan mantan anggota NII dan memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan radikal-teror di Indonesia. Ia dua kali dipenjara atas perbuatan teror dan kekerasan atas nama agama. Khilafatul Muslimin memiliki visi yang sama dengan organisasi radikal-teroris seperti HTI, JI, MMI, JAT, JAD, atau pun ISIS. Yakni mendirikan negara khilafah di Indonesia.   

Formula propaganda yang dipakai pun sama. Mereka menjajakan khilafah dengan klaim bahwa ideologi tersebut merupakan solusi sapu jagad bagi seluruh persoalan. Baik persoalan sosial, politik, agama, hukum, dan sebagainya. Ada persoalan ekonomi, solusinya khillafah. Konflik politik, solusinya khilafah. Bahkan, bencana alam sekalipun solusinya ialah khilafah. Model propaganda yang demikian ini ironisnya cukup efektif dalam menggaet simpatisan. Terutama di kalangan umat Islam yang minim literasi sejarah namun memiliki ghiroh tinggi untuk menegakkan kejayaan agama.

Di sebagian umat Islam, harus diakui bahwa masih ada semacam kegandrungan pada ideologi utopis yang mengklaim bisa menyelesaikan seluruh persoalan kebangsaan. Akibatnya, gerakan khilafah yang menjanjikan solusi instan pun banyak menuai simpati dan dukungan. Fakta ini menjelaskan mengapa kampanye khilafah di ruang publik tetap marak meski ormas-ormas eksponennya diberagus oleh pemerintah. Di titik ini, kita patut menyadari bahwa perang melawan ideologi khilafah tidak selesai hanya dengan membubarkan ormas pendukungnya.

Perang Melawan Ideologi Khilafah

Perang melawan ideologi membutuhkan strategi jangka panjang. Di satu sisi, negara harus hadir dengan pendekatan regulasi dan hukumnya untuk menindak siapa pun yang mengampanyekan khilafah di ruang publik. Di titik ini, kita patut mengapresiasi langkah sigap aparat keamanan yang memburu para pelaku pawai khilafah di sejumlah daerah. Namun, di saat yang sama kita juga tidak boleh lelah dalam mengedukasi umat Islam dengan membangun literasi sejarah dan keagamaan yang kuat. Tujuannya agar umat tidak mudah kepincut dengan ideologi utopis yang menjanjikan solusi instan bagi seluruh persoalan. Dalam konteks inilah penting kiranya bagi para ulama, kiai, ustad, atau intelektual muslim berhaluan moderat untuk bersama-sama membantah klaim bahwa khilafah ialah solusi seluruh problematikan umat Islam.

Umat Islam harus memiliki pengetahuan dan kesadaran bahwa khilafah hanyalah salah satu fragmen dari sejarah politik umat Islam yang sangat panjang. Khilafah bukanlah sistem paripurna apalagi sempurna nir-cela. Di dalam sistem khilafah, juga terdapat cacat dan cela, mulai dari korupsi, nepotisme, sampai perebutan kekuasaan yang menimbulkan konflik berdarah. Fragmen sejarah khilafah yang buram itu kiranya juga tidak boleh ditutup-tutupi dari pengetahuan umat. Jangan sampai, umat Islam bersikap naif dengan menganggap khilafah sebagai sistem politik yang paling benar dan mampu mengatasi segala persoalan keumatan dan keislaman.

Tidak kalah penting dari itu ialah bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil bersinergi untuk menguatkan prinsip dan nilai Pancasila di tengah umat Islam. Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni ini kiranya bisa menjadi momentum untuk mengembalikan memori kolektif bangsa akan konsensus para pendiri bangsa ihwal filosofi dan dasar negara. Sejak awal berdirinya republik ini, para pendiri bangsa telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Keputusan itu bersifat final dan mengikat sampai kapan pun. Artinya, tidak ada celah apalagi tawar-menawar bagi ideologi asing, termasuk khilafah.

Facebook Comments