Fenomena NII Dan Daur Ulang Ideologi Makar Mengatasnamakan Agama

Fenomena NII Dan Daur Ulang Ideologi Makar Mengatasnamakan Agama

- in Suara Kita
491
0
Fenomena NII Dan Daur Ulang Ideologi Makar Mengatasnamakan Agama

Gerakan NII (Negara Nasional Indonesia) belum mati; mereka tetap ada bahkan berlibat ganda. Terbukti, beberapa hari lalu terkuak adanya 59 warga Kota Garut yang dibaiat NII. Ironisnya, mayoritasnya ialah remaja dan anak muda. Anak muda dan remaja merupakan kelompok paling rentan terpapar ideologi kebencian, radikal dan makar sebagaimana dijajakan oleh NII. Masa remaja dan muda ialah fase ketika manusia mengalami pergulatan batin ihwal eksistensi diri. Di tengah fase yang terbilang kritis inilah, remaja dan kaum muda menjadi rentan terpapar ideologi makar.

Di sisi lain, remaja dan kaum muda memang ditarget oleh jaringan kelompok radikal, seperti NII. Dalam catatan peneliti radikalisme, Ridwan Habib, ada sekitar 5000 anak muda terpapar ideologi NII selama kurun waktu 20 tahun terakhir. Modus rekrutmennya terbilang sama, yakni melalui pendekatan personal (fardliyah) dimana target didekati secara personal melalui kegiatannya, minatnya sampai hobinya.

Dibaiatnya 59 warga Garut oleh NII ialah bukti bahwa organisasi tersebut masih eksis walau bergerak di bawah tanah. Mereka menjadikan forum-forum keagamaan sebagai ajang mendoktrinkan ideologi kebencian dan makar terhadap pemerintah. Mula pertama mereka mengajak umat untuk berpikir secara kaku, hitam putih dan literalistik. Salah-benar, halal-haram, kafir-mukmin diputuskan semata dari penafsiran dalil agama secara tekstual-literal. Langkah selanjutnya, menanamkan kebencian pada NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan pemerintahan yang sah. Terakhir, jika umat telah tersihir oleh retorikanya, maka ajakan makar dan memberontak itu akan bergulir dengan sendirinya.

Puncak Gunung Es Fenomena Makar Atasnama Agama

NII sebenarnya hanyalah puncak dari gunung es gerakan makar mengatasnamakan agama. Jika ditelusuri, sebenarnya banyak gerakan serupa dengan kemasan berbeda namun isi sama. Mulai dari gerakan Jamaah Islamiyyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharud Daulah (JAD) dan organisasi sejenisnya. Meski beda wajah, pada dasarnya mereka mengusung agenda yang sama, yakni meruntuhkan pemerintahan yang sah dan mengganti NKRI dengan negara islam (darul islam). Maka, bisa dibilang agenda makar terhadap pemerintahan yang sah ini didaur ulang sepanjang waktu oleh kelompok-kelompok anti-NKRI.

Harus diakui bahwa tidak ada negara atau pemerintahan yang sempurna. Termasuk juga NKRI. Sebagai konsep bernegara, NKRI tentu tidak atau belum sempurna. Namun, sebagai bentuk negara, NKRI sudah final alias tidak bisa diubah lagi. NKRI merupakan socio-political consensus (kesepakatan sosio-politik) di antara para pendiri bangsa. Mengkritik NKRI dari sisi sosial maupun politik tentu dimungkinkan dalam konteks sistem demokrasi. Namun, mengagendakan gerakan makar untuk merobohkan NKRI tentu tidak dapat dibenarkan.

Memutus Matarantai Ideologi Makar

Islam, khususnya Ahlussunnah wal Jamaah sangat tidak membolehkan pemberontakan terhadap penguasa yang sah, selama pemimpin itu tidak mengarah pada kemusyrikan atau kekufuran. Hal ini didasarkan pada hadist yang berbunyi, “Rasulullah memanggil kami, lalu kami membai’at beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami adalah, agar kami selalu mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam keadaan suka maupun tidak suka dalam kesulitan atau pun kemudahan, bahkan dalam keadaan penguasa mengurus kepentingannya mengalahkan kepentingan kami sekalipun (tetap wajib taat). Dan tidak boleh kami mempersoalkan suatu perkara yang berada di tangan ahlinya (penguasa). Selanjutnya beliau bersabda: ‘Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan kalian memiliki bukti yang nyata dari Allah dalam hal itu”.

Hanya ada satu faksi dalam Islam yang membolehkan pemberontakan atau makar yakni golongan Khawarij. Kelompok inilah yang menjadi cikal-bakal munculnya ideologi kebencian dan kekerasan dalam tubuh Islam. Dalam sejarah, Khawarij ialah kelompok pertama yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyingkirkan lawan politiknya dan mewujudkan ambisinya pada kekuasaan. Nalar kebencian dan pemberontakan ala Khawarij inilah yang terus-menerus didaur-ulang dengan berbagai modifikasi oleh kelompok-kelompok garis keras dalam tubuh Islam, termasuk NII.

Memutus matarantai daur ulang ideologi makar di dalam tubuh Islam hanya bisa dilakukan dengan mengamputasi cara pandang ala Khawarij yang selalu menganggap kelompok yang berbeda sebagai kafir dan layak dimusuhi. Dalam konteks kasus NII yang belakangan tengah marak diperbincangkan, kita perlu membangun kesadaran bahwa tidak ada hal yang perlu dipersoalkan apalagi dipertentangkan menyangkut Pancasila-NKRI di satu sisi dan ajaran Islam di sisi lain.

Arkian, Menjadi muslim di Indonesia ialah mengafirmasi seluruh prinsip politik dan bernegara, termasuk setuju dengan NKRI dan Pancasila. Sikap setia pada NKRI dah patuh pada Pancasila bukanlah pendangkalan akidah, mengingat Pancasila dan NKRI lahir dari rahim keislaman dan keindonesiaan.

Facebook Comments